Beranda > Entertaiment > Nia Dinata Minta Pemerintah Atur Komedi Seks

Nia Dinata Minta Pemerintah Atur Komedi Seks

VIVAnews – Film komedi seks menjamur. Judul-judul yang dapat membuat kening berkerut pun makin banyak bermunculan. Sebagai sutradara perempuan Nia Dinata mengaku tidak anti dengan film bergenre komedi seks. Walau film-film jenis itu bukan seleranya.

Saat berbincang dengan VIVAnews, Rabu 15 Oktober 2008, Nia sadar berhadapan dengan industri film. Ada pasar, ada barang. Namun ia menyayangkan pemerintah yang tidak maksimal menjalankan tugasnya dalam memerangi eksploitasi serupa.

“Harusnya diatur, mereka nggak boleh memasarkan filmnya di daerah terbuka. Misalnya saja poster film ‘Anda Puas Saya Loyo’ ada di pinggir jalan raya,” papar sutradara ‘Arisan!’ ini.

Kata Nia, siapa nanti yang akan menonton film itu tidak menjadi masalah. Karena sudah jelas dikategorikan untuk orang dewasa. Nia tidak memungkiri, ada saja orang yang senang menonton film bergenre komedi seks.

Pemerintah, menurut perempuan 38 tahun ini seharusnya bisa mendisiplinkan publiknya. Tentu dibantu peran orangtua yang tahu tontonan anak-anaknya. “Kalau orang dewasa sudah bisa memilih. Sedangkan anak-anak kan belum,” jelas Nia lagi.

Jebolan sekolah film Amerika Serikat ini memberi contoh pengaturan film di luar negeri. Film-film ber-genre seperti itu ada tempat pemutaran khususnya. Tidak diputar di sembarang bioskop. Apalagi bioskop yang diperuntukkan bagi khalayak umum, termasuk keluarga.
• VIVAnews

  1. deny
    November 2, 2008 pukul 9:49 am

    Kemarin malam digelar kembali debat terbuka di TV antara pihak yang pro RUU Pornografi dan yang anti RUU. Saya tidak mengikuti secara keseluruhan, hanya sempat melihat bagian terakhir, debat antara Nia Dinata (sutradara film) dan Feri Omar Farouk ( pendukung kampanye Jangan Bugil di Depan Kamera ).

    Semula tersiar kabar RUU Pornografi akan disahkan DPR sekitar tanggal 23 Oktober, ternyata ditunda lagi. Ini adalah penundaan untuk kesekian kalinya. DPR yang telah bekerja sejak 4 tahun lalu, bahkan sejak 10 tahun lalu, tidak kelar-kelar menggolkan RUU yang isinya sekitar 40 pasal itu.

    Demi perlindungan moral masyarakat betapa lelet-nya kerja DPR. Bandingkan kalau mereka menggarap RUU politik, rapat-rapat maraton pun akan digelar untuk mengejar deadline.

    Nia Dinata, Riri Riza, Dian Sastro, Ayu Utami, Rieke Dyah Pitaloka, dll. sudah sangat terkenal perlawanan mereka terhadap gerakan anti pornografi, khususnya melalui upaya legislasi untuk menghasilkan RUU Pornografi (Semula RUU Anti Pornografi Pornoaksi – RUU APP). Di balik mereka ada Mbah Dur, Gunawan Mohamad, aktivis JIL, Ratu Hemas, dan seterusnya.

    Menarik sekali kalau mencermati perilaku kaum pembela kebebasan seni, liberalisasi budaya, dan pornografi itu. Sejak dulu mereka melontarkan alasan-alasan yang banyak dan bermacam-macam. Alasan-alasan mereka tampak keren dan cerdas, tapi alhamdulillah bisa dijawab tuntas oleh para pembela gerakan anti pornografi. Salah satu contoh baik ialah saat Musdah Mulia (guru besar UIN Jakarta) berdebat dengan seorang ustadz HTI. Musdah dibuat tidak berkutik, sehingga keluarlah sifat-sifat asli kewanitaannya, nervous dan emosional.

    Para pendukung pornografi selalu memperbaharui alasan-alasan mereka. Setiap satu alasan dibantah, mereka segera bergeser ke alasan lain; ketika alasan baru itu juga dibantah, mereka bergeser ke alasan lainnya lagi; begitu seterusnya, sampai tidak ada satu pun alasan mereka yang tersisa. Setelah mereka kehabisan modal alasan, mereka balik lagi ke alasan pertama, lalu ke alasan kedua, ketiga, dan seterusnya. Mereka tidak pernah tulus ingin bicara tentang pornografi; alasan-alasan mereka hanyalah cover untuk menunda-nunda pengesahan RUU Pornografi. Semakin lama proses pengesahan itu berjalan, semakin tebal “upah perjuangan” yang didapat. Singkat kata, ini adalah “profesi” baru, menunda-nunda pengesahan RUU untuk melayani kepentingan industri kapitalis liberal. Soal “alasan cerdas”, itu mudah dibuat, tinggal diskusi, sharing, brain storming, dapat sudah ide “kreatif”.

    Dalam debat di TVOne di atas, hampir tidak ada alasan baru dari seorang “pekerja seni” seperti Nia Dinata. Dia hanya mengulang-ulang lagu lama yang sudah terlalu sering diputar. Dari sisi intelligence atau smartness, para pendukung industri pornografi tidak memiliki ide yang layak.

    Disini saya ingin mengulas sedikit cara berpikir Nia Dinata. Tetapi tujuannya bukan untuk membantah, sebab pemikiran-pemikiran mereka sudah terlalu sering dibantah. Kita hanya ingin bersenang-senang dengan aktivitas membela moralitas masyarakat. “Ya, it’s just for fun,” pinjam istilah anak-anak muda.

    Negara Mencampuri Urusan Privat
    Nia merasa tidak suka jika negara sampai mencampuri urusan privat keluarganya, misalnya dalam soal etika dan moral anak-anaknya. “Terserah saya dong memilihkan tontonan apa saja buat anak-anak saya,” alasan Nia.

    Iya Nia, soal Anda mau memilihkan hiburan triple x, hardcore, snuff, atau apa saja buat keluarga Anda, itu terserah Anda. Anda yang memilih dan Anda tahu konsekuensinya. Itu urusan masing-masing, di dalam rumah atau kamarnya sendiri-sendiri. Bahkan, mereka mau jungkir-balik nonton VCD porno, sampai mempraktikkan apapun yang dilihatnya, itu terserah mereka. Itu domain pribadi (privat) yang berlaku prinsip, “Siapa berbuat, dia menanggung akibat.” Tetapi ketika produk-produk pornografi itu mau dijual bebas, materi-materi pornografi mau dieskpose secara luas ke tengah-tengah masyarakat, nah ini lain! Ini bukan domain privat, tetapi domain publik.

    Di negara yang memegang prinsip “Ketuhanan Yang Masa Esa”, Anda tidak boleh sak enak udele dewe. Moralitas adalah masalah yang kita junjung tinggi, sejak berdirinya negara ini. Kalau mau bebas liar seperti binatang, silakan pergi ke Amerika atau mencari pulau-pulau nudies, lalu tinggallah disana. Nikmati hak privasi Anda 1000 % di tengah-tengah komunitas tidak bermoral.

    Atau kalau Nia masih ngeyel, Anda bisa memakai “mesin waktu” untuk mundur ke jaman 1945 lalu. Nah, silakan Anda ceramahi para founding fathers dengan prinsip-prinsip liberalisme. Ajak juga mereka mengganti kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi “Kebebasan Seks yang Merajalela”.

    Nia dan kawan-kawan ini masih anak kemarin sore. Baru tahu dunia Barat, lalu mengalami inferioritas akut. Ujungnya, mereka menjadi skrup-skrup kapitalisme. Materi di mata mereka segala-galanya, sedangkan moralitas adalah komoditi nomer kesekian, yang sewaktu-waktu bisa dikorbankan demi mereguk nikmat materi. Paling top, mereka satu barisan bersama Freemasonry yang memiliki agenda besar, membangun black kingdom in the world. Di mata Freemasonry, moral sama najisnya seperti kita saat memandang iblis dan syaitan.

    Mengapa Tidak Menyusun RUU Anti Eksploitasi Wanita dan Anak-anak Saja?

    Konon, Nia juga anti terhadap eksploitasi wanita dan anak-anak. Tetapi bagi dia, RUU Pornografi tidak menjangkau hal itu. Hingga dia melontarkan usulan, “Mengapa tidak disusun RUU anti eksploitasi wanita dan anak-anak saja?” Terlihat disini, bahwa seorang Nia cara berpikirnya tidak stabil.

    Eksploitasi wanita dan anak-anak adalah salah satu materi pornografi. Tetapi bahaya pornografi bukan hanya menimpa para model yang dijadikan obyek tontonan pornografi itu. Justru masyarakat konsumen pornografi itu yang sangat banyak jumlahnya. Sebanyak-banyaknya obyek pornografi di Indonesia, tidak akan lebih dari 10.000 orang, baik asing maupun lokal. Tetapi 220 juta rakyat Indonesia adalah sasaran penyebaran pornografi yang sangat mengerikan.

    Anak-anak jelas harus dilindungi, tetapi remaja, generasi muda, dewasa, rumah-tangga, sampai kakek-nenek, mereka juga harus dilindungi. Dan melindungi semua itu harus ada payung hukumnya, yaitu sebuah UU. Pemikiran yang hanya melihat sisi kepentingan anak, tanpa melihat kelompok umur lain, adalah sangat khas corak budaya liberal Amerika. Istilah 17 tahun ke atas, dimana di atas usia itu siapapun boleh melakukan apa saja, selain kriminalitas, adalah tipikal budaya liberal Barat. Sedangkan Islam melindungi manusia, sejak lahir sampai meninggal.

    Jelas UU anti eksploitasi wanita dan anak-anak sangat perlu. Secara teknis, RUU Pornografi telah mewadahi sebagian tujuan perlindungan itu. Jika memang kasusnya nyata, faktual, dan sangat dibutuhkan, bisa jadi ke depan DPR perlu memikirkan secara serius UU anti eksploitasi tersebut.

    Tetapi, apa Anda yakin bahwa para “pekerja seni” seperti Nia dan kawan-kawan itu nanti akan mendukung kalau ada penyusunan RUU anti eksploitasi wanita dan anak-anak? Apa jaminannya mereka akan mendukung? Bagaimana kalau penggarapan RUU itu nanti berbenturan dengan kepentingan bisnis para “pekerja seni”? Jangan-jangan mereka akan membuat serial penolakan lagi, sehingga RUU itu tidak kelar-kelar sampai 10 tahunan.

    Perlu dicatat, dunia panggung, seni, film, sinetron, entertainment, studio foto, dunia iklan, media TV, hiburan malam, dunia wisata, dll. di dalamnya banyak praktik-praktik eksploitasi wanita dan anak-anak. Di dunia produksi film misalnya, pelecehan seksual hingga seks bebas, hal itu tidak aneh lagi. Termasuk di dunia produksi iklan. Disana juga terjadi eksploitasi anak-anak. Lihatlah iklan-iklan yang menayangkan model anak-anak bayi! Apakah Anda mengira, bayi-bayi itu selalu mengalami perlakuan yang lembut? Tidak ada jaminannya. Sorot lampu yang sangat terang, make up, adegan yang diulang-ulang terus, suasana studio yang ramai oleh instruksi dan alat-alat elektronik, dan lain-lain. Semua itu sebenarnya tidak ramah bagi bayi-bayi itu. Bagi biro iklan, mereka hanya butuh adegan bayinya, lalu orangtua bayi dibayar sesuai perjanjian, setelah itu putus kontrak. Masalah apapun yang kemudian dialami sang bayi, dunia industri lepas tangan. Mereka hanya butuh gambar bayi dan kelucuannya, sebab disana ada gemerincing uang.

    Terus-terang dalam hal ini kita sangat berterimakasih kepada Nia Dinata atas ide briliannya. Ide RUU anti eksploitasi wanita dan anak-anak perlu direspon secara serius. Nanti, kalau UU Pornografi sudah kelar, kita perlu pikirkan ide itu. Semakin ketat kita melindungi wanita dan anak-anak, itu lebih baik. Bisa jadi, RUU yang diusulkan Nia itu bisa semakin memperkuat posisi UU Pornografi. Bagi aparat hukum, semakin banyak instrumen hukum yang bisa dipakai, semakin memudahkan mereka dalam menjalankan tugas.

    Saya sarankan kepada para aktivis, termasuk kaum peduli wanita dan anak-anak, agar menangkap dengan serius ide RUU anti eksploitasi wanita dan anak-anak. Mudah-mudahan hal ini nanti bisa berjalan beriringan dengan UU Pornografi. Amin.

    Wanita Menjadi Obyek Kriminalisasi

    Alasan lain dari Nia yang sungguh sangat menakjubkan, ialah soal kriminalisasi wanita. Kita tahu bahwa RUU Pornografi itu banyak membahas kasus-kasus yang berobyek wanita. Disana ada wanita membuka bagian-bagian sensitif, wanita telanjang, wanita berjoged menggoda syahwat, adegan senggama, dan lain-lain. Pendek kata, wanita banyak menjadi model produk pornografi. Nia dan kawan-kawan merasa sangat memuliakan martabat wanita, mereka berkeyakinan, “Wanita itu subyek, bukan obyek.” Mereka mengecam para pendukung RUU Pornografi sebagai kaum yang meletakkan wanita hanya sebatas obyek kriminal, yang bisa dihukum sedemikian rupa kalau melakukan pelanggaran pornografi. Menurut istilah mereka, victimasisi wanita.

    Pemikiran seperti ini benar-benar merupakan logika yang kacau-balau. Logika gak genah, logika aneh, logika wong sing ora sehat. Pangkal dan ujung logika itu kacau-balau, tumpang-tindih, sangat kontradiktif.

    Mula-mula harus disadari, tujuan penyusunan RUU Pornografi adalah untuk melindungi moral masyarakat. Termasuk moral wanita-wanita model pornografi, biar mereka tidak dilecehkan, tidak dinistakan, tidak dijual-belikan tubuhnya dengan harga yang sangat murah. Kalau industri pornografi bisa ditutup rapat-rapat, maka akan sangat banyak wanita model pornografi yang terselamatkan.

    Lalu bagaimana kalau dunia pornografi merupakan cara mereka untuk dapat penghasilan? Ya, dunia seperti itu tidak layak dijadikan profesi, sangat-sangat beresiko tinggi. Mereka perlu dibimbing dan dibina dengan ketrampilan-ketrampilan, agar mampu mencari penghasilan secara wajar, tidak menjual kehormatan dan tubuhnya. Mencari makan dari jalan pornografi atau pelacuran adalah serendah-rendahnya martabat wanita. Na’udzubillah min dzalik.

    Adapun bagi wanita-wanita yang pernah mengalami kasus-kasus kekerasan seksual, mereka tidak boleh melampiaskan dendam sosial kepada masyarakat luas. Oknum laki-laki yang pernah menistakan diri mereka mungkin hanya satu atau dua orang saja, maka tidak ada alasan bagi wanita-wanita itu untuk menjerumuskan masyarakat dalam perbuatan amoral. Mereka ternistakan karena kelakuan sendiri, mengapa harus masyarakat yang menjadi sasaran dendam? Banyak wanita model pornografi meyakini, “Semua laki-laki sama bejatnya! Mereka telah menodaiku, maka aku harus membalas mereka dengan menyebarkan kerusakan moral seluas-luasnya.” Tunggu dulu! Anda terjerumus karena tidak berperilaku baik, mengapa harus dendam karena kesalahan Anda sendiri? Lagi pula, kalau mau dendam, arahkan dendam itu kepada laki-laki bengis yang telah menodai Anda, bukan kepada masyarakat luas yang tidak berdosa. Pemikiran dendam sosial itu sungguh sangat keji dan merusak.

    Ayu Utami misalnya. Kalau membaca tulisan-tulisan dia di kolom Kodok Ngorek koran Sindo, tampak sekali wanita itu sudah cuek bebek dengan moral masyarakat. Novel Saman dan Larung dari tangannya, membuktikan sikap permusuhannya terhadap moral. Kalau dia wanita baik-baik, pasti tidak akan terjerumus sedemikian jauh. Apa yang dia alami berupa pengalaman-pengalaman seksual yang menistakan martabat, hal itu bukan salah masyarakat umum, tapi salah segelintir laki-laki keji tertentu. Jangan karena dendam kepada sedikit orang, lalu menjadikan masyarakat luas sebagai sasaran amuk dendam.

    Kembali ke Nia Dinata, kalau dia benar-benar tulus ingin memuliakan wanita-wanita model pornografi, bantu wanita-wanita itu keluar dari lingkaran eksploitasi yang membelenggunya. Jangan berlagak sok pahlawan, tetapi tetap membiarkan bisnis eksploitasi wanita-wanita terus menggelinding. Kalian jangan munafik, sok suci, dengan istilah kriminalisasi wanita segala, padahal hati kalian sangat jahat terhadap nasib wanita-wanita itu! RUU Pornografi sudah bagus hendak menyelamatkan harkat model-model pornografi, tetapi kalian malah menghalang-halangi. Otak kalian sudah terbalik, fakta kekejaman terhadap wanita model pornografi diputar-balikkan, sehingga terdengar seperti pembelaan terhadap mereka.

    Soal wanita sebagai obyek kriminal. Pada dasarnya, apapun bisa menjadi obyek kriminal, tidak melulu wanita. Jangankan manusia, hewan peliharaan, mesin, pohon, atau apapun bisa, selama merugikan kepentingan manusia. Hanya saja, soal sanksi bagi sumber tindak kriminal itu berbeda-beda. Misalnya, seekor anjing peliharaan menggigit anak kecil sampai meninggal. Tentu, anjing tersebut tidak perlu diseret ke meja peradilan. Cukup pemiliknya yang ditanyai. Tetapi perbuatan anjing itu bisa menjadi sumber perbuatan kriminal berupa pembunuhan. Begitu pula, sebuah pohon yang ditanam seseorang juga bisa menjatuhi rumah sehingga hancur, namun pohonnya tidak bisa disalahkan. Termasuk, mobil, motor, alat mesin, dll. ia juga bisa melukai atau membunuh, tetapi bukan alatnya yang diadili.

    Pada dasarnya, siapapun tidak peduli rakyat kecil atau pejabat, militer atau sipil, ustadz atau santri, laki-laki atau perempuan, anak kecil atau orang dewasa, siapapun bisa menjadi sumber tindak kriminal. Selama mereka melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Batas-batas kerugian itu dan sifat-sifatnya diatur dalam UU. Jadi, tidak peduli apakah wanita atau laki-laki, kalau merusak moral masyarakat, menyebabkan hancurnya generasi muda, menyebabkan konflik keluarga, menyebabkan berbagai tindak kekerasan, dan apapun akibat yang bisa ditafsirkan sebagai pelanggaran hukum, mereka berhak mendapat sanksi.

    Tidak ada diskriminasi dalam soal hukum. Bukan karena seseorang berposisi sebagai wanita atau anak-anak, lalu tidak berlaku sanksi hukum atas mereka. Kalau mereka menyebabkan kerugian bagi orang lain, dan secara hukum perilakunya sudah dinilai sebagai kejahatan, ya harus diberi sanksi. Jangan karena mentang-mentang wanita, mereka boleh membuat masalah seenaknya sendiri, lalu bebas dari jerat hukum. Pemikiran seperti itu adalah diskriminasi hukum, pemikiran primitif, bukan pemikiran manusia beradab dan berakal sehat.

    Jadi aneh sekali. Sebagian orang begitu ngeyel membela posisi wanita agar tidak dipandang sebagai obyek kriminalitas, sementara mereka tidak memikirkan betapa kejinya perbuatan wanita-wanita itu yang menyebabkan berjuta-juta kasus kesengsaraan di tengah masyarakat. Kalau melihat betapa kurang-ajarnya perilaku model-model pornografi itu, rasanya saya ingin membanting mereka sekeras-kerasnya ke lantai. Tingkah, senyuman, dan cara mereka menggoda penonton rekaman video mereka, sangat-sangat keji. Mereka lebih buas dari para pelacur yang dihargai sepuluh atau lima belas ribu. Apakah terhadap wanita-wanita perusak moral ini kita ingin mengasihi? Mengapa Anda tidak mengasihi ratusan juta masyarakat lain yang masih bermoral dan berperilaku baik? Mengapa harus mengasihi segelintir wanita yang kerjanya merusak kehidupan ratusan juta manusia lainnya?

    Saya justru merasa aneh. Nia Cs merasa sangat terusik dengan nasib wanita-wanita model pornografi yang potensial dijadikan pelaku kriminal. Sementara mereka tidak terusik sama sekali dengan nasib ratusan juta wanita baik-baik yang sangat rentan dirusak oleh produk-produk pornografi. Sebenarnya Nia Cs itu tulus ingin mengasihi wanita atau ingin membela industri pornografi yang ketakutan kehilangan stock wanita penjaja tontonan esek-esek itu? Ya Anda tahulah jawabannya. Jangan pernah berharap akan tercium aroma wangi dari kotoran sapi!

    Nia Nia, kasihani dirimu! Kamu berlagak menjadi pahlawan bagi kaum wanita, padahal sejatinya kamu hanya menjadi budak bagi industri kapitalis yang menjual-belikan kehormatan wanita demi mereguk untung segunung.

    Puncak Arogansi

    Maka sampailah Nia Dinata kepada sebab-sebab kebinasaannya. Allah telah memperlihatkan kepadanya sekian banyak alasan, dalil, dan nasehat. Tetapi dia memilih pongah di hadapan-Nya. Maka kepongahan itu pun tentu akan berbuat laknat baginya, sebagaimana kepongahan iblis telah menjadikannya terkutuk.

    Sampailah Nia kepada puncak arogansinya. Saat dia ditanya, bagian mana dari RUU Pornografi yang tidak disetujui oleh Nia dan para pekerja seni, dengan sangat arogan Nia menjawab, kurang-lebih, “Keseluruhan pasal RUU Pornografi ini, sejak awal sampai akhir, kami tolak!” Ya Allah, ungkapan itu selain menunjukkan puncak arogansi manusia, juga menjelaskan bahwa mereka anti sama sekali dengan pemberantasan pornografi.

    Kalau Nia Cs benar-benar anti pornografi seperti yang didengung-dengungkan, pasti mereka tidak akan sebrutal itu ucapannya. Nia Cs sering berdalih, “Kami juga anti pornografi, tetapi kami menolak RUU Pornografi ini!” Kalau ucapan mereka benar, pasti RUU Pornografi ada harganya di mata dia. Paling tidak satu atau dua pasal tertentu bisa mereka terima, kalau benar-benar anti pornografi. Kenyataannya, dengan ucapan di atas, sekaligus mewakili komunitas pekerja seni, Nia telah menunjukkan puncak kemunafikannya. Dia berlagak anti pornografi juga, padahal sejatinya dia menolak mentah-mentah gerakan anti pornografi.

    Disinilah saya ingin menasehati manusia-manusia durhaka, dengan ijin Allah!

    Sungguh, kalian merasa jumawa. Kalian merasa angkuh di hadapan Allah. Kalian mereka bisa hidup bebas di muka bumi ini. Kalian merasa dibiarkan oleh Allah, tidak diberi sanksi atas kedurhakaan-kedurhakaan kalian. Kalian merasa bisa menghujat agama Allah serendah-rendahnya, dan kalian merasa memiliki sekian banyak kenikmatan dan kesenangan hidup. Kalian merasa, “Tuhan telah mati. Dia tidak bisa menegakkan hukum-Nya. Buktinya, meskipun kami durhaka, kami tidak dihukum oleh-Nya. Malah uang dan harta kami semakin terus bertambah.”

    Ya Ilahi, betapa bodohnya kalian atas semua tipuan ini. Kalian merasa jumawa, padahal semua makhluk hidup dan mati, menertawakan kebodohan kalian. Bahkan mereka menangis histeris, karena merasa sangat takjub atas kebodohan kalian.

    Allah memiliki Shifat, Syariul Hisab, amat sangat cepat perhitungan-Nya. Tidak mungkin perbuatan mereka akan dibiarkan begitu saja. Jangankan makar yang bisa merusak masyarakat luas, satu perbuatan keji yang mereka lakukan secara tersembunyi di kamar gelap, saat malam hari, jauh dari jangkauan manusia, tidak ada yang terlewat dari perhitungan Allah.

    Jika saat ini mereka merasa masih baik-baik saja, tidak pernah dihukum oleh musibah berat, tubuh sehat-sehat selalu, anak-anak tumbuh pesat, cinta suami semakin bertambah, harta berkembang luas, popularitas semakin menggema, bahkan mungkin mereka juga beruntung mendapat jabatan. Semua nikmat itu tidak berarti melenyapkan perhitungan Allah. Sama sekali tidak! Allah hanya menunda waktu saja, sampai saat yang ditetapkan-Nya tiba. Ini hanya soal delay saja, tak lebih.

    Ada beberapa alasan mengapa orang durhaka justru mendapatkan tambahan nikmat yang luar biasa. Semakin mereka durhaka, semakin hebat pula nikmat yang diterimanya. Alasannya sebagai berikut:

    Pertama, Allah hendak membalasi kerja keras dan pengorbanan mereka. Siapa yang bekerja dan berkorban, pasti akan dibalasi oleh Allah, siapapun dirinya. (Lihat Surat Ali Imran, 145).

    Kedua, Allah hendak menyempurnakan hak-hak kenikmatan terhadap manusia-manusia durhaka itu. Mereka kelak akan menyongsong siksa yang amat sangat berat, tidak terlukiskan oleh apapun di neraka. Tetapi Allah Maha Rahmaan, Dia hendak memberikan hak-hak kenikmatan bagi mereka saat masih di dunia. Sebelum the great torments menimpa, mereka dijamu dulu. Seperti terpidana mati yang diperbolehkan meminta makanan apapun, sebelum hukum mati menimpanya. (Lihat Surat Ali Imran: 196-197).

    Ketiga, Allah hendak membuat mereka semakin durhaka, semakin jahat, semakin keji, dengan cara terus memberi mereka energi untuk menambah-nambah dosanya. Tidak bertambah hitungan rupiah di kantong mereka, melainkan semakin bertambah hebat tabungan dosa-dosanya. Nah, ketika koleksi dosa itu telah sampai di puncaknya (titik kulminasi), mereka akan dijatuhi siksa dunia yang sangat tiba-tiba. Siksa itu sangat berat dan tiba-tiba, sehingga mereka jatuh terkulai dalam kehinaan dan sengsara yang tidak ata taranya. Inilah yang kerap disebut istidraj, ditarik pelan-pelan ke atas, terus ke atas, naik terus, sampai di titik tertentu, dash mereka dibanting sekeras-kerasnya. Orang-orang itu sebenarnya sedang dipermainkan, tetapi tidak sadar. (Lihat Surat Al Al’aam, 44-45).

    Keempat, Allah hendak mematikan hati mereka dengan datangnya keuntungan yang semakin-semakin bertambah. Kemudian, mereka akan dibiarkan hidup terombang-ambing, seperti gabus yang dipermainkan gelombang laut. Di waktu muda mereka berjaya, di waktu tua mereka menderita panjang, dan susah mati-mati. Mereka telah memilih bagian yang mereka inginkan sendiri. (Lihat Surat Al Baqarah, 15).

    Kelima, Allah hendak memperlihatkan kehormatan-Nya atas makhluk-Nya, dengan memperlakukan orang-orang durhaka itu seperti apapun yang Dia suka. Dia Maha Berkehendak, sehingga tidak ada satu pun yang bisa mencampuri kehendak-Nya. Suatu ketika, Dia bisa membuat manusia durhaka itu bertaubat atas kedurhakaan-Nya; atau Dia menjadikan pembela kedurhakaan suatu saat berbalik menjadi pembela-Nya; tetapi bisa juga Dia menenggelamkan mereka dalam lumpur penderitaan, atau meremukkan hidup mereka dengan siksa yang datang tiba-tiba. Allah Maha Berkehendak, Dia melaksanakan urusan-Nya. “Sesungguhnya Allah melaksanakan apa yang Dia kehendaki.” (Huud: 14).

    Orang-orang seperti Mbah Dur, Shinta Nuriyah, JIL, Gunawan Mohamad, Moamar Emka, Ayu Utami, Rieke Dyah, Nia Dinata, Riri Riza, dan lain-lain. Jangan pernah Anda merasa aman dengan menghujat agama Allah. Anda terlalu lemah untuk menghadapi makar Allah. Tidak ada yang simpati dengan kerja-kerja kedurhakaan Anda, kecuali orang-orang yang tidak mengerti. Orang-orang ini sebenarnya tidak membawa apa-apa, selain memikul kebodohannya sendiri.

    Penghujatan Nia Dinata Cs atas moralitas Ummat Islam di Indonesia, sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Mereka telah sempurna dalam memperlihatkan arogansinya. Betapa tidak, mereka telah bekerja setidaknya 10 tahunan untuk menghalang RUU Pornografi. Sementara korban yang telah berjatuhan akibat mesin pornografi ini sudah amat sangat banyak. Mereka sudah melengkapi syarat-syarat kebinasaannya. Sepenuhnya nasib mereka di Tangan-Nya.

    Kepada Allah kita berlindung dari segala fitnah yang membinasakan, serta memohon perlindungan dari siksa dalam wujud apapun. Kepada-Nya kita memohon maaf dan ampunan atas segala kelemahan diri, ketidakberdayaan, serta dosa-dosa. Teringat ucapan Abdul Muthalib, kakek Rasulullah Saw., saat Ka’bah akan dirusak oleh Abrahah. “Rumah ini adalah milik Allah, maka Dia pula yang akan menjaganya.” Begitupun, Islam dan moral manusia adalah amanah (titipan) dari Allah, maka Dia pula yang akan menjaganya. Kita hanya sebatas berusaha sekuat tenaga.

    Demi Allah, andai taubat orang-orang itu bisa menghentikan merebaknya dosa-dosa pornografi yang telah tersebar di seluruh Nusantara dan di muka bumi, tentu melihat mereka bertaubat lebih kita sukai. Tetapi dosa-dosa itu telah merajalela, tersebar sedemikian luas, merasuk sampai ke celah-celah tersempit. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

    Nia Bicara Soal Kain Kafan

    Nia sempat diingatkan oleh seorang ibu-ibu. Beliau bertanya sederhana, “Mbak Nia, bagaimana kalau anak Anda sendiri menjadi korban pemerkosaan akibat tayangan VCD-VCD porno?” Namun Nia lagi-lagi memperlihatkan arogansinya. Dia merasa tidak takut dengan tersebarnya VCD-VCD itu. Dia mengatakan, kalau di dekat sekolah anaknya ada penjaja-penjaja VCD porno, dia akan lapor polisi agar semua itu diberantas sampai tuntas. Nia sangat berlagak (pilon)!

    Dia begitu yakin bahwa kontrol dirinya akan sanggup menyelamatkan anak-anaknya dari bahaya pornografi. Dia menasehati masyarakat agar melapor polisi kalau melihat VCD-VCD porno dijajakan. Seolah, kita semua ini tidak tahu bahwa di sekitar kita ada polisi. Mungkin, Nia merasa dirinya orang pertama dan perintis paling awal yang melapor polisi soal VCD porno. Ya Allah, dia meremehkan sikap tanggap masyarakat yang sejak lama melapor polisi soal itu. Bahkan masyarakat berani menulis di surat kabar tentang keberadaan penjual VCD-VCD porno itu.

    Sejak dulu kasus VDC porno ini dilaporkan. Kalau Anda pergi ke Mangga Dua Jakarta, pusat bisnis elektronik. Di bawah jembatan di dekat tempat itu banyak orang menjual VCD-VCD porno secara terang-terangan. (Untuk saat ini saya kurang tahu, tapi sekitar 2005-2006 lalu saya meihatnya). Padahal di dekat tempat itu kadang terdapat polisi yang mangkal. Jadi, selama belum ada aturan yang tegas, polisi akan terus ragu untuk memberangus produk-produk pornografi itu. Sudah tidak terhitung berapa kali masyarakat kaum Muslimin mendesak aparat negara agar bersikap keras kepada jaringan pengedar media pornografi dan model-modelnya. Tetapi ya itu, dari dulu ya begini-begini saja.

    Dan yang sangat menggelikan adalah alasan Nia Dinata ketika ada orang meninggal di dekat komplek rumahnya. Kata Nia, ada orang meninggal, keluarganya tidak punya biaya sekedar untuk membeli kain kafan. Maka Nia dan warga di sekitarnya mengumpulkan iuran untuk membeli kain kafan. Lucu memang, dari soal pornografi tiba-tiba masuk ke masalah kain kafan. Nia berdalih, “Daripada ngurusi soal pornografi, lebih baik Pemerintah memperhatikan soal kemiskinan!”

    Wah, betul-betul hancur akal orang satu ini. Dia tidak bisa tegak berpikir seperti manusia sewajarnya. Dia terus mencari-cari alasan untuk membela industri esek-esek, meskipun dengan alasan paling mustahil sekalipun. Dia tidak peduli. Ibarat mencari akar di malam hari, dalam situasi gelap, apapun yang seperti akar akan diambilnya, termasuk seokor ular berbisa. Bukan akar yang didapat, tetapi kematian yang menjemput. Teringat sindiran Buya M. Natsir –rahmatullah ‘alaih- saat membantah pemikiran-pemikiran Kemalisme Soekarno. Ketika Soekarno terjepit, apapun alasan dia kemukakan, tak memandang apakah alasan itu layak atau tidak. “Ibarat orang tenggelam,” kata Buya Natsir. “Dia akan terus mencari pegangan, meskipun ia adalah ibu jari kakinya sendiri.”

    Nia Nia, rasanya terlalu sayang menanggapi pikiran-pikiran kumalmu ini. Anda sama sekali tidak layak menjadi apapun, hingga menjadi diri Anda sendiri. Anda dan kawan-kawan adalah hakikat munafik yang paling terang-terangan. Betapa tidak, Anda kemukakan segunung alasan “ilmiah dan cerdas”, hanya sekedar untuk menyelamatkan industri pornografi. Pada saat yang sama, Anda merasa peduli dengan kemiskinan masyarakat. Ho ho ho, luar biasa! Cantik nian alasan para pahlawan kesiangan ini. Sejak dulu, kapitalisme adalah menghisab keringat masyarakat, sampai tidak menetes keringat mereka walau hanya setetes. Kapitalisme adalah sistem dajjal yang telah menyebabkan manusia di muka bumi sengsara. Kemiskinan dan ketertindasan adalah buah sistem ini.

    Lalu bagaimana dengan industri kapitalis yang menjual-belikan gambar –maaf- kemaluan wanita dan adegan senggama? Apakah ia berdampak membebaskan manusia dari kemiskinan dan menolong derita mereka? Ya, tanyakan kepada Mbak Nia Dinata sang pahlawan pembebasan penderitaan kaum wanita ini. Tanyakan ke dia, apakah dia masih berhati manusia? Pornografi itu bukan hanya menyebabkan kemiskinan materi, tetapi juga kemiskinan jiwa, kemiskinan akal, perilaku, keimanan, moralitas, prestasi, etika, nurani, dan lain-lain. Complex poverty!

    Penutup

    Sebenarnya, problem pornografi itu masalah universal. Tidak melulu urusan Ummat Islam atau menjadi agenda Islamisasi (seperti igauan orang-orang licik). Ini masalah universal. Contoh, FBI pernah mengejar situs penyedia hiburan seks pedofilia, yang mengeksploitasi anak-anak. Tuduhan FBI tertuju ke dua negara, Indonesia dan Rusia. Mereka mengerahkan operasi serius untuk mengejar situs pedofili itu. Amerika yang ultra liberal pun anti pornografi, setidaknya dalam lingkup pedofili (seks melibatkan anak-anak). Hanya sayangnya, mereka tidak serius menjaga remaja, generasi muda, dewasa, bahkan orang lanjut usia. Kalau sudah mencapai 17 tahun ke atas, dianggap sudah boleh melakukan apa saja.

    Indikasi paling universal yang mudah dipahami, adalah pertanyaan berikut: “Apakah para pengelola bisnis pornografi itu rela kalau isteri, anak-anak, ibu, kakak atau adik perempuan mereka, yang dijadikan obyek pornografi?” Saya yakin, hanya manusia gila, edan gak ketulungan, sinting sesinting-sintingnya, yang rela membiarkan kehormatan keluarganya menjadi tontonan manusia sedunia.

    Tanpa harus bicara soal Syariat Islam pun, semua pihak menolak praktik pornografi dan pornoaksi. Sebab mereka semua tidak mau kalau keluarganya sendiri dieskploitasi menjadi obyek-obyek pornografi. Jadi, persoalan yang ada disini adalah benturan antara dua kepentingan besar: Upaya penjagaan moral masyarakat dan Industri media esek-esek. Pihak pertama serius ingin menyelamatkan masa depan bangsa; sedang pihak kedua ingin menghancurkan moral bangsa ini, sembari bisa meraup keuntungan materi segunung.

    Lalu, pihak mana yang Anda dukung? Penyelamat bangsa atau perusak bangsa? Ya, silakan memilih, sesuai akal sehat masing-masing. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Wallahu a’lam bisshawaab.

    Bandung, 24 Oktober 2008.

    AM. Waskito.
    http://abisyakir.wordpress.com

  1. Oktober 27, 2008 pukul 3:26 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: