Arsip

Archive for the ‘Daerah’ Category

Pengumuman Kelulusan Peserta Ujian CPNS Tahun 2010

Desember 19, 2010 9 komentar

Berikut daftar nama-nama yang lulus Ujian CPNS Tahun 2010 Provinsi Sulawesi Utara dan Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara Baca selanjutnya…

Iklan

Rumah Wakil Ketua Dekot Tomohon ‘Diserbu’ Massa Demokrat

Maret 31, 2009 1 komentar

Tomohon, KOMENTAR
Pergantian Antar Waktu (PAW) terhadap anggota De-kot Tomohon utusan Partai Demokrat yang telah heng-kang ke Partai Patriot, Didi Ekel, berbuntut panjang. Setelah sebelumnya massa Partai Demokrat melaku-kan unjuk rasa untuk men-desak dilaksanakannya PAW Ekel, Senin (30/03) kemarin mereka kembali melakukan aksi serupa.

Namun menariknya, dalam aksi kali ini rumah Wakil Ketua Dekot Tomohon, Piet HK Pungus SPd ikut jadi sasaran.
Dari pantauan wartawan, massa mendatangi Kantor De-kot Tomohon sekitar pukul 10.00 WITA. Seperti sebelum-nya, di Kantor Dekot ratusan massa yang dipimpin langsung Ketua DPC Partai Demokrat Marthen Manoppo, menyam-paikan protes atas lambatnya pelaksanaan PAW terhadap Ekel. Mereka mendesak agar Welby Pandey segera dilantik sebagai pengganti Ekel meng-ingat SK PAW telah ditandata-ngani Gubernur Sulut, Drs SH Sarundajang.
Namun sayang, tidak ada sa-tu pun pimpinan maupun ang-gota dewan yang bersedia mene-rima kedatangan massa Demo-krat. Mereka hanya diterima Bagian Humas Dekot Tomohon.
Karena kecewa tidak bertemu dengan anggota dewan, masa pun menuju Kantor Pemkot To-mohon untuk meminta berte-mu langsung dengan Walikota Tomohon, Jefferson SM Ruma-jar dan Wakil Walikota, Syennie Lineke Watoelangkow. Tapi sa-yang, di Pemkot Tomohon ke-inginan para pendemo lagi-lagi tidak terpenuhi.
Kemudian sekitar pukul 12.00 WITA, dengan menum-pangi berbagai macam kenda-raan massa menuju kediaman Piet HK Pungus, di Kelurahan Kakaskasen Dua, Kecamatan Tomohon Utara. Di sana mere-ka kembali berorasi menyam-paikan beberapa poin tuntutan yang intinya meminta agar PAW terhadap Ekel dipercepat. “Kami minta PAW Ekel diper-cepat mengingat batas waktu hanya sampai tanggal 31 Maret 2009,” teriak massa yang keda-tangannya sempat membuat gempar warga sekitar.
Sementara itu, sejumlah war-ga yang ditemui wartawan me-nilai aksi unjuk rasa tersebut salah alamat atau tidak pada tempatnya. Menurut mereka, PAW Ekel merupakan urusan kelembagaan dewan, bukan urusan pribadi Piet Pungus.
“Seharusnya pimpinan Partai Demokrat Tomohon memper-timbangkan dampak yang bisa ditimbulkan akibat demo ini. Kalau ada perlawanan dari warga sekitar yang merasa ter-ganggu, pasti akan memicu ke-kacauan,” ungkap seorang ibu yang meminta namanya dira-hasiakan.
Pada bagian lain, Piet Pungus mengatakan PAW Ekel tetap akan dilaksanakan karena telah disetujui. “Yang dimak-sud batas akhir sampai 31 Ma-ret 2009 bukan pelantikan, te-tapi proses pengajuannya. Jadi jangan khawatir, PAW tetap di-laksanakan,” terangnya.

Kategori:Daerah Tag:, ,

Oroh: Tapi Saya Hanya Jalankan Perintah Atasan

Maret 31, 2009 Tinggalkan komentar

Manado, KOMENTAR
Sekretaris Dewan (Sekwan) Kota Manado, Drs Freddy Oroh, kembali menjalani pemeriksaan di Polda Sulut, terkait dugaan SPPD fiktif Tahun 2008 yang menyebabkan terjadinya kerugian negara, Senin (30/03) kemarin. Menariknya, di sela-sela pemeriksaan, Oroh mengaku bersalah. “Saya mengaku salah, tapi saya hanya menjalankan perintah atasan, dalam hal ini ketua (Ferro Taroreh),” tukasnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Bahkan sambil menarik dalam-dalam rokoknya, Oroh menyatakan sebagai bawahan, mau tidak mau perintah harus diturutinya, termasuk sejumlah staf di Setwan. Oroh juga menyatakan, beberapa kali Ferro dalam keadaan mabuk meminta uang dengan paksa ke sejumlah stafnya, sampai para staf ketakutan dan menangis dibuatnya. “Bahkan yang terakhir ini dia minta pencairan dana, tapi sudah tidak saya turuti. Hal ini membuat dia mengamuk di kantor,” ujarnya blak-blakan.

Dikatakannya lagi, sedangkan dimintakan uang saja oleh Ferro, para stafnya sudah menangis ketakutan, apalagi berani memalsukan tanda tangannya. “Tidak ada yang berani melakukan itu, baik saya mau pun staf,” kata Oroh lagi. Pada bagian lain, Oroh menjelaskan, undangan mengikuti kegiatan yang masuk ke Dekot Manado, jumlahnya banyak.

Namun keputusan untuk ikut atau tidak, semuanya di tangan pimpinan. Diakuinya juga, dia mengenal Hi Dahrul Rachman yang sudah dijadikan tersangka dan ditahan Polda. Bahkan mereka pernah beberapa kali berhubungan lewat telepon terkait undangan yang sering dilayangkan institusi yang dipimpin Dahrul. Dikatakannya juga, dia pernah menghadiri kegiatan yang dilaksanakan Dahrul, dan memang acara tersebut ada dan tidak fiktif.

Sementara pihak Polda Sulut yang dikonfirmasi lewat Kabis Humas, AKBP Benny Bella mengakui, pemeriksaan yang sementara dilakukan lagi terhadap Oroh. Namun soal status Oroh dalam pemanggilan kemarin apakah saksi atau tersangka, tidak dijawab Bella. “Iya benar, dia baru diperiksa kembali lagi,” kata Bella singkat kepada wartawan di ruang kerjanya. Sementara itu berdasarkan pantauan wartawan hingga pukul 22.00 Wita tadi malam, pemeriksaan tersebut masih berlangsung. Sedangkan Ferro yang masih mendekam di ruang tahanan, belum berhasil dikonfirmasi terkait pernyataan Oroh.

DOKUMEN
Pengadilan Negeri Manado telah mengeluarkan surat persetujuan izin penyitaan terhadap seluruh dokumen yang terkait dengan kasus SPPD fiktif. Hal ini dibenarkan Ketua Pengadilan Negeri Manado Eddhi Sudarmuhono melalui Panitia Muda (Panmud) Pidana Mansur Malaka SH MH. “Hari ini (kemarin, red) sudah dikeluarkan surat persetujuan penyitaan terhadap seluruh dokumen SPPD pada tahun 2008 yang ada di DPRD Kota Manado.

Pokoknya berkaitan dengan kasus SPPD fiktif yang menyeret nama pak Ferro Taroreh yang sedang ditangani pihak Polda Sulut,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, surat persetujuan ini untuk menjawab surat permohonan penyitaan yang dilayangkan pihak Dit Reskrim Polda Sulut yang diterima PN Manado pada pekan lalu. “Dengan adanya surat persetujuan penyitaan dari pengadilan tersebut, maka dengan sendirinya pihak Polda Sulut sudah boleh melakukan penyitaan terhadap dokumen-dokumen yang berkaitan dengan kasus tersebut.

Kategori:Daerah

Kejari Tomohon Periksa Staf Dinas Pertanian

Maret 25, 2009 1 komentar

Tomohon, KOMENTAR
Dugaan proyek fiktif di Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Perikanan Tomohon mulai ditindaklanjuti Kejari Tomohon dengan melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah staf di dinas tersebut. Hal ini terungkap melalui Kepala Kejari Tomohon, Bambang Gunawan SH yang dihubungi wartawan, Senin (23/03).

Dikatakannya, pemeriksaan terhadap sejumlah staf Dinas Pertanian dilakukan dalam rangka pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket). Sementara materi pemeriksaan antara lain terkait pengeluaran anggaran proyek dan proses administrasinya. “Karena masih pulbaket, jadi kami telusuri dulu alur pengeluaran anggaran dan admistrasinya,” terang Gunawan.

Ditanya apakah kepala dinas juga akan dipanggil untuk diperiksa, Gunawan mengatakan hal itu bisa saja dilakukan. “Setelah bahan dan keterangan dikumpulkan, baru akan diketahui apakah kepala dinas perlu diperiksa atau tidak,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Perikanan Tomohon, Ir Vony Pontoh ketika dikonfirmasi membenarkan adanya pemeriksaan tersebut. Namun sayang ia enggan memberikan keterangan lebih jauh soal pemeriksaan yang dijalani bawahannya. “Tidak etis kalau saya memberikan keterangan soal pemeriksaan yang dilakukan Kejari. Jadi sebaiknya Anda tanyakan saja ke Kejari,” katanya.

Diketahui, dugaan proyek fiktif di Dinas Pertanian dilaporkan secara resmi ke Kejari Tomohon oleh Ketua TCW, Harold Lumempouw SH, pada Rabu (11/03) lalu. Proyek yang dilapor adalah pengadaan perpustakaan pada tahun anggaran 2007 senilai Rp 59.700.000 yang pendanaannya bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Proyek tersebut menurut Lumempo-uw, diduga fiktif karena tidak dilaksanakan tapi dilakukan pencairan anggaran.

Jalan Roda, Barometernya Manado

Maret 2, 2009 1 komentar

Manado-TRIBUN
NAMA Jalan Roda (Jarod) memiliki makna tersendiri. Jalan ini identik dengan warung-warung bernuansa tempoe doloe yang menyajikan kopi yang khas. Selain hanya kopi, Jalan Roda identik dengan tempat nongkrong dan ngobrol. Tak heran, perbincangan politik di Jalan Roda membuat jalan ini diistilahkan perlemen jalanan.

Tidak terlalu sulit menemukan Jalan Roda, walaupun tidak ada angkot yang mengantarkan langsung ke Jalan Roda, tetapi letak tempat ini sangat strategis berada di pusat kota Manado. Tempat ini berada di Jalan Walanda Maramis tepat di sebelah kiri, bila jalan kaki sekitar 100 meter ke sebelah selatan dari Taman Kesatuan Bangsa (TKB).

Jalan ini diapit oleh gedung-gedung pertokoan, di sebelah kiri merupakan Kampung Pecinan dan di sebelah kanan Shoping Center. Tempat ini tidak terlalu luas, karena awalnya tempat ini sebuah jalan raya biasa. dari gerbang depan sampai gerbang belakang hanya berjarak sekitar 100 meter.

Tidak ada yang tahu persis, kapan Jarod ini berdiri, awalnya tempat ini hanya warung-warung kecil yang menjajakan, kopi, makanan ringan dan tempat menyimpan roda grobak Pedagang Kaki Lima (PKL), seiring berjalannya waktu tempat ini berubah menjadi tempat yang banyak dikunjungi orang. Bukan hanya tempat untuk ngopi, makan-makan dan ngobrol-ngobrol biasa saja, tetapi menjadi pusat informasi politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Di tempat ini berbagai kalangan berkumpul, dari petani, pengusaha, pengacara sampai Pejabat juga ada, baik itu pria maupun wanita. Biasanya mereka membicarakan tentang situasi politik terkini, harga barang-barang pertanian sampai gosip artis terkini. Tapi di sini juga tempat berkumpul sebagian masyarakat manado dan sekitarnya untuk membicarakan masalah bisnis, dari yang berharga puluhan ribu hingga ratusan juta rupiah.
Warung-warung yang ada di Jalan Roda, sebagian milik Pemerintah Kota Manado dan sebagiannya lagi milik masyarakat. Di sisi sebelah kiri jalan ini, berjajar warung-warung berwarna kuning, semuanya adalah milik Pemerintah Kota. Sedangkan di sebelah kanan berjajar juga warung-warung yang sebagian milik pemerintah dan sebagiannya lagi milik masyarakat. Satu buah warung disewa dengan harga Rp 4 juta pertahun.
Nama Jarod sendiri diambil dari fungsi jalan ini sebelumnya yaitu sebagai tempat menyimpan roda-roda PKL yang berjualan di daerah Pasar 45 dan sekitarnya.

Warung-warung di Jalan Roda buka pukul 04.00 Wita sampai pukul 19.00. Jajanan yang disediakannya pun banyak dan murah. Harga satu gelas kopi Rp 3.000 dan apabila tidak mempunyai uang bisa membeli 1/2 gelas saja seharga Rp 2.000. Minum kopi di sini sangatlah menyenangkan karena kopinya enak juga suasananya asik, kita bisa ngopi sambil bermain catur, billiard, halma dan juga monopoli. Dengan ditemani Pisang Goroho (sejenis pisang yang rasanya hambar) dan di cocol dengan sambal, makin nikmat rasanya. Tetapi bagi yang lapar, di sini juga tersedia warung yang menyediakan berbagai jenis nasi rames dengan lauk pauknya.

Mengolah kopi
Kopi yang di Jarod sangat khas, baik aroma maupun rasanya. Kopi yang digunakan tidak diolah sendiri, tetapi dibeli dari seorang pedagang kopi China setiap harinyai. Kopi tersebut diolah secara tradisional dengan cara di panaskan dengan cara di goreng tanpa menggunakan minyak (songara, istilah Manado), kemudian ditumbuk lalu diberikan campuran khusus seperti metega atau bahan-bahan lainnya supaya rasa kopi menjadi lebih enak dan dikeringkan. Kopinya pun tidak halus seperti kopi pada umumnya, tetapi masih sangat kasar dan berbentuk butiran-butiran besar sehingga harus menggunakan saringan saat menyedunya..

Kopi yang masih berbentuk besaran-besaran tersebut kemudian diseduh dengan air mendidih supaya rasanya lebih enak. Proses memanaskan airnya pun bervariasi, ada yang menggunakan kompor minyak tanah dan ada yang menggunakan arang. Kopi kemudian dimasukan kedalam getel yang berisi air mendidih. Supaya kopinya tidak terbawa saat disajikan, biasanya para pedagang menggunakan saringan khusus untuk memisahkan ampas kopi dengan airnya. Lima sendok kopi, dipanaskan dengan satu getel air yang bisa disajikan menjadi 10-15 gelas. Air harus tetap dalam keadaan mendidih supaya rasanya tetap enak.

Cara penyajian satu gelas kopi susu pun sangat khas, susu kental manis di tuangkan dalam gelas, kemudian baru diseduh dengan air kopi yang mendidih. untuk menyajikan satu gelas kopi membutuhkan waktu sekitar tiga menit.

Mengapa jalan roda tidak digusur
Pernah ada wacana dari Pemerintah Kota Manado akan menggusur jalan ini, tetapi karen Jalan Rada ini sudah menjadi suatu tempat bertemunya sebuah komunitas seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pejabat, mahasiswa, artis, budayawan, petani, nelayan dan berbagai element yang ada dalam masyarakat Manado, menyebabkan lokasi ini tetap di pertahankan oleh pemeritah ataupun masyarakat. Selain itu dilihat dari sisi historis Jalan Roda dianggap sebagai barometer Kota Manado yang berdiri sejak lama.

Pernah ada rencana Pemerintah Kota Manado akan menggusur tempat ini, tapi banyak orang Manado yang menolaknya, akhirnya keberadaan Jalan Roda ini tetap dipertahankan. Jalan Roda sebagai barometer Kota Manado menjadi alasan kuat untuk masyarakat supaya keberadaan Jarod tetap di pertahankan. Selain itu, tempat ini pun merupakan tempat berkumpul berbagai komunitas masyarakat Manado dan banyaknya orang sukses dan terkenal dimulai dari Jarod.

Pemerintah hanya menata kembali Jalan Roda supaya lebih rapi. para penjual yang berada di tepi jalan Walanda Maramis ditertibkan. warung-warung di jarod pun sudah tertata dengan baik. Apalagi setelah mendapat bantuan dari pejabat PLN Kota Manado pada tahun 2003, kondisi Jarod menjadi lebih nyaman karena sepanjang jarod di beri atap.

Zona di Jalan Roda
Jalan ini sangat unik, walaupun tidak direncanakan, tapi komunitas-komunitas yang ada di tempat ini seakan membutat zona tersendiri. Gambaran Jalan Roda dari depan sampai ujung di tempati oleh komunitas-komunitas tertentu.

Saat memasuki jalan ini, anda akan bertemu dengan zona komunitas pejabat, artis, budayawan dan mahasiswa. Biasanya di zona ini ada acara organ tunggal setiap hari selasa dan sabtu.

Kemudian masuk pada zona ke dua adalah zona para pembisnis, beraneka ragam bisnis yang diperbincangkan mulai dari bisnis asuransi, makelar, pertanian, keungan dan bisnis lainnya.

Selanjutnya masuk zona ketiga yaitu zona komunitas politik, di zona ini banyak orang-orang politik, dari para aktivis partai sampai calon legislatif.

Lalu masuk ke zona terakhir adalah zona masyarakat umum, di zona ini banyak kalangan masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan, petani, pedagang, penggemar catur dan halma.

Komentar
Syuaib Sulaeman (37) Guru PAI di SMP Negeri 7 Manado
“Jalan Roda merupakan barometer Kota Manado dan memiliki nilai historis tersendiri bagi masyarakat Manado. Banyak orang yang sukses dengan memulai dari Jalan ini,”.

Wiwin Lausu (37)
“Makanan di Jalan Roda sangat murah dan terjangkau oleh berbagai kalangan masyarakat, kita pun bisa memesan kopi setengah gelas dengan harga Rp 1.500”

Willy Pangkley (63) seorang pegawai swasta warga Tumpaan, Amurang Minahasa Selatan
“Keberdaan Jalan Roda harus tetap dipertahankan, karena jalan ini merupakan bagian dari sejarah Kota Manado,”

Amna Snck (59) seorang penjual Kopi di Jalan Roda
“Jangan ada lagi penggusuran di Jalan Roda, karena tempat ini sudah menjadi sumber kehidupan keluarga . Kalau jalan ini digusur, kita mau makan dari mana,”

PEMILIK WARUNG SALEH
Berguru dari Suami
Amna Snck (59) warga Kampung Islam Kecamatan Tuminting berjualan kopi di Jalan Roda sejak tahun 1975 bersama Sang Suami Saleh Abdul (60). Dia belajar menyajikan kopi dari suaminya yang sebelumnya berprofesi sebagai penjual kopi di Pasar Citra sejak 16 tahun silam.

Siapa yang tidak mengenal Amna, seorang penjual kopi di Jalan Roda ini menggunakan cara yang sangat berbeda dari pedagang kopi lainnya. Air yang digunakan untuk menyeduh kopi, dia panaskan menggunakan bara arang. Satu hari butuh satu karung arang untuk terus memanaskan air sepanjang hari, sehingga rasa panas yang menyelimuti warung yang ditempati oleh perempuan dua cucu ini, sudah menjadi sesuatu yang biasa.

Bersama sang suami, dirinya mengelola warung kopi dari pagi hingga malam. Sang suami berangkat lebih dahulu daripada dirinya ke Jalan Roda sekitar pukul 05.00 Wita untuk membuka warung, kemudian Amna berangkat pukul 07.00 dari rumahnya dengan menggunakan angkot. setibanya di warung Amna langsung melayani pelanggan-pelanggannya. Faktor usia tidak menjadikannya surut memperjuangkan nasib keluarga dan anak-anaknya.

Suami yang sudah tua menuntut dirinya harus bekerja keras. Usaha dan kerja kerasnya pun mendapatkan hasil yang setimpal, usaha yang ditekuninya selama 33 tahun berbuah manis. Dia dan suaminya memiliki satu buah rumah dari hasil usahanya. Cukup besar pengahasilan yang diperolehnya setiap hari. “saya mendapatkan uang hasil penjualan setiap hari sebesar Rp 500 ribu, bila dikurangi untuk modal esok harinya, saya hanya mendapatkan penghasilan Rp 200 ribu,”ujarnya.

Amna berhasil menyekolahkan anak kedua dan ketiganya melanjutkan keperguruan tinggi. dari hasil berjualan kopi di jalan Roda dirinya bersama sang suami berhasil membangun rumah dan menyekolahkan anaknya sampai tingkat perguruan Tinggi. Anak keduanya Gulhan Abdul (27) masih kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi.

Saat ini Amna sedang memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang sebesar kurang lebih Rp 1,5 juta untuk membiayai KKN Gulhan yang duduk di semester enam tersebut. “Saya bersama suami sedang berusaha untuk mendapatkan uang supaya anak saya bisa Kkn di daerah Manado, soalnya takut juga kalau dirinya KKN di luar Manado walau biayanya sedikit murah. Sekarang saya sedang mengumpulkan uang sebesar Rp 1,5 juta,” katanya.

Meskipun dirinya sedang sakit, tapi dia tetap bersemangat melayani pelanggan, ditemani suami dan satu orang pembatu yang telah bekerja dua bulan. Dia sangat ahli sekali menyajikan kopi, rasa panas di warungnya tidak dihiraukan. Dia sangat senang dengan profesi yang dijalankannya sejak lama, walupun sudah tua bukan hambatan bagi dirinya untuk terus berjualan kopi. “Saya senang menjalani profesi ini, meskipun umur sudah tua begini, tapi tidak menjadi hambatan untuk terus berjualan,” katanya.

Sang suami hanya duduk melihat Amna melayani para pelanggan, sesekali sang suami membantu dirinya membuka kaleng susu. cukup terampil sekali suaminya, dengan waktu yang cepat kaleng susu bisa terbuka. Dirinya pun mengaku sangat sulit membuka kaleng susu tersebut, butuh tenaga yang besar untuk membuka satu kaleng susu. “Saya kurang begitu bisa membuka kaleng susu secepat itu, butuh tenaga yang besar untuk membukanya. Tapi suami saya sangat ahli,” katanya.

Selain itu dia belajar mengolah kopi dari suaminya, dirinya mengaku sejak menikah 35 tahun silam berguru kepada suami. “Saya membuka warung kopi ini setelah saya menikah, saya belajar banyak dari suami saya. Dia adalah suami sekaligus guru saya,” ucapnya sambil melihat ke arah sang suami yang duduk di sampingnya.

AKIBAT PENERTIBAN JAROD
Andalkan Anak untuk Biaya Hidup
Waktu menunjukan pukul 10.00 Wita, seorang oma duduk di sebuah warung pisang goroho, Selasa (16/12. Dia hanya melihat dan ngobrol dengan temannya yang masih berjualan di Jarod. Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa dirinya seorang korban penertiban Jarod empat tahun silam.

Noce Niklas (63) asal Gorontalo sudah tidak berjualan lagi selama empat tahun silam. setelah dirinya bersama suaminya menjalankan usaha di daerah jalan roda selam 15 tahun. Selama usahanya berjalan dia bersama Woso Haliku (73), suaminya, berhasil membangun sebuah rumah di daerah Kombos lingkungan empat.
Selain bisa membangun rumah, dari hasil usaha warungnya dikawasan jalan roda, dia bersama sang suami bisa membiayi kehidupan lima anaknya. walaupun anak-anaknya tidak mendapatkan pendidikan yang tinggi, tapi dia bersyukur dengan anak-anaknya yang bisa mengenyam pendidikan dasar. Sekarang anak-anaknya telah bekerja, satu orang bekerja di Sulawesi Tengah sebagai kuli bangunan dan empat anaknya yang lain tinggal di Manado.

Dahulu, dia bersama suaminya membangun sebuah rumah makan yang menjajakan nasi beserta lauknya, pisang goreng, dan kopi. usahanya tersebut berlangsung cukup lama, tapi warung yang menjadi roda ekonomi Nonce bersama suami harus hilang karena terkena penggusuran yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Manado empat tahun silam.

Oma yang memiliki 14 cucu ini hanya menangis bersama sang suami saat penggusuran terjadi. Penggusuran dilakukan tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu oleh Pemkot Manado kepada pedagan. Hal tersebut membuat dirinya hanya bisa menangis dan melihat warung yang menjadi sumber kehidupannya dibongkar dan diangkut ke dalam truk.”Saya tidak bisa berbuat apa-apa waktu itu hanya bisa menangis bersama pedagang-pedagang yang ikut kena gusur,” katanya mengenang kejadian itu.

Kini kehidupannya sangat tergantung kepada keenam anaknya. Apalagi suami tercinta Nonce sudah tua dan hanya bisa tinggal di rumah, membuat beban hidup yang dijalaninya semakin berat, melihat dirinya pun sudah lemah dimakan usia. “Sangat susah mencari mata pencaharian lain,apa lagi di zaman yang serba sulit kayak gini,” katanya sembari melihat temannya menggoreng pisang

Pegawai Pemkot Tomohon Marah

Maret 2, 2009 Tinggalkan komentar

JAKARTA, TRIBUN – Seorang PNS Pemkot Tomohon meluap emosinya di sela-sela pemeriksaan kasus dugaan korupsi dana APBD 2006 hingga APBD 2008 yang berlangsung di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (17/2). Mengenakan kaus oblong, celana kain hitam, sepatu hitam, berselempang tas hitam, pegawai yang mengaku mahasiswa itu nyaris meninju wartawan Tribun Manado saat dikonfirmasi mengenai pemeriksaan dirinya. “Kita mahasiswa, bukan yang diperiksa,” ujarnya dengan dialek Manado.

Saat itu pegawai yang belum diketahui jabatan dan statusnya dalam kasus ini keluar gedung KPK. Ia berjalan ke arah kanan gedung menuju jalan raya. “Awas ngana! Kita rado! (Awas kamu! Saya tarik (pukul)),” semburnya seraya menarik kartu pengenal wartawan koran ini hingga talinya putus.

Juru bicara KPK, Johan Budi SP, menjelaskan pemeriksaan kasus Tomohon dilanjutkan di Jakarta sejak Senin (16/2) dengan pertimbangan kerahasiaan penyidikan. Pemeriksaan ini lanjutan dari apa yang telah dilakukan tim KPK di Manado maupun Tomohon. Pemeriksaan kemarin menghadirkan sejumlah pegawai/ pejabat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Ada sekitar sembilan orang yang datang ke KPK menggunakan kendaraan sama. Informasi yang diperoleh rombongan dari Tomohon ini menginap di Hotel Sommerset. Sekitar pukul 19.23 WIB, Johan memberitahukan namanama pejabat dan staf keuangan yang diperiksa kemarin. Mereka adalah Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Djoike Karouw, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Dra Lili Solang. Kemudian Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Fentje Goni, Bendahara PU Greidy Paat, Kepala BLH Marthina Langi, dan staf keuangan masing-masing Amelia Warouw, Vonny Sumampow, Julike W dan Sylvia. Johan Budi masih belum bersedia menjelaskan materi dan hasil pemeriksaan kemarin.

Dia hanya menyebutkan jika Rabu (18/2) ini pemeriksaan akan dilanjutkan dengan memanggil sejumlah pejabat kedinasan terkait. Senin lalu, KPK sudah meminta keterangan Kepala Kesbang Pemkot Tomohon, Drs Wendy Karwur dan Kepala Bappeda, Laurens Bulo. “Mereka diperiksa terkait penyimpangan APBD. Diperiksa dengan status saksi untuk melengkapi keterangan,” kata Johan. Pemkot sepi Bersamaan dengan pemeriksaan kasus korupsi Tomohon di Jakarta, suasana di Pemkot Tomohon sepanjang hari kemarin terlihat sepi. Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemerintah Kota (Pemkot) Tomohon Drs James Rotikan mengatakan hingga saat itu belum ada pemberitahuan resmi dari pimpinan SKPD manapun terkait panggilan KPK ke Jakarta. “Saya belum menerima informasi itu. Soal izin dari pimpinan kepala-kepala dinas bila ada urusan luar daerah itu urusan Sekretaris Kota,” kata Rotikan kepada Tribun Manado di tangga menuju lantai dua eks kantor Wali Kota Tomohon di kawasan Rindam, Kelurahan Kakaskasen 3.

Wali Kota Tomohon, Jefferson SM Rumajar SE kemarin pagi masih sempat memimpin apel di lapangan Rindam. Setelah itu tak terlihat lagi aktivitasnya. Seusai apel, sejumlah pegawai malah asyik nongkrong di kantin. Tidak ada satu pun PNS di dinas-dinas terkait yang mengakui jika kepala kantornya sedang diperiksa di Jakarta. “Bapak lagi keluar,” kata seorang pegawai kantor Kesbang. Ia tak mau memberikan banyak informasi. Raut mukanya masam.

Demikian pula suasana di kantor Dinas Pendapatan Pengelolan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD). Pintu menuju kantor ini tertutup rapat. Tidak ada seorang pegawai pun yang mau berkomentar. Sekitar pukul 15.00 Wita tampak hanya seorang pegawai yang keluar masuk ruangan tersebut. Di sekitar ruangan tersebut ada dua petugas Satuan Polisi Pamong Praja berjaga

Kategori:Daerah

Pascagempa Gorontalo, Waspadai Lokon-Soputan!

Februari 22, 2009 1 komentar

Bandung, KOMENTAR
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono mengatakan, pascagempa di Gorontalo yang cukup dahsyat (7,7 SR), dapat mempengaruhi aktivitas Gunung Lokon dan Soputan di Sulawesi Utara (Sulut). Surono meminta agar kedua gunung yang masih berstatus waspada level II itu, diawasi secara efektif dengan melibatkan petugas dan peralatan khusus di sekitar gunung tersebut.
‘’Kedua gunung itu sangat aktif. Dan, dampak gempa sangat hebat itu, berpengaruh
terhadap aktivitas gunung tersebut,’’ ujar Surono, Senin (17/11). Di sisi lain, dia mengatakan, gempa yang terjadi di Gorontalo disebabkan terjadinya penunjaman sesar di kawasan Sulawesi Utara. Sehingga gempa juga terasa di kawasan Manado dan sekitarnya dini hari kemarin.

Dikatakannya, sesar di sekitar itu naik 90 derajat dan terjadi penunjaman. “Kawasan Gorontalo termasuk jalur sesar aktif,” ujarnya.
Untuk itu Surono meminta warga yang berdomisili di lokasi perbukitan untuk tetap waspada karena kemungkinan akan terjadi gerakan tanah pascaperistiwa gempa. “Pemerintah daerah juga harus proaktif melakukan sosialisasi dan imbauan kepada warga,” tuturnya.

Gempa dini hari kemarin, turut juga dirasakan di Bitung. Kepala Stasiun Meteorologi Bitung, Budi Nugroho mengatakan, gempa terjadi pada lokasi 1.41 Lintang Utara (LU) – 122.18 Bujur Timur (BT) atau 138 km Barat Laut Gorontalo Sulawesi Utara (Sulut) pada Senin (17/11) pukul 00.02 WIB atau pada Minggu (16/11) pukul 23.02 Wita.

“Gempa ini berkekuatan 7,7 skala Rietcher (sR), awalnya kita (BMG, red) menginformasikan bahwa gempa tersebut berpotensi tsunami, hal ini dilihat dari tanda-tandanya, tetapi kemudian kita melakukan pembatalan karena memang tidak terjadi seperti itu,” tandas Nugro-ho.