Beranda > Kriminal > Kontroversi Surat Wasiat Imam Samudera

Kontroversi Surat Wasiat Imam Samudera

Serang, KOMENTAR
Keluarga membagi-bagikan surat wasiat Imam Samudra kepada warga dan wartawan yang berada di sekitar kediaman Ibunda Imam di Kampung Lopang Gede, Kelurahan Lopang, Kecamatan Serang, Banten. Dalam surat tersebut, Imam menyerukan untuk terus berperang melawan kaum kafir. Surat tersebut berbentuk seca-rik kertas berukuran HVS yang
dibagi-bagikan oleh salah seorang pria pada Minggu (09/11). Berikut surat wasiat Imam Samudera tersebut.

“Saudara, aku wasiatkan kepada antum dan seluruh umat Islam yang telah mengazzamkan dirinya kepada jihad dan mati syahid untuk terus berjihad dan bertempur melawan setan akbar, Amerika dan Yahudi laknat. Saudaraku, jagalah selalu amalan wajib dan sunnah harian antum semua. Sebab dengan itulah kita berjihad dan sebab itulah kita mendapat rizki mati syahid. Janganlah anggap remeh amalan sunnah akhi, sebab itulah yang akan menyelamatkan kita semua dari bahaya futur dan malas hati.

Saudaraku, jagalah salat malammu kepada Allah Azza Wajalla. Selalulah isi malam-malammu sujud kepada-Nya dan pasrahkan diri antum semua sepenuhnya kepada kekuasaannya. Ingatlah saudaraku, tiada kemenangan melainkan dari Allah semata.

Kepada antum semua yang telah mengikrarkan dirinya untuk bertempur habis-habisan melawan anjing-anjing kekafiran, ingatlah perang belum usai. Janganlah takut cercaan orang-orang yang suka mencela, sebab Allah di belakang kita. Janganlah kalian bedakan antara sipil kafir dengan tentara kafir, sebab yang ada dalam Islam hanyalah dua, adalah Islam atau kafir.

Saudaraku, jadilah hidup antum penuh dengan pembunuhan terhadap orang-orang kafir. Bukanlah Allah telah memerintahkan kita untuk membunuh mereka semuanya, sebagaimana mereka telah membunuh kita dan saudara kita semuanya. Bercita-citalah menjadi penjagal orang-orang kafir. Didiklah anak cucu antum semua menjadi penjagal dan teroris bagi seluruh orang-orang kafir. Sungguh saudaraku, predikat itu lebih baik bagi kita dari pada predikat se-orang muslim, tetapi tidak peduli dengan darah saudaranya yang dibantai oleh kafirin laknat. Sungguh gelar teroris itu lebih mulia dari pada gelar ulama. Namun mereka justru menjadi penjaga benteng kekafiran.”

MUI

Menanggapi surat yang ditulis Imam Samudera, MUI angkat bicara. Menurut MUI, teroris tidak bisa dibandingkan dengan ulama. “Semua bebas bicara. Teroris itu tidak mungkin bisa dibandingkan dengan ulama,” ujar Ketua MUI Umar Shihab, Minggu, (09/11). Menurut Umar, tidak ada perbandingan antara ulama dengan teroris. Tidak ada dasarnya dalam Al Qur’an yang menyatakan hal itu. Teroris dan ulama itu ibaratnya air dengan api yang tidak bisa disejajarkan. “Mana bisa membandingkan air dan api? Boleh saja mereka berkata seperti. Itu kebebasan. Tidak ada dasarnya dalam Al Qur’an,” jelasnya seraya menambahkan, Amrozi juga tidak mati syahid. “(Amrozi cs) Mati syahid tidak mungkin. Itulah orang yang membunuh tidak mungkin dikatakan syahid kecuali perang,” ujar Shihab.

Umar mengingatkan, defenisi syuhada adalah orang-orang yang berjuang karena Allah SWT dan untuk kepentingan agama. Kalau bukan untuk kepentingan agama bukan mati syahid. “Syahid dunia dan akhirat,” jelasnya. Menurut Umar, kalau dalam kondisi damai lalu membunuh, hal itu tidak dibenarkan. Tidak ada dalam agama apa pun yang membenarkan membunuh siapapun. “Saya kira tidak benar (membunuh). Kita tidak dalam perang. Kita dalam keadaan damai dan apa yang dilakukan mereka (mem-bom Bali) ada orang Islam yang terbunuh,” ujarnya.(dtc/*)

Kronologi Eksekusi Amrozi Cs Versi Kejagung

Pukul 23.15 WIB (Sabtu 8 Desember)
Petugas jaksa eksekutor menjemput ketiga terpidana mati untuk dibawa ke lembah Lebay yang berjarak dua kilometer dari Lapas Batu Nusakambangan.

Pukul 00.00 WIB
Ketiga terpidana mati siap dieksekusi dengan didampingi oleh jaksa sebagai eksekutor, satuan Brimob, rohaniawan serta dokter.

Pukul 00.15 WIB (Minggu 9 Desember)
Eksekusi terhadap ketiga pelaku Bom Bali dilaksanakan.

Pukul 01.00 WIB
Jenazah dibawa ke poliklinik LP Nusakambangan untuk diotopsi dan dijahit bagian yang ditembak. Kemudian jenazah dimandikan oleh pihak keluarga dan dikafani juga oleh keluarga terpidana mati. Kain kafannya pun adalah kain kafan yang disediakan oleh pihak keluarga.

Pukul 04.00 WIB
Jenazah disalati di Masjid LP Nusakambangan.

Pukul 05.45 WIB
Serah terima jenazah dari petugas Kejaksaan kepada pilot yang membawa jenazah yang kemudian diserahkan ke pihak keuarga.

Pukul 06.00 WIB
Tiga helikopter diberangkatkan dari Nusakambangan. Satu heli membawa jenazah Abdul Azis alias Imam Samudera yang akan diberangkatkan ke Serang, Banten. Dua heli menuju Lamongan. Satu heli membawa jenazah Amrozi dan Ali Gufron alias Mukhlas dan satu lagi membawa keluarganya.

Pukul 08.30 WIB
Helikopter yang membawa Imam Samudera mendarat di Serang dan diserahterimakan kepada keluarga dalam hal ini diwakili oleh Agus. Lalu jenazah disalati dan dimakamkan.

Pukul 08.55 WIB
Jenazah Amrozi dan Mukhlas mendarat di kampung halamannya di Lamongan, Jawa Timur.(**)

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: