Harian Pagi OnLine

…mengabarkan

Amrozi, cs Telah Dieksekusi Mati

Harian Pagi Online mengabarkan Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera telah dieksekusi mati pada jam 12.15 semalam di Nusakambangan. Amrozi akan dimakamkan di TPU desa Lopanggede, Serang, Banten.

Februari 22, 2009 Ditulis oleh stenlymandagi | Uncategorized | , , , , | No Comments Yet

Sembilan Ulama Akan Dampingi Eksekusi Amrozi Cs.

Cilacap (tvOne)

Sembilan ulama Cilacap telah disiapkan untuk menjadi rohaniwan guna mendampingi tiga terpidana mati Bom Bali I, Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra saat menjalani eksekusi.

“Saat ini telah ada sembilan ulama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cilacap yang telah dihubungi kejaksaan beberapa hari lalu. Biasanya hanya satu ulama yang akan dipilih dalam waktu yang mepet dengan pelaksanaan eksekusi,” kata salah seorang ulama pendamping H Sahlan Nasir dari MUI Cilacap, Selasa.

Delapan ulama lainnya adalah KH Hasan A Makarim, H Munasim, H Amir Fattah, H Haryadi, H Askan, H Hisam Mukti, Ustad Afrizal dan H Parlan.

Menurut Sahlan, kesembilan ulama termasuk dirinya adalah anggota tim pembinaan rohani Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan.

Sementara itu Ketua Umum MUI Kabupaten Cilacap KH Dzul Bashor mengaku belum menerima surat penunjukan sebagai rohaniwan pendamping oleh kejaksaan, namun dia menyatakan MUI siap menjalankan tugas sebagai rohaniwan pendamping.

“Kita siap mendampingi mereka sebagai rohaniwan pendamping karena merupakan tugas negara,” katanya.

November 5, 2008 Ditulis oleh stenlymandagi | Kriminal | , , , , , | No Comments Yet

Polisi Memperluas Pengamanan Dermaga Wijayapura

Cilacap (ANTARA News) – Polisi memperluas pengamanan di Dermaga Wijayapura, pelabuhan penyeberangan menuju LP Nusakambangan Cilacap, hingga radius 100 meter, namun belum diketahui kapan eksekusi terhadap terpidana mati Bom Bali I, Amrozi dan kawan-kawan, dilaksanakan.

Peningkatan dan perluasan radius pengamanan terjadi sejak pukul 06.00 WIB, yakni saat para sipir atau petugas lembaga pemasyarakatan (LP) yang bertugas siang berdatangan untuk menyeberang ke Nusakambangan, wartawan ANTARA News melaporkan dari Cilacap, Jateng, Selasa.

Tiga personel Brimob, salah satunya bersenjata laras panjang, tampak berjaga di pertigaan Terminal Batu Bara Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap yang berjarak sekitar 100 meter dari gerbang Dermaga Wijayapura.

Setiap orang yang datang ditanya keperluannya dan diperiksa kelengkapan surat-surat kendaraannya, termasuk pemeriksaan bagasi.

Warga yang tidak mempunyai tujuan jelas mendatangi tempat itu atau hanya sekadar melihat-lihat situasi dermaga, dihalau petugas untuk meninggalkan tempat itu.

Bahkan, wartawan yang tidak membawa kartu identitasnya (kartu pers) karena tertinggal di penginapan, tidak boleh memasuki area pengamanan dermaga meski wartawan tersebut telah melakukan peliputan sejak beberapa hari lalu.

Sementara itu berdasarkan sumber ANTARA di Nusakambangan, lokasi eksekusi Amrozi dan kawan-kawan telah disiapkan di kawasan “Nirbaya” yang berada di perbukitan sekitar 6 kilometer sebelah selatan LP Batu.

Nirbaya merupakan sebuah lembaga pemasyarakatan peninggalan Belanda yang kini dijadikan tempat eksekusi bagi sejumlah terpidana mati.

Berdasarkan catatan, empat peristiwa eksekusi terjadi di sana yakni dua terpidana kasus subversi, Umar (1985) dan Bambang Suswoyo (1987) serta dua terpidana warga negara Nigeria yang kasus narkoba, Samuel Iwuchukwu Okoye dan Hansen Anthony Nwaolisa pada 26 Juni 2008.

Namun hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai waktu pelaksanaan eksekusi bagi Amrozi dan kawan-kawan.
(*)

November 4, 2008 Ditulis oleh stenlymandagi | Kriminal | , , , , , | No Comments Yet

Satu Peleton Brimob Amankan Bandara Tunggul Wulung

Cilacap (tvOne)

Satu peleton Brimob Polda Jawa Tengah dengan senjata lengkap mengamankan Bandara Tunggulwulung Cilacap menjelang pelaksanaan eksekusi terhadap tiga terpidana mati kasus Bom Bali I yaitu Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudera awal November ini.

Komandan Pengendali Operasi Bandara Tunggulwulung Cilacap AKP Bambang Listiono, di Cilacap, Sabtu (1/11) mengatakan, pengerahan satu peleton Brimob itu terutama untuk mengamankan obyek vital di sekitar wilayah setempat.

Selain personil Brimob, sebuah helikopter milik Polri juga disiagakan di bandara itu jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk mendukung pengamanan.

Ia mengatakan pengamanan telah dilakukan sejak lima hari lalu oleh jajaran Polres Cilacap.

“Sedangkan Brimob baru didatangkan sekitar dua hari lalu,” katanya.

Kata dia, helikopter milik Polri tersebut mulai disiagakan pada Sabtu pagi untuk mendukung pengamanan.

Menurut dia, pengamanan di bandara ini tidak terlalu berlebihan, karena tidak banyak penerbangan melalui bandara itu.

Sementara itu, pengamanan di sejumlah obyek vital di sekitar Cilacap seperti PT Pertamina, PLTU Karangkandr dam kawasan industri tidak terlalu mencolok.

Tidak terlalu banyak petugas berseragam dan bersenjata lengkap berjaga di sekitar obyek vital ini.

Sedangkan pengamanan di sekitar Dermaga Wijayapura Cilacap semakin diperketat, dan bahkan dilengkapi dengan detektor logam atau `metal detector`.

Pengunjung yang akan menuju Pulau Nusakambangan, bahkan seorang pendeta yang biasa memberikan pelayanan di sejumlah gereja di pulau itu juga diperiksa.

Kini situasi di Dermaga Wijayapura semakin dipadati wartawan media cetak maupun media elektronik dari dalam dan luar negeri yang terus berdatangan untuk memantau pelaksanaan eksekusi mati terhadap Amrozi dan kawan-kawan.

Namun, sampai sekarang belum ada keterangan resmi mengenai waktu pelaksanaan eksekusi.

November 3, 2008 Ditulis oleh stenlymandagi | Kriminal | , , , , , , , , | No Comments Yet

Jenazah Amrozi Cs Akan Diangkut Pakai Dua Helikopter

Cilacap, KOMENTAR
Persiapan eksekusi terhadap Amrozi cs sudah sangat matang. Selain tim eksekutor sudah berada di Nusakambangan, rencana pengangkutan jenazah Amrozi cs nanti, sudah dipersiapkan. Sesuai rencana, jenazah terpidana mati kasus Bom Bali I tersebut, akan diangkut dengan helikopter.


Minggu (02/11) kemarin, dua heli pengangkut jenazah sudah mendarat di Nusakambangan, Cilacap, Jateng. Dua heli itu jenis Broco akan terbang ke La-mongan untuk mengangkut jenazah Amrozi dan Ali Gufron serta heli jenis Bell untuk mengangkut jenazah Imam Samudera ke Serang, Banten.


Dua heli itu mendarat di Pantai Permisan yang berada paling ujung barat daya Pulau Nusakambangan. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari LP Batu, tempat trio Bom Bali itu mendekam. Di tempat itu, juga sering digunakan untuk pendaratan heli yang mengangkut Kopassus saat latihan di Nusakambangan
Menurut sumber aparat keamanan menyebutkan, dua heli diterbangkan dari Jakarta dan mendarat di sekitar Pan-tai Permisan karena lokasinya cukup layak untuk pendarat-an. Selain memiliki dataran yang luas, tempat itu rumputnya tidak begitu tinggi sehingga tidak menghalangi heli untuk mendarat.


Sementara itu, persiapan pelaksanaan eksekusi sudah matang, termasuk tim penembak Amrozi dkk jika sewaktu-waktu eksekusi dilakukan. “Persiapan keamanan di Nusa-kambangan, khususnya di LP Batu sudah siap semua. Tim eksekusi (tim penembak) juga siap jika sewaktu-waktu menjalankan tugas,” ungkap Kepala Biro Operasi (Karo Ops) Polda Jateng Kombes Sahala Alagan saat ditemui di Bandara Tunggul Wulung Cilacap, Minggu (02/11) kemarin.
Sahala menambahkan, pengamanan di luar Nusakambangan juga siap. Menurutnya, semua titik rawan sudah dijaga dan diantisipasi sedini mung-kin jika ada sesuatu yang mengganggu jalannya eksekusi. “Soal penambahan personel itu adalah hal yang wajar karena semua titik rawan harus diamankan,” imbuhnya.


Sedangkan Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudera tidak mau dieksekusi dengan cara apa pun. Jika harus dieksekusi, terpidana Bom Bali itu minta para istri menjadi saksi. “Ketiga-tiganya minta. Kalau pun memang harus dieksekusi klien kami minta agar eksekusi disaksikan oleh istrinya masing-masing,” kata anggota Tim Pengacara Mus-lim (TPM) Achmad Michdan kepada wartawan, kemarin.
Sementara Amrozi, diam-diam sudah menyempatkan diri meminta maaf kepada keluarga, termasuk mertua yang ada di RT 5/RW 1 Desa Mojorejo Kecamatan Kebonsari, Madiun. Pimpinan Pondok Pesantren Islam Al Ihsandi Desa Mojorejo Kecamatan Kebonsari, Madiun yang juga adik ipar Amrozi, Joko Suprianto (40) mengatakan penyampaian maaf Amrozi kepada mertuanya Siti Amanah (65) dilakukan Jumat, 30 Oktober 2008 melalui telepon sekitar 10 menit.
“Istrinya Amrozi kemarin Jumat telepon untuk menyampaikan permintaan maaf suaminya jika punya kesalahan dan meminta doa agar meninggal di jalan yang be-nar. ‘Ibu saya menyampaikan maaf suami saya karena tidak telepon langsung’,” jelas Joko sambil menirukan ucap-an kakak iparnya.
Joko menambahkan, saat ini ibu mertua Amrozi dari istrinya Khoirina Khususiati belum bisa ditemui wartawan karena kondisi kesehatan yang kurang stabil dan tinggal di rumah bersama Yusron (30) adik ipar lainnya.


Diketahui Amrozi memiliki 4 saudara ipar di Madiun yakni Joko (45) dan istrinya Farida Mardiati Ningrum (35), Yus-ron (30) serta Nurul (25) yang sekarang di salah satu pon-dok pesantren di Lamo-ngan.(dtc/zal/okz)

November 3, 2008 Ditulis oleh stenlymandagi | Kriminal | , , , , , , , , | No Comments Yet

Media Australia Beritakan Ancaman Amrozi Cs

Jakarta (ANTARA News) – Media massa Australia memberitakan ancaman Amrozi, Ali Gufron dan Imam Samudera mengenai serangan balas dendam pendukungnya menyusul eksekusi mereka yang menurut Kejaksaan RI dilaksanakan awal November ini.

Media massa Australia mengutip surat elektronik tertanggal 22 Okotber 2008 berisi ancaman Amrozi cs dalam satu laman yang tak disebutkan untuk mencegah publik mengaksesnya.

Sumber lain yang mereka gunakan adalah wawancara eksklusif koresponden CNN Dan Rivers dengan ketiga pelaku Bom Bali yang akan ditayangkan setelah Amrozi cs dieksekusi.

Dalam surat elektronik bercampur Bahasa Inggris, Imam Samudra menyatakan Barat dan para penghukum mereka tak akan mendapat apa-apa dari tindakannya mengeksekusi mereka.

Sebaliknya, mereka akan mendapat “Smack Down” (satu tayangan populer televisi) dari para mujahid, demikian ABC (31/1).

“Hey kalian, anak kecil, akan sangat mudah di-’Smack Down’ (dibanting) oleh mujahidin. Kalian akan dikalahkan di dunia ini dan dikirim ke neraka,” tulis Sidney Morning Herald mengutip pernyataan Imam Samudera.

Bukan hanya Amerika Serikat, Australia dan dunia Barat yang diancamnya, ketiga terpidana mati ini juga mengancam pejabat pemerintah Indonesia yaitu Menteri Hukum dan HAM Andi Matalatta dan para hakim yang mengadilinya.

“Bagaimana bisa Andi Matalatta dan semua hakim Bali itu tidak paham soal ini (Amerika dikalahkan mujahidin)? Apakah mereka tidak tahu Amerika sedang ‘klepek-klepek’?” kata Imam Samudera.

“Kalian kira dengan mengeksekusi kami bertiga, kalian bisa bebas berkeliaran? Jangan harap.”

Media massa Australia juga mengutipkan hasil wawancara CNN dengan Amrozi cs di mana di situ mereka mengingatkan warga Australia untuk jangan lagi mengunjungi Bali karena para pendukungnya tidak segan untuk mengulangi aksi mereka pada 2002.

Ketika Dan Rivers dari CNN mengonfirmasikan bahwa Alquran melarang membunuh orang tidak berdosa, Imam Samudera menjawab sarkastis, “Saya lebih memahami (Alquran) ketimbang anda karena saya muslim, anda kafir.”

Dikritik

Ekspos media massa terhadap Amrozi cs, apalagi dengan menayangkan dan mengutipkan pernyataan mereka, dikritik banyak kalangan di Australia.

Sidney Jones dari International Crisis Group, menyatakan heran begitu mudahnya media massa memperoleh akses ke ketiga teroris itu sehingga mereka bisa menyampaikan hasutan dan ancaman ke tengah publik.

“Rasanya sulit dipercaya kejadian semacam ini bisa berlaku jika ada upaya untuk mencegahnya,” kata Sidney seperti dikutip the Herald.

Sementara itu, pakar terorisme International Centre for Political Violence and Terrorism Research, Singapura, Rohan Gunaratna mendesak para pemimpin politik dan agama Indonesia untuk mengeluarkan pernyataan bahwa aksi terorisme Amrozi cs itu salah.

“Penting bagi pemerintah Indonesia untuk mengumumkan bahwa apa yang dilakukan para pelaku Bom Bali itu tidak mewakili Islam,” kata Gunaratna kepada kantor berita Australia, AAP. (*)

November 1, 2008 Ditulis oleh stenlymandagi | Kriminal | , , , , , , | No Comments Yet