Beranda > Teknologi > Krisis Nomor Telepon Picu Audit Jaringan Seluler

Krisis Nomor Telepon Picu Audit Jaringan Seluler

Jakarta – Kian menipisnya sumber daya nomor telepon disinyalir sebagai pemicu diauditnya sistim jaringan seluler operator oleh pemerintah dan regulator dalam waktu dekat ini. Demikian menurut Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI).

Ketua ATSI Merza Fachys mengatakan, audit jaringan yang akan digelar pemerintah dan regulator bermula dari inisiatif tentang efektivitas penomoran, sebelum akhirnya merembet pada komitmen pembangunan jaringan sesuai lisensi modern.

“Pemerintah melihat operator terlalu menghambur-hamburkan nomor sampai akhirnya resource makin sulit. Makanya ingin diaudit, apakah nomor telah digunakan secara efisien dan efektif,” ujarnya pada detikINET, Senin (25/2/2008)

ATSI sendiri menyatakan siap mendukung program audit jaringan tersebut. “Kami siap,” tegas Merza.

Regulator mulanya hanya akan mengaudit jaringan seluler milik operator 3G. Namun, pemeriksaan akhirnya diperluas hingga ke jaringan 2G karena di segmen itu pelanggannya justru jauh lebih besar.

Audit yang akan dilakukan termasuk kewajiban pembayaran biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi, di mana antara 3G dan 2G terdapat sejumlah perbedaan yang mencolok. Bila terkait pembayaran BHP frekuensi, maka semua operator 3G telah membayarnya di muka ditambah dengan up front fee yang dibayar bertahap.

Pembayaran BHP frekuensi seluler 3G didasarkan pada lebar bandwidth yang dipakai sehingga bisa dihitung secara pasti dan akurat, berbeda dengan 2G yang hanya didasarkan pada jumlah pembangunan BTS yang umumnya tersebar.

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menganggap audit jaringan merupakan langkah regulator dalam menjalankan peran dan fungsinya agar pelanggan dilindungi kepentingannya. “Upaya audit ini sangat tepat dan wajar, sehingga sudah seharusnya operator tidak mengeluh dan merasa khawatir,” kata anggota BRTI, Kamilov Sagala.

Indonesia Telecommunication User Group (Idtug) mendesak regulator untuk mengaudit operator 2G mengingat segmen tersebut memiliki cakupan jaringan yang lebih luas dari 3G. Lembaga ini menilai pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara menyeluruh dan dititikberatkan pada operator 2G mengingat layanannya yang bersifat massal dan dipakai oleh banyak pengguna di Indonesia.

Di Indonesia terdapat lima operator 3G yaitu Telkomsel, Indosat, Excelcomindo Pratama, Natrindo Telepon Seluler, dan Hutchison CP Telecommunication. Di segmen 2G, selain kelima operator 3G tersebut, juga ditambah dengan Mobile-8 Telecom, Smart Telecom, dan Sampoerna Telekomunikasi Indonesia.

Anggota BRTI Heru Sutadi menandaskan pemeriksaan terhadap jaringan 2G telah dilaksanakan setiap tahun sekali di mana tahun ini ditambah dengan 3G. “Kedua layanan itu tercakup dalam satu lisensi modern setiap operator,” tandasnya.

Audit tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan tumbangnya jaringan milik sejumlah operator 2G yang terjadi beberapa waktu yang lalu yang mengakibatkan pelanggan banyak dirugikan.

sumber: detikinet

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: