Beranda > Sejarah > McAvoy: Adam Malik Agen CIA

McAvoy: Adam Malik Agen CIA

Jakarta, KOMENTAR
Petinggi CIA (Dinas Rahasia AS), Clyde McAvoy dalam wawancaranya dengan wartawan The New York Times, Tim Weiner menyebutkan, bahwa Pahlawan Nasional yang juga mantan Wapres RI, Adam Malik sebagai agen CIA. Hal ini dimuat dalam buku Legacy of Ashes, The History of CIA (Membongkar Kegagalan CIA).

Dalam buku yang ditulis peraih Penghargaan Pulitzer, Tim Lerner tersebut, McAvoy mengaku menemui Adam Malik pada tahun 1964. Tim menuliskan bahwa Adam Malik direkrut dan dikontrol oleh petinggi CIA, McAvoy. Hanya saja pengungkapan ini mengundang keraguan sejumlah kalangan di Indonesia.

Malah Sejarawan Asvi Warman Adam menilai, pernyataan dalam buku itu fitnah. Menurut Asvi pernyataan McAvoy itu wajib diragukan, sebab selain tidak didukung oleh dokumen yang kuat dan saksi, Adam Malik juga telah meninggal. “Jadi ini hanya pernyataan sepihak pada seseorang yang sudah tidak mungkin memberikan konfirmasi atau jawaban,” ujar Asvi, Minggu (23/11). Kemungkinan besar, McAvoy menyatakan hal ini hanya untuk kepentingan mengangkat nama baiknya saja. “Akan terdengar luar biasa kan kalau seorang petinggi negara lain pernah dia jadikan agen. Mungkin dia hanya cari nama saja”.

Asvi juga mengkritik tulisan dalam buku yang mengkaitkan sumbangan CIA sebesar US$ 10 ribu pada Indonesia untuk memerangi komunis dengan keterlibatan Adam Malik dalam CIA. “Amerika Serikat berkepentingan dengan pemberantasan komunis, mereka bukan hanya menyumbang uang tapi juga senjata,” ujarnya.

Sependapat dengan Asvi, pengamat intelijen Wawan Purwanto menilai peryataan McAvoy sangat tidak akurat. Perekrutan agen intelijen, kata Wawan bukan hal yang sembarangan. Tindakan itu akan dilakukan dengan sangat rahasia disertai dengan dokumen rahasia yang pasti ada dalam dokumentasi CIA. “Paling tidak ada surat tugas atau surat keputusan yang jelas tentang kebaradaan agen tersebut,” ujarnya.

Adam Malik secara personal, kata Asvi memang pribadi yang luwes dan mudah bergaul. “Dia mantan wartawan dan juga Duta Besar RI untuk Uni Soviet, jadi kalau pengetahuan yang bersifat umum dia pasti tahu banyak,” ujarnya. Terkait dengan gerakan 30 September PKI, lanjut Asvi, Adam juga memberikan keterangan dalam posisinya selaku pejabat negara atau eksekutif. “Sepertinya tak ada dokumen negara yang di-serahkan ke pihak lain, sebab kalau kerja intelijen berarti dia pasti menyerahkan dokumen rahasia negara dong”.

Sehingga tulisan dalam buku tersebut, kata Asvi harus diluruskan. Keluarga dan pemerintah harus membantah tulisan tersebut, sebab Adam adalah bapak negara yang harus dijaga nama baiknya. “Mungkin pemerintah melalui Departemen Sosial dan Menteri Sekretaris Negara harus membantah, kalau perlu menanyakan kepada penulisnya apa bukti, dokumen atau saksi atas pernyataan yang dibuatnya,” ujar Asvi. Penarikan buku dari peredaran, kata Asvi juga bisa jadi salah satu alternatif untuk menghentikan tuduhan dan fitnah pada Adam Malik ini.

 
Wawan berpandangan lain soal penarikan buku, menurutnya itu tak perlu dilakukan. “Kalau dilakukan akan memperlaris buku, sebab orang jadi bertanya-tanya apa isi buku itu,” ujarnya. Klarifikasi dari keluarga dan pemerintah menjadi alternatif solusi yang paling tepat. Menurutnya isu harus dibantah dengan isu. “Keluarga harus menerbitkan buku putih atau paling tidak konferensi pers untuk membantah tuduhan ini”

Technorati Tags: ,,,,
Kategori:Sejarah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: