Harian Pagi OnLine

…mengabarkan

Warnet Masih Jadi Sarang Mesum Para Pelajar

DEPOK – Okezone.com

Kondisi warnet yang tertutup dan jauh dari kontrol penjaga, memungkinkan para pengunjung untuk melakukan hal di luar kendali. Bahkan kebanyakan pelajar yang mangkir dari sekolah menyiasati hal ini.

Empat orang pengunjung tampak sedang asyik menyelami dunia maya di bilik ruangan sebuah Warung internet (warnet) bercat putih kusam di kawasan depok. Jarum jam, menunjuk ke arah angka 10, Jumat (28/11/2008) pagi, ketika itu. Di ruangan warnet tersebut terdapat sembilan bilik berukuran sekira 1,5×1 meter yang dipisahkan dengan sekat berbahan triplek bercat hitam.

Dari empat pengunjung tersebut, dua di antaranya adalah sepasang pelaja berseragam putih abu-abu. keduanya memang dapat dilihat oleh pengunjung lain jika melewati biliknya karena tiap bilik tempat komputer tersebut didesain lesehan.

“Tadi masuk sekolah terlambat, jadi cabut aja. Sekalian mau cari bahan buat tugas besok,” ujar Adit (bukan nama sebenarnya) pelajar SMA tersebut kepada Okezone ketika ditanya tentang keberadaannya di luar sekolah pada saat jam belajar sekolah.

Remaja berusia 17 tahun itu mengatakan, sebenarnya sejak pagi, ia memang sengaja untuk terlambat sekolah dan memilih bermain internet bersama pacarnya Ranti (juga bukan nama sebenarnya) yang juga masih satu sekolah dengannya.

“Sudah biasa kalo gak sekolah ya ke warnet, lagian mau kemana lagi kalau keliaran malah ketahuan keluarga lagi,” kata Adit.

Kepada Okezone, kedua pelajar yang masih duduk di bangku kelas II SMA dan mengaku telah menjalin asmara selama 3 bulan itu mengatakan, hanya bermain internet bersama saja, tanpa ada niat melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak senonoh.

“Buka-buka situs aja, Facebook, atau Friendster, dan mencari bahan tugas, tapi kalo ada kesempatan ya gitu , tapi paling cuma sebatas ciuman, pokoknya 3 x 4 (seperti foto 3×4 menunjuk kepala hingga dada) aja,” ujar Adit sambil tertawa.

Lain Adit, lain Hamzah, seorang pelajar yang kebetulan sedang berada di warnet itu. Hamzah mengungkapkan serunya pengalaman memadu kasih di sebuah warnet. Pada awalnya ia tidak pernah berpikiran macam-macam ketika sedang berada di bilik warnet, tetapi karena ada kesempatan ia pun berani bercumbu dengan pacarnya.

“Warnet kan tertutup, gak ada orang lain yang peduli,” kata Hamzah. Bahkan, pelajar kelas III SMA negeri di Depok itupun hapal lokasi warnet-warnet di kawasan Depok yang menurutnya cocok dijadikan ajang pacaran.

“Sekarang sudah agak susah, banyak yang terbuka, sekatnya juga pendek-pendek, tapi namanya naluri tetap aja bisa,” katanya.

Hamzah juga menceritakan, kadang-kadang ia dan pacarnya justru tidak pernah membuka situs-situs berbau pornografi, melainkan membuka video-video porno yang disimpan di flash disk miliknya atau pinjam dari teman.

“Saya tidak pernah buka situs porno, biasanya janjian ama pacar nonton video bokep yang udah ada di flashdisk, tinggal colok, terus tonton,” katanya.

Fenomena memadu kasih di warnet memang bukan hal baru di Indonesia. Banyak situs di internet yang memajang bukti-bukti video adegan mesum di warung-warung internet.

Menurut Aldi (25), seorang penjaga warnet di kawasan Depok, seringkali ia memergoki pengunjung warnet yang sedang bercumbu.

“Dulu sering, tapi nggak sengaja paling pura-pura nggak tahu, kalau sekarang kan sudah ada kamera jadi tinggal pantau kalau ada yang berbuat macam-macam,” katanya.

Aldi mengungkapkan, desain warnet yang tertutup memang memungkinkan orang berpacaran di warnet. Beberapa warnet di kawasan Depok memang dianggap sangat aman dan nyaman untuk berbuat mesum. Contohnya di lantai tiga sebuah warnet di jalan Margonda, tempat tersebut memang sangat jauh dari pengamatan penjaga warnet atau pengunjung lain yang kebanyakan berada di lantai satu.

“Biasanya komputer paling pojok tuh PW (posisi wuenak/ posisi enak) banget buat pacaran, sama yang di bawah tangga,” ujarnya. (srn)

Desember 11, 2008 Ditulis oleh stenlymandagi | Pendidikan | , , , , , , , , , | & Komentar

Siswa SMA 26 Ditelanjangi & Dicabuli Joe Serahkan Diri, Keluarga Tutup Mulut

Jakarta – Pelatih tim futsal SMA 26 Jakarta Joe (30), yang diduga berada di balik kasus penelanjangan dan pencabulan terhadap siswanya menyerahkan diri ke Polsek Tebet. Keluarga pun tutup mulut. Saat detikcom mencoba bertandang ke rumah Joe, di gang sempit Jalan Minangkabau Dalam, Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (4/11/2008), tiga tetangga Joe menunjukkan arah. “Oh yang SMA 26 itu ya Mas. Itu rumahnya,” ujar tetangga yang enggan disebutkan namanya sambil menunjuk rumah kecil tanpa pagar dan temboknya bercat putih yang sudah terkelupas. “Dia tinggal bersama kakaknya, Mbak Tik, dan ibunya,” ujar tetangga lainnya. “Sini saya antar, tanya sama Mbak Tik saja,” ujar salah satu tetangganya sambil mengantarkan detikcom dan mengetuk pintu samping rumah itu. Setelah itu, seorang wanita berusia sekitar 40-an tahun dengan tinggi sekitar 155 centimeter berambut ikal sebahu keluar. Ketika detikcom mengutarakan maksud kedatangan, wanita yang mengenakan daster bercorak kembang oranye-coklat itu langsung menunjukkan raut tidak ramah. “Waduh Mas, nggak ada yang punya rumah. Saya di sini cuma pembantu,” ujar Mbak Tik. “Mbak ini rumah Mas Joe?” tanya detikcom. “Bukan ini rumah keluarganya. Mas Joenya nggak di sini, nggak tahu ke mana,” jawab Mbak Tik. Ketika detikcom mengutarakan niatnya untuk berbincang-bincang sebentar, perempuan itu menjawab, “Oh nggak bisa, nggak bisa”. Ketika ditanya kapan keluarganya datang, Mbak Tik menjawab, “Oh, kurang tahu ya, kurang tahu”

November 4, 2008 Ditulis oleh stenlymandagi | Kriminal | , , , , | 1 Komentar

Siswa SMA 26 Ditelanjangi & Dicabuli Joe Dikenal Homo dan Suka Gaul dengan Ibu-ibu

Jakarta – DetikNews – Perilaku homoseksual Joe, pelatih futsal SMA 26, ternyata sudah diketahui tetangga kampungnya di Jalan Minangkabau Dalam, Setiabudi, Jakarta Selatan. Tak cuma homo, Joe juga dikenal lebih akrab berteman dengan perempuan dibanding dengan laki-laki.

Menurut tetangga yang rumahnya bersebelahan gang dengan rumah Joe, perilaku homoseksual Joe sudah diketahui lama.

“Emang saya sih sudah tahu lama, Mas. Saya tahu dari laki saya. Di sini panggilannya dacing, itu homo. Tapi ya mungkin baru sekarang aja ketahuan,” ujar tetangga yang enggan disebutkan namanya kepada detikcom, Selasa (4/11/2008).

Perempuan muda dan cantik itu mengatakan kalau Joe suka berkumpul dengan ibu-ibu di kampung itu daripada bapak-bapaknya.

“Di sini dia sering main sama ibu-ibu. Gaulnya jarang sama laki-laki. Ngomongnya juga yang begituan lah Mas,” celotehnya.

Perempuan yang memakai daster itu memang sering melihat anak-anak SMA yang sering main ke rumah Joe.

“Emang dulu sih sering banyak yang main ke rumahnya si Joe, kayaknya sih anak (SMA) 26 Mas, cowok-cowok. Yang jelas bukan anak daerah sini,” imbuh dia.

Dari mana Mbak tahu kalau rumah Joe sering kedatangan tamu?

“Loh kan parkirnya di pintu masuk gang. Di situ berjejer beberapa motor kadang,” kata dia.

Pantauan detikcom, rumah Joe terletak di gang yang sempit sehingga hanya cukup dimasuki satu sepeda motor.

Perempuan itu mengaku tahu Joe tersandung kasus pencabulan di SMA 26 dari koran. “Tadi kan saya baca koran. Yang ngasih laki saya,” tuturnya.

November 4, 2008 Ditulis oleh stenlymandagi | Kriminal | , , | 1 Komentar

Siswa Ditelanjangi dan Dicabuli Pelatih Futsal SMA 26 Jadi Tersangka

Jakarta – DetikNews – Polres Jakarta Selatan menetapkan pelatih futsal SMA 26 Jakarta sebagai tersangka. Pelatih futsal berinisial Joe (30) ini diduga melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa murid yang ingin bergabung ke ekskul  itu.

“Dia sekarang masih diperiksa, dan sepertinya telah ditetapkan sebagai tersangka,” kata Kasat Reskrim Polres Selatan Kompol Iwan Kurniawan kepada detikcom, Selasa (4/11/2008).

Selain Joe, Polres juga tengah memeriksa dua orang murid senior SMA tersebut. Mereka diperiksa karena menyaksikan perbuatan asusila Joe. “Mereka kita periksa sebagai saksi,” katanya.

Ospek ekstra kurikuler Futsal SMA 26 Jakarta dengan menelanjangi para calon anggotanya telah berjalan 10 generasi. Salah satu korban, siswa kelas 10, Satria (bukan nama sebenarnya) mengungkapkan, setelah ditelanjangi, kelamin calon anggota dimain-mainkan selama 1 menit.

November 4, 2008 Ditulis oleh stenlymandagi | Kriminal | , , , | No Comments Yet

Geng Cewek "Nyik Nyik" Sangat Meresahkan

TULUNGAGUNG- Sekelompok siswi SMA Negeri Gondang, Tulungagung, yang menamakan dirinya sebagai Geng Nyik-Nyik melakukan tindak kekerasan terhadap siswi lainnya, yang umumnya adik kelas mereka. Aksi kelompok siswi nakal itu terbongkar setelah beberapa orangtua korban mendatangi sekolah tersebut untuk melaporkan adanya tindak kekerasan terhadap anak mereka.
“Sudah lama saya diperlakukan kasar oleh mereka, tapi baru kali ini saya mengadu pada orangtua karena tak tahan,” kata seorang siswi SMA Negeri Gondang berinisial Oi, ketika ditemui melaporkan kasusnya ke cewek-berantemsekolah, Selasa (21/10).
Selain Oi, Vit juga melaporkan masalah itu dengan menunjukkan ponsel yang berisi tayangan tindak kekerasan Geng Nyik-Nyik di sekolah itu. Tayangan ini diperoleh Vit dari seorang teman yang diam-diam merekam aksi brutal Geng Nyik Nyik terhadap para junior.
Dalam tayangan itu sekelompok siswi yang tergabung dalam Geng Nyik Nyik melakukan penganiayaan terhadap beberapa orang siswi dengan cara menampar muka dan menjambak rambut korban.
Menurut kantor berita Antara, Geng Nyik Nyik itu terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama beranggotakan siswi Kelas III yang dipimpin oleh siswi berinisial Prs, warga Desa/Kecamatan Kedungwaru dan Dna, warga Desa/Kecamatan Boyolangu. Sedangkan kelompok kedua beranggotakan siswi Kelas II dengan koordinator Jvt, PPt, dan Lli.
“Mereka ini tidak segan-segan melukai para siswi Kelas I yang tidak mau membelikan makanan atau mentraktir mereka di kantin sekolah,” kata Vit.
Kepala Sekolah SMA Negeri Gondang, Panut Adi Suwignyo, mengaku baru mengetahui adanya geng yang mirip dengan Geng Nero (yang juga beranggotakan para siswi) di Pati, Jawa Tengah, setelah menerima laporan dari para orangtua korban.
“Saya baru tahu dari laporan orangtua siswi pada 15 Oktober 2008 lalu. Saya sudah menindaklanjuti semua persoalan ini,” kata Panut, Selasa (21/10).
Pihaknya sudah memanggil beberapa siswi yang diduga melakukan serangkaian tindak kekerasan terhadap juniornya itu. “Mereka sudah saya peringatkan. Jika tidak mematuhi peringatan itu, mereka akan kami keluarkan,” kata Panut seraya menyebutkan, siswi yang tergabung dalam geng itu berjumlah enam orang.
Kepala Dinas Pendidikan Tulungagung, Maryoto Birowo, mengaku kaget ketika dimintai tanggapannya kemarin tentang munculnya geng kekerasan di kalangan pelajar putri di wilayah kerjanya.
“Masak ada yang seperti itu. Biasanya, para pelajar di kota kecil seperti Tulungagung ini ya ramai-ramai ketika kelulusan sekolah saja. Tetapi, besok (hari ini, red) akan saya cek kasus tersebut,” ucap Maryoto kepada Surya.
Yang jelas, tambah Maryoto, jika benar demikian keadaannya dan tindakan geng tersebut belum sampai ditangani oleh pihak kepolisian, maka Dinas Pendidikan akan melakukan pembinaan intensif. Termasuk dalam kategori pembinaan itu, kata Maryoto, adalah pemberian sanksi.
“Tapi, jika sudah mengarah ke tindak kriminal, ya tentu aparat kepolisian yang akan menangani,” kata dia.
“Yang jelas, kejadian semacam ini belum pernah ada sebelumnya di Tulungagung.”
Sementara itu Ketua Dewan Pendidikan Jatim Prof Zainuddin Maliki menyebut fenomena kekerasan yang dilakukan sekelompok geng siswi merupakan akibat minimnya wadah bagi para remaja, khususnya siswi, untuk menyalurkan bakat, hobi dan kelebihannya. Itu bisa berupa guru di sekolah yang kurang memberi wadah untuk aktualisasi diri bagi muridnya. Akibatnya, para siswi pun mencari `penyaluran` sendiri yang kurang terarah, yang kerapkali berakibat negatif. Baik bagi dirinya maupun lingkungannya.
Selain itu, kata Zainudin, sistem pembelajaran kolaboratif juga belum banyak diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia. “Remaja punya kecenderungan untuk bergaul dengan peer group-nya atau berkelompok dengan rekan seusia. Semestinya, kecenderungan itu bisa diwadahi oleh sekolah atau guru dalam sebuah kegiatan yang positif. Wadah itu tak harus terkait dengan pelajaran di kelas agar para murid tidak merasa bosan,” terang Zainudin.
Sebetulnya, menurut Zainudin, perilaku kekerasan dan kasar dari kelompok seperti Geng Nyik Nyik itu merupakan wujud dari aktualisasi diri yang tak terarah atau keliru.
“Dengan berlaku kasar, mereka menemukan aktualisasinya dan menjadi bangga karena kelompoknya ditakuti dan bisa bertindak arogan pada yang lemah,” jelasnya.
Diakui Zainudin, faktor penyebab tindak kekerasan itu sebenarnya tidak tunggal seperti tiadanya wadah bagi aktualisasi diri di sekolah. Faktor lingkungan keluarga di rumah juga berperan dalam membentuk sikap negative tersebut.
“Cuma, dalam konteks sekolah, umumnya munculnya perilaku kekerasan pelajar yang demikian itu, dipicu oleh kejenuhan terhadap pelajaran di sekolah,” sambungnya.
Solusi yang ditawarkan Zainudin, para guru semestinya kreatif dalam menggunakan metode pembelajaran.
“Ada variasi-variasi pembelajaran dengan sistem kolaboratif,” katanya.
Misalnya pada saat mata pelajaran biologi, murid tidak hanya diajari teori di dalam kelas. Murid bisa diajak ke Sungai Brantas mengenal biota sungai. Untuk pelajaran gizi, murid bisa diajak ke bagian gizi di rumah sakit; dan  untuk pelajaran kewarganegaraan, murid bisa diajak berkunjung ke gedung DPRD atau kantor pemerintah kota/kabupaten.
Orangtua sebetulnya juga punya peran untuk mengarahkan kepribadian anak-anaknya yang masih berusia remaja, namun peran guru lebih besar mengingat guru berada di sisi mereka pada jam-jam beraktivitas.
“Guru juga harus memperkaya ide pembelajaran. Sebab belajar teori di dalam kelas saja hanya akan menciptakan pemikiran abstrak. Agar lebih konkret, murid perlu diajak studi ke luar ruangan dan bersentuhan langsung dengan obyek yang menjadi pembelajaran,” jelasnya.
Jika bersekolah menjadi menyenangkan, lanjut Zainudin, maka aktualisasi diri yang menyimpang dari para siswa (termasuk siswi) bisa diminimalisasi. “Bersekolah akhirnya menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan, sehingga para murid tak punya kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya secara liar,” kata Zainudin.

sumber:Kompas Online

Oktober 22, 2008 Ditulis oleh stenlymandagi | Kriminal | , , , , , | No Comments Yet