Harian Pagi OnLine

…mengabarkan

Yakinkan Adam Malik Agen CIA, Weiner Sebut Sejumlah Sandi

Komentar

PENULIS buku ‘’Legacy of Ashes, The History of CIA’’ yang menyebutkan di dalamnya Adam Malik agen CIA (Dinas Rahasia Amerika), Tim Weiner, tetap bersikukuh bahwa apa yang diungkapkannya benar. Dia pun memberikan beberapa data pendukung seputar tudingannya bahwa Adam Malik memang terkait CIA. ‘’Seorang agen bisa saja tidak tahu bahwa dia sudah direkrut,’ ungkap Weiner yang dilansir Tempo ketika mewawancarainya lewat surat elektronik.

Wartawan senior The New York Times yang juga penerima penghargaan Pulitzer ini kemudian menyebutkan, sejumlah sandi tentang CIA yang terkait Adam Malik.

Ia menjelaskan, dalam bukunya terdapat kutipan langsung dari dokumen 2 Desember 1965. Isinya mengenai persetujuan Duta Besar Amerika Serikat Marshal Green untuk secara rahasia membayar Rp 50 juta kepada Adam Malik.

Pembayaran itu dimaksudkan untuk membiayai operasi Komite Aksi Pengganyangan Gestapu. “Duta Besar Green menyebut pembayaran ini sebagai ‘operasi tas hitam’,” kata Weiner. Ini, menurut dia, adalah sandi untuk operasi rahasia CIA yang digunakan di lingkungan Departemen Luar Negeri Amerika.
Weiner mengatakan dokumen-dokumen itu telah berbicara sendiri. “Dilihat dari situ saja jelas Amerika menganggap Adam Malik sebagai agen yang bekerja untuk tujuan operasi ini.”

Saat ditanya apakah ada bukti tertulis dari Adam Malik yang mengkonfirmasi permintaan itu, Wiener mengakui tak pernah melihat dokumen semacam itu. “Saya tidak pernah melihat dokumen pemerintah Amerika Serikat yang sudah dideklasifikasi soal itu.”

Namun, dia mengungkapkan ada dokumen lain yang menguatkan Adam Malik sebagai agen. Dokumen itu adalah telegram yang dikirim lebih awal, 4 November 1965. Bunyinya, “Adam Malik dan lainnya, yang kita tahu dari CAS dan laporan lain memiliki kontak dengan para pemimpin Angkatan Darat, mungkin disimpan untuk periode setelah Soekarno”. CAS adalah kode Departemen Luar Negeri untuk CIA. “Semua bukti ini menunjukkan bahwa Malik bekerja sebagai agen untuk Amerika Serikat, lewat CIA, pada 1965-1966.”

Selain dari dokumen, tuduhan Weiner didasarkan pada hasil wawancaranya dengan perwira CIA, Clyde McAvoy, pada 2005. Kepada Weiner, McAvoy mengklaim bertemu dengan Adam Malik pada 1964 dan merekrutnya sebagai agen CIA. “Dia pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut,” kata McAvoy, seperti dikutip Weiner di halaman 330 bukunya. Sebelumnya, baik pemerintah dan kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, serta keluarga Adam Malik membantah tudingan Tim Weiner.(tmp)

Desember 2, 2008 Ditulis oleh stenlymandagi | Sejarah | , , , | No Comments Yet

Janis: Adam Malik yang Manfaatkan CIA

Jakarta, KOMENTAR
Pernyataan menarik dilontarkan politisi Partai Demokrasi Pembaruan (PDP), Roy BB Janis, terkait kontroversi Adam Malik yang dicap sebagai agen CIA.

Janis yang adalah pengagum Adam Malik ini menilai, bukan CIA yang memanfaatkan Adam Malik sebagai agennya, namun mantan wapres itulah yang mungkin memanfaatkan CIA.

“Kalau beliau (Adam Malik) jadi kolaborator CIA tidak mungkin, tapi kalau beliau memanfaatkan CIA mungkin iya,” ujar Roy dalam Dialog Kenegaraan di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Rabu (26/11). Hadir juga dalam dialog tersebut anak pertama Adam Malik, Otto Malik dan sejarahwan LIPI, Asvi Warman Adam.

Menurut Roy, hal itu dikarenakan idealisme Adam Malik sudah teruji sejak dirinya berusia belasan tahun. Terbukti, dengan masuknya Adam Malik ke Partindo.

“Partindo kan terkenal dengan nasionalis garis keras,” tegas politisi yang juga menulis buku ‘Wapres: Pendamping atau Pesaing’ ini. Sementara itu Asvi Warman Adam mengusulkan sebaiknya buku yang berpotensi menyebar fitnah dan melakukan pembunuhan karakter itu sebaiknya diblok di tiga alinea pada halaman 330. Pertama, alinea yang mengatakan Soekarno akan melakukan kudeta terhadap pemerintahannya sendiri. Kedua, alinea yang menuding Adam Malik sebagai agen CIA. Ketiga, alinea yang mengatakan mantan agen CIA, Clyde McAvoy, yang mengontrol Adam Malik.

Pada bagian lain, Peneliti LIPI Dewi Fortuna Anwar menilai, wajar jika Adam Malik terkait CIA pada era tahun 60-an. “Jangan lupa konteks tahun 60-an itu konteks perang dingin. Waktu itu, Amerika Serikat (AS) akan mendukung siapa pun yang antikomunis. Dan Adam Malik itu antikomunis tulen. Saya kira itu lumrah-lumrah saja,” ujar Dewi Fortuna Anwar.

Kendati demikian, Dewi mengingatkan agar masyarakat tidak serta merta mengatakan bahwa Adam Malik adalah agen CIA. “Tapi kalau seorang tokoh antikomunis Indonesia didukung AS, bukan berarti dia bekerja untuk AS. Dia bekerja untuk Indonesia,” jelasnya. Lalu bagaimana dengan buku Tim Weiner yang menyebutkan bahwa Adam Malik seorang agen? “Saya sama sekali tidak percaya,” tandas Dewi yang juga tergabung dalam The Habibie Center ini.

Senada juga disampaikan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso. “Isu tentang almarhum sebagai agen CIA, saya rasa tidak, karena dia seorang pejuang demi kepentingan negara dan bangsa. Jadi saya tidak percaya itu,” kata Jenderal Djoko Santoso di sela-sela jumpa pers evaluasi TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) di Mabes Angkatan Darat, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (26/11). Seperti diketahui, Tim Weiner dalam bukunya ‘Legacy of Ashes the History of CIA’ menyebutkan Adam Malik sebagai agen CIA. Bukti ini berdasarkan ribuan arsip CIA yang pernah dibuka terkait perang dingin melawan komunisme, termasuk di Indonesia.

Selain Adam Malik, di dalam buku itu Tim Weiner juga menulis sejumlah bantuan kepada ABRI (sekarang TNI), khususnya AD untuk melawan kekuatan komunisme. Dana itu diberikan dengan dalih untuk membeli berbagai peralatan kesehatan dan obat-obatan.

November 27, 2008 Ditulis oleh stenlymandagi | Sejarah | , , , | No Comments Yet

Muladi : Adam Malik Bukan Agen CIA

Jakarta (tvOne)

Gubernur Lemhanas, Muladi juga berpendapat mantan Wakil Presiden (alm) Adam Malik, bukanlah agen Dinas Rahasia Amerika Serikat (CIA) sebagaimana yang ditulis dalam buku “Membongkar Kegagalan CIA”.

“Menurut saya, dia bukan agen AS,” kata Muladi di Jakarta, hari ini, seusai seminar bertajuk “Pemilu 2009: Konsolidasi Demokrasi dan Transformasi Kepemimpinan Nasional” yang diselenggarakan dalam rangka HUT ke-9 The Habibie Center (THC).

Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan tidak percaya dan tidak mungkin Adam Malik menjadi agen CIA seperti tertulis dalam buku karya Tim Weiner yang diterbitkan The New York Times tersebut.

Muladi yang juga Ketua Dewan Pengurus THC mengatakan, Adam Malik ketika itu memang merupakan salah satu orang yang menentang keras keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menurut dia, bisa saja pejabat AS ketika itu melakukan dialog dengan Adam Malik lalu mengambil kesimpulan sendiri bahwa Adam Malik dianggap sudah bisa dipengaruhi pikirannya.

“Sehingga seolah-olah dianggap sebagai agen informal, padahal tidak begitu. Substansinya kan Adam Malik dianggap berpikiran sama (dengan AS) untuk menghadapi PKI ketika itu,” katanya.

Muladi menambahkan, tuduhan bahwa Adam Malik adalah agen CIA harus dibuktikan.

“Saya yakin itu akan sulit membuktikannya, apalagi Pak Adam Malik sudah meninggal dunia. Anggap saja kasus itu diskursus yang tidak bisa dibuktikan,” katanya.

Ketika ditanya apakah pemerintah perlu meminta klarifikasi resmi kepada pihak AS, Muladi mengatakan hal itu bisa saja dilakukan, namun tidak perlu terlalu agresif.

Mengenai buku “Membongkar Kegagalan CIA” karya Tim Weiner yang diterbitkan The New York Times, Muladi mengatakan pemerintah tidak mungkin melarang beredarnya buku tersebut karena menyangkut kebebasan berekspresi.

“Dilarang pun orang bisa cari di luar negeri atau di internet,” katanya.

Habibie enggan berkomentar

Sementara itu, di tempat yang sama, mantan Presiden BJ Habibie menolak berkomentar mengenai masalah tersebut.

“Saya tidak bisa menanggapi dan tidak akan menanggapi. Masa bodoh wartawan mana, di AS atau Kutub Utara. Saya hanya pikirkan masyarakat sekitar saya,” tegasnya.

Habibie juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin menilai buku itu salah atau tidak.

“Tetapi saya tidak ingin membenarkan kalau kita selalu berorientasi pada komentar orang yang bukan masyarakat Indonesia. Saya ingin mendahulukan komentar masyarakat kita, bukan keterangan orang lain,” katanya.

November 25, 2008 Ditulis oleh stenlymandagi | Sejarah | , , , , | No Comments Yet

Wapres tak Percaya Adam Malik Agen CIA

Jakarta, KOMENTAR
Bukan hanya keluarga besar Adam Malik yang tersinggung terhadap tulisan Tim Weiner dalam bukunya ‘Legacy of Ashes The History of CIA’. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pun tidak percaya dengan jur-nalis The New York Times itu.

“Saya menyesalkan penulisan itu. Saya tidak bisa percaya dan tidak mungkin Pak Adam Malik menjadi agen CIA,” tandas Kalla usai bertemu dengan Pangeran Philippe dari Belgia di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (24/11).

Kalla mengaku memiliki beberapa alasan logis yang membuktikan Adam Malik bukanlah agen intel Amerika Serikat (AS). Selain memiliki basis politik yang berbeda dengan AS, wakil presiden era Soeharto itu juga seorang sosialis.

“Lihat saja sejarah politik beliau. Beliau pendiri Partai Murba, mana mungkin Partai Murba agen CIA,” tandas Kalla.

“Kita harus pelajari dan minta pertanggungjawaban yang menulis buku itu,” tandasnya. Kalla pun setuju jika pemerintah Indonesia membantah penulisan Adam Malik agen CIA di dalam buku yang telah diterjemahkan dalam judul ‘Membongkar Kegagalan CIA’ itu. “Yang lebih menarik itu kita harus bantah,” lanjut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar itu.

Sebagai diplomat, Adam Malik pasti memiliki relasi yang luas. Namun hal itu bukan berarti bisa disangkutpautkan bahwa Adam Malik seorang agen CIA.

“Ia bukan seperti itu. Dia memang punya banyak kawan. Bahwa beliau berteman dengan seorang diplomat itu bisa saja. Tapi bukan berarti beliau terlibat sebagai agen,” tandasnya.

Sedangkan Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono juga menepis jika Adam Malik dicap agen CIA. “Terlalu banyak buku dan artikel tentang kejadian politik di Indonesia pada 45-47 tahun lalu. Bagian terbesar adalah spekulasi dan dugaan saja,” kata Menhan. “Jadi sulit diverifikasi, apalagi tentang CIA. Tidak usah digubrislah intinya,” jelas Juwono singkat.

Di sisi lain, Budiarto Shambazy, penulis kata pengantar dalam buku yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berjudul ‘Membongkar Kegagalan CIA’ menilai pernyataan McAvoy (petinggi CIA) itu ngawur. Petinggi itu tidak memilik data yang bisa membuktikan Adam Malik, mantan wakil presiden era Soeharto adalah intel Amerika Serikat (AS).

“Dia (McAvoy) itu ngawur. Saya nggak percaya. Masak ada orang mengungkapkan agen rahasia. Itu paling terkutuk dalam bidang inteligen. Itu bisa dituntut ke pengadilan,” kata Budiarto.

Budiarto juga mengatakan, pernyataan McAvoy itu hanya mencari sensasi. “Dia mau menyombongkan diri, sensasional. Seolah-olah bisa merekrut orang top di Indonesia. Kalau Weiner, saya kira tidak ada maksud lain kecuali menunjukkan kegagalan-kegagalan CIA,” lanjutnya. Menurut Budiarto, persoalan buku tersebut bukan pada penyebutan Adam Malik sebagai agen CIA, melainkan pada sejumlah uang yang diterima Adam Malik. Dia mengatakan, uang sebesar US$ 10 ribu itu bukan diberikan oleh CIA tapi oleh Kedutaan Amerika kepada KapGestapu, organisasi yang getol mengganyang PKI pada masa itu.

“Karena duit itu, Adam Malik kan jadi seperti disuap. Padahal nggak. Saat itu yang diberi bantuan bukan cuma organisasi itu saja, tapi banyak. Jumlahnya juga lebih besar dari yang diterima KapGestapu,” katanya. Meski begitu, Budiarto berharap buku tersebut tidak ditarik oleh Kejagung. “Jangan ditariklah. Buku itu kan bagus. Nanti yang rugi kita sendiri karena bisa dituduh tidak memihak pada kebebasan pers,” lanjutnya.

November 25, 2008 Ditulis oleh stenlymandagi | Politik | , , | No Comments Yet

Adam Malik Direkrut CIA Lewat Jasa Pengusaha Jepang

Manado-Komentar.
MANTAN Wakil Presiden Adam Malik agen CIA. Boleh jadi kontroversi ini akan mencuat ke permukaan. Sejarah masa lalu Indonesia kembali diuji. Buku berjudul ‘Membongkar Kegagalan CIA’ membeberkan secara gamblang bagaimana Adam Malik direkrut CIA. Buku karya wartawan The New York Times, Tim Weiner ini berjudul asli ‘Legacy of Ashes The History of CIA’. Dalam edisi Indonesia, buku dengan sampul depan warna merah itu diberi judul ‘Membongkar Kegagalan CIA’. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini sudah dipasarkan sejak dua bulan yang lalu.

Tim Weiner yang pernah meraih hadiah Pulitzer menulis ‘Membongkar Kegagalan CIA’ berdasarkan 50 ribu arsip CIA dan wawancara mendalam dengan ratusan veteran CIA. Plus pengakuan sepuluh orang direktur CIA.

“Buku ini menyertakan sejumlah informasi dan analisa luar biasa mengenai keterlibatan CIA di Indonesia, terutama berkaitan dengan peristiwa pemberontakan daerah tahun 1950-an dan tragedi kemanusiaan tahun 1965,” tutur Baskara T Wardaya. Pernyataan sejarahwan penulis buku ‘Cold Was Shadow: United States Policy Toward Indonesia, 1953-1963’ tercetak di sampul belakang ‘Membongkar Kegagalan CIA’.

Pembeberan Adam Malik sebagai agen CIA, boleh jadi merupakan salah satu informasi yang luar biasa itu. Soal Adam Malik ini dapat dibaca mulai dari halaman 330. Kisah berawal dari bagaimana CIA mengingatkan Gedung Putih bahwa hilangnya pengaruh Amerika di Indonesia akan membuat kemenangan di Vietnam menjadi tidak berarti.

Dan CIA pun kemudian mulai bergerak menemukan pemimpin baru untuk menggantikan Soekarno. Setelah 7 tahun CIA berusaha menggulingkan Soekarno, pada 1 Ok-tober 1965 meletuslah ontran-ontran politik. Di tengah perseteruan hebat antara Soekarno, PKI di satu sisi dan tentara di sisi lain, sebagaimana dituliskan Tim Weiner, Stasiun CIA di Jakarta sudah memiliki seorang agen yang memiliki posisi baik.

Agen itu, tak lain adalah Adam Malik. Adam malik, dituliskan sebagai seorang mantan Marxis (penganut aliran Karl Marx) berusia 48 tahun yang mengabdi sebagai duta besar Soekarno di Moskow dan menteri perdagangan. Lantas siapa yang merekrut Adam Malik menjadi agen CIA? Tim Weiner secara gamblang mengungkapkan. Adalah Perwira CIA Clyde McAvoy yang menggarap Adam Malik. Adam Malik dan McAvoy pertama kali bertemu di sebuah tempat rahasia dan aman di Jakarta pada 1964.

McAvoy adalah operator rahasia andal CIA yang bahkan pernah merekrut Perdana Menteri masa depan Jepang. McAvoy diterbangkan ke Jakarta dengan tugas utama menyusup ke dalam kubu PKI dan pemerintahan Soekarno. “Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik,” ujar McAvoy dalam sebuah wawancara pada tahun 2005. “Dia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut,” tambah McAvoy.

Adam Malik berhasil direkrut McAvoy, sebagaimana ditulis Tim Weiner, atas jasa seorang perantara. Perantara itu adalah pengusaha Jepang dan mantan anggota partai komunis di Jepang. Siapakah jati diri perantara ini?

PENGKHIANAT

Benar tidaknya Adam Malik sebagai agen CIA, perlu dibuktikan. Namun siapa pun pemimpin negara atau kepala daerah bahkan anggota legislatif yang ketahuan menjadi kaki tangan intelijen negara lain, merupakan pengkhianat bangsa.

“Berkhianat karena merupakan intel negara lain. Tunduk dengan agenda bangsa lain,” ujar anggota Komisi III DPR Fahri Hamzah.

Namun menurut Fahri, bukan berarti Adam Malik disebut pengkhianat karena bukti yang lengkap yang menyatakan pahlawan nasional itu menjadi agen CIA belum ditemukan. Pemerintah harus secepatnya melakukan klarifikasi. Tidak hanya sebagai pelurusan sejarah tapi juga pembelajaran terhadap pemilihan calon pre-siden dalam Pemilu 2009 nantinya.

“Negara harus berhati-hati memilih pemimpin, legislatif, dan kepala daerah. Perlu ada syarat yang rumit bagi calon pemimpin nantinya. Harus ada identifikasi akurat tidak terlibat atau tidak dikategorikan sebagai pengkhianat,” jelasnya. Masyarakat, lanjut Fahri, juga harus berhati-hati memilih pemimpin. Jangan sampai ternyata pemimpin negara merupakan agen asing yang berkhianat terhadap cita-cita negara. “Makanya pelurusan itu tadi diperlukan. Keluarga juga boleh ikut meluruskan,” ujar politisi PKS ini.

November 25, 2008 Ditulis oleh stenlymandagi | Politik | , , , , | No Comments Yet