Beranda > Daerah > Jalan Roda, Barometernya Manado

Jalan Roda, Barometernya Manado

Manado-TRIBUN
NAMA Jalan Roda (Jarod) memiliki makna tersendiri. Jalan ini identik dengan warung-warung bernuansa tempoe doloe yang menyajikan kopi yang khas. Selain hanya kopi, Jalan Roda identik dengan tempat nongkrong dan ngobrol. Tak heran, perbincangan politik di Jalan Roda membuat jalan ini diistilahkan perlemen jalanan.

Tidak terlalu sulit menemukan Jalan Roda, walaupun tidak ada angkot yang mengantarkan langsung ke Jalan Roda, tetapi letak tempat ini sangat strategis berada di pusat kota Manado. Tempat ini berada di Jalan Walanda Maramis tepat di sebelah kiri, bila jalan kaki sekitar 100 meter ke sebelah selatan dari Taman Kesatuan Bangsa (TKB).

Jalan ini diapit oleh gedung-gedung pertokoan, di sebelah kiri merupakan Kampung Pecinan dan di sebelah kanan Shoping Center. Tempat ini tidak terlalu luas, karena awalnya tempat ini sebuah jalan raya biasa. dari gerbang depan sampai gerbang belakang hanya berjarak sekitar 100 meter.

Tidak ada yang tahu persis, kapan Jarod ini berdiri, awalnya tempat ini hanya warung-warung kecil yang menjajakan, kopi, makanan ringan dan tempat menyimpan roda grobak Pedagang Kaki Lima (PKL), seiring berjalannya waktu tempat ini berubah menjadi tempat yang banyak dikunjungi orang. Bukan hanya tempat untuk ngopi, makan-makan dan ngobrol-ngobrol biasa saja, tetapi menjadi pusat informasi politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Di tempat ini berbagai kalangan berkumpul, dari petani, pengusaha, pengacara sampai Pejabat juga ada, baik itu pria maupun wanita. Biasanya mereka membicarakan tentang situasi politik terkini, harga barang-barang pertanian sampai gosip artis terkini. Tapi di sini juga tempat berkumpul sebagian masyarakat manado dan sekitarnya untuk membicarakan masalah bisnis, dari yang berharga puluhan ribu hingga ratusan juta rupiah.
Warung-warung yang ada di Jalan Roda, sebagian milik Pemerintah Kota Manado dan sebagiannya lagi milik masyarakat. Di sisi sebelah kiri jalan ini, berjajar warung-warung berwarna kuning, semuanya adalah milik Pemerintah Kota. Sedangkan di sebelah kanan berjajar juga warung-warung yang sebagian milik pemerintah dan sebagiannya lagi milik masyarakat. Satu buah warung disewa dengan harga Rp 4 juta pertahun.
Nama Jarod sendiri diambil dari fungsi jalan ini sebelumnya yaitu sebagai tempat menyimpan roda-roda PKL yang berjualan di daerah Pasar 45 dan sekitarnya.

Warung-warung di Jalan Roda buka pukul 04.00 Wita sampai pukul 19.00. Jajanan yang disediakannya pun banyak dan murah. Harga satu gelas kopi Rp 3.000 dan apabila tidak mempunyai uang bisa membeli 1/2 gelas saja seharga Rp 2.000. Minum kopi di sini sangatlah menyenangkan karena kopinya enak juga suasananya asik, kita bisa ngopi sambil bermain catur, billiard, halma dan juga monopoli. Dengan ditemani Pisang Goroho (sejenis pisang yang rasanya hambar) dan di cocol dengan sambal, makin nikmat rasanya. Tetapi bagi yang lapar, di sini juga tersedia warung yang menyediakan berbagai jenis nasi rames dengan lauk pauknya.

Mengolah kopi
Kopi yang di Jarod sangat khas, baik aroma maupun rasanya. Kopi yang digunakan tidak diolah sendiri, tetapi dibeli dari seorang pedagang kopi China setiap harinyai. Kopi tersebut diolah secara tradisional dengan cara di panaskan dengan cara di goreng tanpa menggunakan minyak (songara, istilah Manado), kemudian ditumbuk lalu diberikan campuran khusus seperti metega atau bahan-bahan lainnya supaya rasa kopi menjadi lebih enak dan dikeringkan. Kopinya pun tidak halus seperti kopi pada umumnya, tetapi masih sangat kasar dan berbentuk butiran-butiran besar sehingga harus menggunakan saringan saat menyedunya..

Kopi yang masih berbentuk besaran-besaran tersebut kemudian diseduh dengan air mendidih supaya rasanya lebih enak. Proses memanaskan airnya pun bervariasi, ada yang menggunakan kompor minyak tanah dan ada yang menggunakan arang. Kopi kemudian dimasukan kedalam getel yang berisi air mendidih. Supaya kopinya tidak terbawa saat disajikan, biasanya para pedagang menggunakan saringan khusus untuk memisahkan ampas kopi dengan airnya. Lima sendok kopi, dipanaskan dengan satu getel air yang bisa disajikan menjadi 10-15 gelas. Air harus tetap dalam keadaan mendidih supaya rasanya tetap enak.

Cara penyajian satu gelas kopi susu pun sangat khas, susu kental manis di tuangkan dalam gelas, kemudian baru diseduh dengan air kopi yang mendidih. untuk menyajikan satu gelas kopi membutuhkan waktu sekitar tiga menit.

Mengapa jalan roda tidak digusur
Pernah ada wacana dari Pemerintah Kota Manado akan menggusur jalan ini, tetapi karen Jalan Rada ini sudah menjadi suatu tempat bertemunya sebuah komunitas seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pejabat, mahasiswa, artis, budayawan, petani, nelayan dan berbagai element yang ada dalam masyarakat Manado, menyebabkan lokasi ini tetap di pertahankan oleh pemeritah ataupun masyarakat. Selain itu dilihat dari sisi historis Jalan Roda dianggap sebagai barometer Kota Manado yang berdiri sejak lama.

Pernah ada rencana Pemerintah Kota Manado akan menggusur tempat ini, tapi banyak orang Manado yang menolaknya, akhirnya keberadaan Jalan Roda ini tetap dipertahankan. Jalan Roda sebagai barometer Kota Manado menjadi alasan kuat untuk masyarakat supaya keberadaan Jarod tetap di pertahankan. Selain itu, tempat ini pun merupakan tempat berkumpul berbagai komunitas masyarakat Manado dan banyaknya orang sukses dan terkenal dimulai dari Jarod.

Pemerintah hanya menata kembali Jalan Roda supaya lebih rapi. para penjual yang berada di tepi jalan Walanda Maramis ditertibkan. warung-warung di jarod pun sudah tertata dengan baik. Apalagi setelah mendapat bantuan dari pejabat PLN Kota Manado pada tahun 2003, kondisi Jarod menjadi lebih nyaman karena sepanjang jarod di beri atap.

Zona di Jalan Roda
Jalan ini sangat unik, walaupun tidak direncanakan, tapi komunitas-komunitas yang ada di tempat ini seakan membutat zona tersendiri. Gambaran Jalan Roda dari depan sampai ujung di tempati oleh komunitas-komunitas tertentu.

Saat memasuki jalan ini, anda akan bertemu dengan zona komunitas pejabat, artis, budayawan dan mahasiswa. Biasanya di zona ini ada acara organ tunggal setiap hari selasa dan sabtu.

Kemudian masuk pada zona ke dua adalah zona para pembisnis, beraneka ragam bisnis yang diperbincangkan mulai dari bisnis asuransi, makelar, pertanian, keungan dan bisnis lainnya.

Selanjutnya masuk zona ketiga yaitu zona komunitas politik, di zona ini banyak orang-orang politik, dari para aktivis partai sampai calon legislatif.

Lalu masuk ke zona terakhir adalah zona masyarakat umum, di zona ini banyak kalangan masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan, petani, pedagang, penggemar catur dan halma.

Komentar
Syuaib Sulaeman (37) Guru PAI di SMP Negeri 7 Manado
“Jalan Roda merupakan barometer Kota Manado dan memiliki nilai historis tersendiri bagi masyarakat Manado. Banyak orang yang sukses dengan memulai dari Jalan ini,”.

Wiwin Lausu (37)
“Makanan di Jalan Roda sangat murah dan terjangkau oleh berbagai kalangan masyarakat, kita pun bisa memesan kopi setengah gelas dengan harga Rp 1.500”

Willy Pangkley (63) seorang pegawai swasta warga Tumpaan, Amurang Minahasa Selatan
“Keberdaan Jalan Roda harus tetap dipertahankan, karena jalan ini merupakan bagian dari sejarah Kota Manado,”

Amna Snck (59) seorang penjual Kopi di Jalan Roda
“Jangan ada lagi penggusuran di Jalan Roda, karena tempat ini sudah menjadi sumber kehidupan keluarga . Kalau jalan ini digusur, kita mau makan dari mana,”

PEMILIK WARUNG SALEH
Berguru dari Suami
Amna Snck (59) warga Kampung Islam Kecamatan Tuminting berjualan kopi di Jalan Roda sejak tahun 1975 bersama Sang Suami Saleh Abdul (60). Dia belajar menyajikan kopi dari suaminya yang sebelumnya berprofesi sebagai penjual kopi di Pasar Citra sejak 16 tahun silam.

Siapa yang tidak mengenal Amna, seorang penjual kopi di Jalan Roda ini menggunakan cara yang sangat berbeda dari pedagang kopi lainnya. Air yang digunakan untuk menyeduh kopi, dia panaskan menggunakan bara arang. Satu hari butuh satu karung arang untuk terus memanaskan air sepanjang hari, sehingga rasa panas yang menyelimuti warung yang ditempati oleh perempuan dua cucu ini, sudah menjadi sesuatu yang biasa.

Bersama sang suami, dirinya mengelola warung kopi dari pagi hingga malam. Sang suami berangkat lebih dahulu daripada dirinya ke Jalan Roda sekitar pukul 05.00 Wita untuk membuka warung, kemudian Amna berangkat pukul 07.00 dari rumahnya dengan menggunakan angkot. setibanya di warung Amna langsung melayani pelanggan-pelanggannya. Faktor usia tidak menjadikannya surut memperjuangkan nasib keluarga dan anak-anaknya.

Suami yang sudah tua menuntut dirinya harus bekerja keras. Usaha dan kerja kerasnya pun mendapatkan hasil yang setimpal, usaha yang ditekuninya selama 33 tahun berbuah manis. Dia dan suaminya memiliki satu buah rumah dari hasil usahanya. Cukup besar pengahasilan yang diperolehnya setiap hari. “saya mendapatkan uang hasil penjualan setiap hari sebesar Rp 500 ribu, bila dikurangi untuk modal esok harinya, saya hanya mendapatkan penghasilan Rp 200 ribu,”ujarnya.

Amna berhasil menyekolahkan anak kedua dan ketiganya melanjutkan keperguruan tinggi. dari hasil berjualan kopi di jalan Roda dirinya bersama sang suami berhasil membangun rumah dan menyekolahkan anaknya sampai tingkat perguruan Tinggi. Anak keduanya Gulhan Abdul (27) masih kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi.

Saat ini Amna sedang memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang sebesar kurang lebih Rp 1,5 juta untuk membiayai KKN Gulhan yang duduk di semester enam tersebut. “Saya bersama suami sedang berusaha untuk mendapatkan uang supaya anak saya bisa Kkn di daerah Manado, soalnya takut juga kalau dirinya KKN di luar Manado walau biayanya sedikit murah. Sekarang saya sedang mengumpulkan uang sebesar Rp 1,5 juta,” katanya.

Meskipun dirinya sedang sakit, tapi dia tetap bersemangat melayani pelanggan, ditemani suami dan satu orang pembatu yang telah bekerja dua bulan. Dia sangat ahli sekali menyajikan kopi, rasa panas di warungnya tidak dihiraukan. Dia sangat senang dengan profesi yang dijalankannya sejak lama, walupun sudah tua bukan hambatan bagi dirinya untuk terus berjualan kopi. “Saya senang menjalani profesi ini, meskipun umur sudah tua begini, tapi tidak menjadi hambatan untuk terus berjualan,” katanya.

Sang suami hanya duduk melihat Amna melayani para pelanggan, sesekali sang suami membantu dirinya membuka kaleng susu. cukup terampil sekali suaminya, dengan waktu yang cepat kaleng susu bisa terbuka. Dirinya pun mengaku sangat sulit membuka kaleng susu tersebut, butuh tenaga yang besar untuk membuka satu kaleng susu. “Saya kurang begitu bisa membuka kaleng susu secepat itu, butuh tenaga yang besar untuk membukanya. Tapi suami saya sangat ahli,” katanya.

Selain itu dia belajar mengolah kopi dari suaminya, dirinya mengaku sejak menikah 35 tahun silam berguru kepada suami. “Saya membuka warung kopi ini setelah saya menikah, saya belajar banyak dari suami saya. Dia adalah suami sekaligus guru saya,” ucapnya sambil melihat ke arah sang suami yang duduk di sampingnya.

AKIBAT PENERTIBAN JAROD
Andalkan Anak untuk Biaya Hidup
Waktu menunjukan pukul 10.00 Wita, seorang oma duduk di sebuah warung pisang goroho, Selasa (16/12. Dia hanya melihat dan ngobrol dengan temannya yang masih berjualan di Jarod. Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa dirinya seorang korban penertiban Jarod empat tahun silam.

Noce Niklas (63) asal Gorontalo sudah tidak berjualan lagi selama empat tahun silam. setelah dirinya bersama suaminya menjalankan usaha di daerah jalan roda selam 15 tahun. Selama usahanya berjalan dia bersama Woso Haliku (73), suaminya, berhasil membangun sebuah rumah di daerah Kombos lingkungan empat.
Selain bisa membangun rumah, dari hasil usaha warungnya dikawasan jalan roda, dia bersama sang suami bisa membiayi kehidupan lima anaknya. walaupun anak-anaknya tidak mendapatkan pendidikan yang tinggi, tapi dia bersyukur dengan anak-anaknya yang bisa mengenyam pendidikan dasar. Sekarang anak-anaknya telah bekerja, satu orang bekerja di Sulawesi Tengah sebagai kuli bangunan dan empat anaknya yang lain tinggal di Manado.

Dahulu, dia bersama suaminya membangun sebuah rumah makan yang menjajakan nasi beserta lauknya, pisang goreng, dan kopi. usahanya tersebut berlangsung cukup lama, tapi warung yang menjadi roda ekonomi Nonce bersama suami harus hilang karena terkena penggusuran yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Manado empat tahun silam.

Oma yang memiliki 14 cucu ini hanya menangis bersama sang suami saat penggusuran terjadi. Penggusuran dilakukan tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu oleh Pemkot Manado kepada pedagan. Hal tersebut membuat dirinya hanya bisa menangis dan melihat warung yang menjadi sumber kehidupannya dibongkar dan diangkut ke dalam truk.”Saya tidak bisa berbuat apa-apa waktu itu hanya bisa menangis bersama pedagang-pedagang yang ikut kena gusur,” katanya mengenang kejadian itu.

Kini kehidupannya sangat tergantung kepada keenam anaknya. Apalagi suami tercinta Nonce sudah tua dan hanya bisa tinggal di rumah, membuat beban hidup yang dijalaninya semakin berat, melihat dirinya pun sudah lemah dimakan usia. “Sangat susah mencari mata pencaharian lain,apa lagi di zaman yang serba sulit kayak gini,” katanya sembari melihat temannya menggoreng pisang

Iklan
  1. saba
    Maret 17, 2009 pukul 12:49 am

    aku sring jalan-jalan dijarot, suasanya enak. mau minum kopi dengan pisang goreng yang lagi panas, sedap skali. ditammbah dengan rokok. sambil diskusi dengan teman-teman. jadi suatu hal yang salah jika pemerintah manado akan menggusur tempat itu.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: