Amrozi, cs Telah Dieksekusi Mati
Harian Pagi Online mengabarkan Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera telah dieksekusi mati pada jam 12.15 semalam di Nusakambangan. Amrozi akan dimakamkan di TPU desa Lopanggede, Serang, Banten.
Gus Dur Meragukan Amrozi, cs Telah Dieksekusi
Jakarta, KOMENTAR
Meski foto wajah Amrozi cs berkafan sudah beredar, Gus Dur masih meragukan trio Bali bomber itu sudah dieksekusi. Mantan presiden ini bahkan menduga bisa saja jasad orang lain, namun bukan Amrozi, Mukhlas maupun Imam Samudera.
“Saya itu malah bertanya dalam hati, apa betul Amrozi itu dihukum tembak. Jangan-jangan nggak,” ujar Gus Dur di Jakarta, kemarin.
Jadi jasad siapa itu? “Alah, banyak, baru mayat,” cetus Gus Dur. Dia sendiri mengatakan, jawaban atas kecurigaannya akan ditentukan waktu nantinya. “Ya dibiarin aja. Nanti mereka juga akan muncul sendiri pada waktunya,” imbuhnya. Hal itu, lanjut dia, terjadi karena pemerintahan Indonesia penakut.
Jika Am-rozi cs sampai benar-benar ditembak, dikhawatirkan kelompok keras akan mengamuk nantinya.
Foto wajah Amrozi cs berkafan akan memunculkan radikalisme baru? “Tidak. Ganti pemerintah nanti, orang seperti Amrozi segera dihukum mati, begitu juga dengan Habib Rizieq,” ujarnya merujuk pada Ketua FPI Kenapa Rizieq? “Karena dia melanggar UU terus menerus. Orang yang bawa senjata tajam terhunus di muka umum ya melanggar UU, dan harus ditangkap,” tandas Gus Dur.(wsp)
Kontroversi Surat Wasiat Imam Samudera
Serang, KOMENTAR
Keluarga membagi-bagikan surat wasiat Imam Samudra kepada warga dan wartawan yang berada di sekitar kediaman Ibunda Imam di Kampung Lopang Gede, Kelurahan Lopang, Kecamatan Serang, Banten. Dalam surat tersebut, Imam menyerukan untuk terus berperang melawan kaum kafir. Surat tersebut berbentuk seca-rik kertas berukuran HVS yang
dibagi-bagikan oleh salah seorang pria pada Minggu (09/11). Berikut surat wasiat Imam Samudera tersebut.
“Saudara, aku wasiatkan kepada antum dan seluruh umat Islam yang telah mengazzamkan dirinya kepada jihad dan mati syahid untuk terus berjihad dan bertempur melawan setan akbar, Amerika dan Yahudi laknat. Saudaraku, jagalah selalu amalan wajib dan sunnah harian antum semua. Sebab dengan itulah kita berjihad dan sebab itulah kita mendapat rizki mati syahid. Janganlah anggap remeh amalan sunnah akhi, sebab itulah yang akan menyelamatkan kita semua dari bahaya futur dan malas hati.
Saudaraku, jagalah salat malammu kepada Allah Azza Wajalla. Selalulah isi malam-malammu sujud kepada-Nya dan pasrahkan diri antum semua sepenuhnya kepada kekuasaannya. Ingatlah saudaraku, tiada kemenangan melainkan dari Allah semata.
Kepada antum semua yang telah mengikrarkan dirinya untuk bertempur habis-habisan melawan anjing-anjing kekafiran, ingatlah perang belum usai. Janganlah takut cercaan orang-orang yang suka mencela, sebab Allah di belakang kita. Janganlah kalian bedakan antara sipil kafir dengan tentara kafir, sebab yang ada dalam Islam hanyalah dua, adalah Islam atau kafir.
Saudaraku, jadilah hidup antum penuh dengan pembunuhan terhadap orang-orang kafir. Bukanlah Allah telah memerintahkan kita untuk membunuh mereka semuanya, sebagaimana mereka telah membunuh kita dan saudara kita semuanya. Bercita-citalah menjadi penjagal orang-orang kafir. Didiklah anak cucu antum semua menjadi penjagal dan teroris bagi seluruh orang-orang kafir. Sungguh saudaraku, predikat itu lebih baik bagi kita dari pada predikat se-orang muslim, tetapi tidak peduli dengan darah saudaranya yang dibantai oleh kafirin laknat. Sungguh gelar teroris itu lebih mulia dari pada gelar ulama. Namun mereka justru menjadi penjaga benteng kekafiran.”
MUI
Menanggapi surat yang ditulis Imam Samudera, MUI angkat bicara. Menurut MUI, teroris tidak bisa dibandingkan dengan ulama. “Semua bebas bicara. Teroris itu tidak mungkin bisa dibandingkan dengan ulama,” ujar Ketua MUI Umar Shihab, Minggu, (09/11). Menurut Umar, tidak ada perbandingan antara ulama dengan teroris. Tidak ada dasarnya dalam Al Qur’an yang menyatakan hal itu. Teroris dan ulama itu ibaratnya air dengan api yang tidak bisa disejajarkan. “Mana bisa membandingkan air dan api? Boleh saja mereka berkata seperti. Itu kebebasan. Tidak ada dasarnya dalam Al Qur’an,” jelasnya seraya menambahkan, Amrozi juga tidak mati syahid. “(Amrozi cs) Mati syahid tidak mungkin. Itulah orang yang membunuh tidak mungkin dikatakan syahid kecuali perang,” ujar Shihab.
Umar mengingatkan, defenisi syuhada adalah orang-orang yang berjuang karena Allah SWT dan untuk kepentingan agama. Kalau bukan untuk kepentingan agama bukan mati syahid. “Syahid dunia dan akhirat,” jelasnya. Menurut Umar, kalau dalam kondisi damai lalu membunuh, hal itu tidak dibenarkan. Tidak ada dalam agama apa pun yang membenarkan membunuh siapapun. “Saya kira tidak benar (membunuh). Kita tidak dalam perang. Kita dalam keadaan damai dan apa yang dilakukan mereka (mem-bom Bali) ada orang Islam yang terbunuh,” ujarnya.(dtc/*)
Kronologi Eksekusi Amrozi Cs Versi Kejagung
Pukul 23.15 WIB (Sabtu 8 Desember)
Petugas jaksa eksekutor menjemput ketiga terpidana mati untuk dibawa ke lembah Lebay yang berjarak dua kilometer dari Lapas Batu Nusakambangan.
Pukul 00.00 WIB
Ketiga terpidana mati siap dieksekusi dengan didampingi oleh jaksa sebagai eksekutor, satuan Brimob, rohaniawan serta dokter.
Pukul 00.15 WIB (Minggu 9 Desember)
Eksekusi terhadap ketiga pelaku Bom Bali dilaksanakan.
Pukul 01.00 WIB
Jenazah dibawa ke poliklinik LP Nusakambangan untuk diotopsi dan dijahit bagian yang ditembak. Kemudian jenazah dimandikan oleh pihak keluarga dan dikafani juga oleh keluarga terpidana mati. Kain kafannya pun adalah kain kafan yang disediakan oleh pihak keluarga.
Pukul 04.00 WIB
Jenazah disalati di Masjid LP Nusakambangan.
Pukul 05.45 WIB
Serah terima jenazah dari petugas Kejaksaan kepada pilot yang membawa jenazah yang kemudian diserahkan ke pihak keuarga.
Pukul 06.00 WIB
Tiga helikopter diberangkatkan dari Nusakambangan. Satu heli membawa jenazah Abdul Azis alias Imam Samudera yang akan diberangkatkan ke Serang, Banten. Dua heli menuju Lamongan. Satu heli membawa jenazah Amrozi dan Ali Gufron alias Mukhlas dan satu lagi membawa keluarganya.
Pukul 08.30 WIB
Helikopter yang membawa Imam Samudera mendarat di Serang dan diserahterimakan kepada keluarga dalam hal ini diwakili oleh Agus. Lalu jenazah disalati dan dimakamkan.
Pukul 08.55 WIB
Jenazah Amrozi dan Mukhlas mendarat di kampung halamannya di Lamongan, Jawa Timur.(**)
Sembilan Ulama Akan Dampingi Eksekusi Amrozi Cs.
Cilacap (tvOne)
Sembilan ulama Cilacap telah disiapkan untuk menjadi rohaniwan guna mendampingi tiga terpidana mati Bom Bali I, Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra saat menjalani eksekusi.
“Saat ini telah ada sembilan ulama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cilacap yang telah dihubungi kejaksaan beberapa hari lalu. Biasanya hanya satu ulama yang akan dipilih dalam waktu yang mepet dengan pelaksanaan eksekusi,” kata salah seorang ulama pendamping H Sahlan Nasir dari MUI Cilacap, Selasa.
Delapan ulama lainnya adalah KH Hasan A Makarim, H Munasim, H Amir Fattah, H Haryadi, H Askan, H Hisam Mukti, Ustad Afrizal dan H Parlan.
Menurut Sahlan, kesembilan ulama termasuk dirinya adalah anggota tim pembinaan rohani Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan.
Sementara itu Ketua Umum MUI Kabupaten Cilacap KH Dzul Bashor mengaku belum menerima surat penunjukan sebagai rohaniwan pendamping oleh kejaksaan, namun dia menyatakan MUI siap menjalankan tugas sebagai rohaniwan pendamping.
“Kita siap mendampingi mereka sebagai rohaniwan pendamping karena merupakan tugas negara,” katanya.
Ancaman Bom Tidak Ada Hubungan Dengan Amrozi
JAKARTA – Okezone.com – Polda Metro Jaya memastikan ancaman bom yang terjadia di Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Australia Selasa pagi, tidak ada hubungannya dengan jelang eksekusi Amrozi cs.
Hal ini diungkapkan Kepala Biro Operasional Polda Metro Jaya Kombes Budi Winarso saat dihubungi wartawan di Jakarta, Selasa (4/11/2008).
“Itu hanya perbuatan orang iseng saja, dan tidak ada hubungannya dengan eksekusi Amrozi cs,” kata Budi.
Dia menjelaskan, pihaknya masih melakukan penelusuran siap pelaku pengirim pesan singkat tersebut.
“Pelakunya belum diketahui dan masih diselidiki. Kita akan bekerjasama dengan operator telepon itu,” imbuhnya.
Budi menambahkan, sejak satu minggu ini ancaman bom hanya terjadi tiga kali. “Ancaman di Blok M Mall, Kedubes AS, dan Kedubes Australia,” tuturnya.
Polisi Memperluas Pengamanan Dermaga Wijayapura
Cilacap (ANTARA News) – Polisi memperluas pengamanan di Dermaga Wijayapura, pelabuhan penyeberangan menuju LP Nusakambangan Cilacap, hingga radius 100 meter, namun belum diketahui kapan eksekusi terhadap terpidana mati Bom Bali I, Amrozi dan kawan-kawan, dilaksanakan.
Peningkatan dan perluasan radius pengamanan terjadi sejak pukul 06.00 WIB, yakni saat para sipir atau petugas lembaga pemasyarakatan (LP) yang bertugas siang berdatangan untuk menyeberang ke Nusakambangan, wartawan ANTARA News melaporkan dari Cilacap, Jateng, Selasa.
Tiga personel Brimob, salah satunya bersenjata laras panjang, tampak berjaga di pertigaan Terminal Batu Bara Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap yang berjarak sekitar 100 meter dari gerbang Dermaga Wijayapura.
Setiap orang yang datang ditanya keperluannya dan diperiksa kelengkapan surat-surat kendaraannya, termasuk pemeriksaan bagasi.
Warga yang tidak mempunyai tujuan jelas mendatangi tempat itu atau hanya sekadar melihat-lihat situasi dermaga, dihalau petugas untuk meninggalkan tempat itu.
Bahkan, wartawan yang tidak membawa kartu identitasnya (kartu pers) karena tertinggal di penginapan, tidak boleh memasuki area pengamanan dermaga meski wartawan tersebut telah melakukan peliputan sejak beberapa hari lalu.
Sementara itu berdasarkan sumber ANTARA di Nusakambangan, lokasi eksekusi Amrozi dan kawan-kawan telah disiapkan di kawasan “Nirbaya” yang berada di perbukitan sekitar 6 kilometer sebelah selatan LP Batu.
Nirbaya merupakan sebuah lembaga pemasyarakatan peninggalan Belanda yang kini dijadikan tempat eksekusi bagi sejumlah terpidana mati.
Berdasarkan catatan, empat peristiwa eksekusi terjadi di sana yakni dua terpidana kasus subversi, Umar (1985) dan Bambang Suswoyo (1987) serta dua terpidana warga negara Nigeria yang kasus narkoba, Samuel Iwuchukwu Okoye dan Hansen Anthony Nwaolisa pada 26 Juni 2008.
Namun hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai waktu pelaksanaan eksekusi bagi Amrozi dan kawan-kawan.
(*)
Satu Peleton Brimob Amankan Bandara Tunggul Wulung
Cilacap (tvOne)
Satu peleton Brimob Polda Jawa Tengah dengan senjata lengkap mengamankan Bandara Tunggulwulung Cilacap menjelang pelaksanaan eksekusi terhadap tiga terpidana mati kasus Bom Bali I yaitu Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudera awal November ini.
Komandan Pengendali Operasi Bandara Tunggulwulung Cilacap AKP Bambang Listiono, di Cilacap, Sabtu (1/11) mengatakan, pengerahan satu peleton Brimob itu terutama untuk mengamankan obyek vital di sekitar wilayah setempat.
Selain personil Brimob, sebuah helikopter milik Polri juga disiagakan di bandara itu jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk mendukung pengamanan.
Ia mengatakan pengamanan telah dilakukan sejak lima hari lalu oleh jajaran Polres Cilacap.
“Sedangkan Brimob baru didatangkan sekitar dua hari lalu,” katanya.
Kata dia, helikopter milik Polri tersebut mulai disiagakan pada Sabtu pagi untuk mendukung pengamanan.
Menurut dia, pengamanan di bandara ini tidak terlalu berlebihan, karena tidak banyak penerbangan melalui bandara itu.
Sementara itu, pengamanan di sejumlah obyek vital di sekitar Cilacap seperti PT Pertamina, PLTU Karangkandr dam kawasan industri tidak terlalu mencolok.
Tidak terlalu banyak petugas berseragam dan bersenjata lengkap berjaga di sekitar obyek vital ini.
Sedangkan pengamanan di sekitar Dermaga Wijayapura Cilacap semakin diperketat, dan bahkan dilengkapi dengan detektor logam atau `metal detector`.
Pengunjung yang akan menuju Pulau Nusakambangan, bahkan seorang pendeta yang biasa memberikan pelayanan di sejumlah gereja di pulau itu juga diperiksa.
Kini situasi di Dermaga Wijayapura semakin dipadati wartawan media cetak maupun media elektronik dari dalam dan luar negeri yang terus berdatangan untuk memantau pelaksanaan eksekusi mati terhadap Amrozi dan kawan-kawan.
Namun, sampai sekarang belum ada keterangan resmi mengenai waktu pelaksanaan eksekusi.
Jenazah Amrozi Cs Akan Diangkut Pakai Dua Helikopter
Cilacap, KOMENTAR
Persiapan eksekusi terhadap Amrozi cs sudah sangat matang. Selain tim eksekutor sudah berada di Nusakambangan, rencana pengangkutan jenazah Amrozi cs nanti, sudah dipersiapkan. Sesuai rencana, jenazah terpidana mati kasus Bom Bali I tersebut, akan diangkut dengan helikopter.
Minggu (02/11) kemarin, dua heli pengangkut jenazah sudah mendarat di Nusakambangan, Cilacap, Jateng. Dua heli itu jenis Broco akan terbang ke La-mongan untuk mengangkut jenazah Amrozi dan Ali Gufron serta heli jenis Bell untuk mengangkut jenazah Imam Samudera ke Serang, Banten.
Dua heli itu mendarat di Pantai Permisan yang berada paling ujung barat daya Pulau Nusakambangan. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari LP Batu, tempat trio Bom Bali itu mendekam. Di tempat itu, juga sering digunakan untuk pendaratan heli yang mengangkut Kopassus saat latihan di Nusakambangan
Menurut sumber aparat keamanan menyebutkan, dua heli diterbangkan dari Jakarta dan mendarat di sekitar Pan-tai Permisan karena lokasinya cukup layak untuk pendarat-an. Selain memiliki dataran yang luas, tempat itu rumputnya tidak begitu tinggi sehingga tidak menghalangi heli untuk mendarat.
Sementara itu, persiapan pelaksanaan eksekusi sudah matang, termasuk tim penembak Amrozi dkk jika sewaktu-waktu eksekusi dilakukan. “Persiapan keamanan di Nusa-kambangan, khususnya di LP Batu sudah siap semua. Tim eksekusi (tim penembak) juga siap jika sewaktu-waktu menjalankan tugas,” ungkap Kepala Biro Operasi (Karo Ops) Polda Jateng Kombes Sahala Alagan saat ditemui di Bandara Tunggul Wulung Cilacap, Minggu (02/11) kemarin.
Sahala menambahkan, pengamanan di luar Nusakambangan juga siap. Menurutnya, semua titik rawan sudah dijaga dan diantisipasi sedini mung-kin jika ada sesuatu yang mengganggu jalannya eksekusi. “Soal penambahan personel itu adalah hal yang wajar karena semua titik rawan harus diamankan,” imbuhnya.
Sedangkan Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudera tidak mau dieksekusi dengan cara apa pun. Jika harus dieksekusi, terpidana Bom Bali itu minta para istri menjadi saksi. “Ketiga-tiganya minta. Kalau pun memang harus dieksekusi klien kami minta agar eksekusi disaksikan oleh istrinya masing-masing,” kata anggota Tim Pengacara Mus-lim (TPM) Achmad Michdan kepada wartawan, kemarin.
Sementara Amrozi, diam-diam sudah menyempatkan diri meminta maaf kepada keluarga, termasuk mertua yang ada di RT 5/RW 1 Desa Mojorejo Kecamatan Kebonsari, Madiun. Pimpinan Pondok Pesantren Islam Al Ihsandi Desa Mojorejo Kecamatan Kebonsari, Madiun yang juga adik ipar Amrozi, Joko Suprianto (40) mengatakan penyampaian maaf Amrozi kepada mertuanya Siti Amanah (65) dilakukan Jumat, 30 Oktober 2008 melalui telepon sekitar 10 menit.
“Istrinya Amrozi kemarin Jumat telepon untuk menyampaikan permintaan maaf suaminya jika punya kesalahan dan meminta doa agar meninggal di jalan yang be-nar. ‘Ibu saya menyampaikan maaf suami saya karena tidak telepon langsung’,” jelas Joko sambil menirukan ucap-an kakak iparnya.
Joko menambahkan, saat ini ibu mertua Amrozi dari istrinya Khoirina Khususiati belum bisa ditemui wartawan karena kondisi kesehatan yang kurang stabil dan tinggal di rumah bersama Yusron (30) adik ipar lainnya.
Diketahui Amrozi memiliki 4 saudara ipar di Madiun yakni Joko (45) dan istrinya Farida Mardiati Ningrum (35), Yus-ron (30) serta Nurul (25) yang sekarang di salah satu pon-dok pesantren di Lamo-ngan.(dtc/zal/okz)
Media Australia Beritakan Ancaman Amrozi Cs
Jakarta (ANTARA News) – Media massa Australia memberitakan ancaman Amrozi, Ali Gufron dan Imam Samudera mengenai serangan balas dendam pendukungnya menyusul eksekusi mereka yang menurut Kejaksaan RI dilaksanakan awal November ini.
Media massa Australia mengutip surat elektronik tertanggal 22 Okotber 2008 berisi ancaman Amrozi cs dalam satu laman yang tak disebutkan untuk mencegah publik mengaksesnya.
Sumber lain yang mereka gunakan adalah wawancara eksklusif koresponden CNN Dan Rivers dengan ketiga pelaku Bom Bali yang akan ditayangkan setelah Amrozi cs dieksekusi.
Dalam surat elektronik bercampur Bahasa Inggris, Imam Samudra menyatakan Barat dan para penghukum mereka tak akan mendapat apa-apa dari tindakannya mengeksekusi mereka.
Sebaliknya, mereka akan mendapat “Smack Down” (satu tayangan populer televisi) dari para mujahid, demikian ABC (31/1).
“Hey kalian, anak kecil, akan sangat mudah di-’Smack Down’ (dibanting) oleh mujahidin. Kalian akan dikalahkan di dunia ini dan dikirim ke neraka,” tulis Sidney Morning Herald mengutip pernyataan Imam Samudera.
Bukan hanya Amerika Serikat, Australia dan dunia Barat yang diancamnya, ketiga terpidana mati ini juga mengancam pejabat pemerintah Indonesia yaitu Menteri Hukum dan HAM Andi Matalatta dan para hakim yang mengadilinya.
“Bagaimana bisa Andi Matalatta dan semua hakim Bali itu tidak paham soal ini (Amerika dikalahkan mujahidin)? Apakah mereka tidak tahu Amerika sedang ‘klepek-klepek’?” kata Imam Samudera.
“Kalian kira dengan mengeksekusi kami bertiga, kalian bisa bebas berkeliaran? Jangan harap.”
Media massa Australia juga mengutipkan hasil wawancara CNN dengan Amrozi cs di mana di situ mereka mengingatkan warga Australia untuk jangan lagi mengunjungi Bali karena para pendukungnya tidak segan untuk mengulangi aksi mereka pada 2002.
Ketika Dan Rivers dari CNN mengonfirmasikan bahwa Alquran melarang membunuh orang tidak berdosa, Imam Samudera menjawab sarkastis, “Saya lebih memahami (Alquran) ketimbang anda karena saya muslim, anda kafir.”
Dikritik
Ekspos media massa terhadap Amrozi cs, apalagi dengan menayangkan dan mengutipkan pernyataan mereka, dikritik banyak kalangan di Australia.
Sidney Jones dari International Crisis Group, menyatakan heran begitu mudahnya media massa memperoleh akses ke ketiga teroris itu sehingga mereka bisa menyampaikan hasutan dan ancaman ke tengah publik.
“Rasanya sulit dipercaya kejadian semacam ini bisa berlaku jika ada upaya untuk mencegahnya,” kata Sidney seperti dikutip the Herald.
Sementara itu, pakar terorisme International Centre for Political Violence and Terrorism Research, Singapura, Rohan Gunaratna mendesak para pemimpin politik dan agama Indonesia untuk mengeluarkan pernyataan bahwa aksi terorisme Amrozi cs itu salah.
“Penting bagi pemerintah Indonesia untuk mengumumkan bahwa apa yang dilakukan para pelaku Bom Bali itu tidak mewakili Islam,” kata Gunaratna kepada kantor berita Australia, AAP. (*)
