Archive

Archive for the ‘Amerika’ Category

Tanpa Alkitab, Obama Disumpah Ulang

Januari 23, 2009 2 komentar

Washington, KOMENTAR
Presiden Barack Hussein Obama diharuskan mengulang kembali pengambilan sumpahnya sebagai Kepala Negara AS. Hal ini disebabkan kesalahan pengucapan yang dilakukan Ketua MA, John G Roberts dalam pelantikan 20 Januari lalu.

Kali ini pengambilan sumpah berjalan lancar tanpa kesalahan apa pun. Hanya saja pengambilan sumpah kali ini tidak menyertakan Alkitab, berbeda halnya dengan pengambilan sumpah pertamanya.

Meski tidak menggunakan Alkitab, Obama mengatakan sumpah tersebut tetap mengikat. Demikian laporan Washington Post, Kamis (22/01). Sebelum memulai pengambilan sumpah untuk kedua kalinya, Obama sempat bercanda kepada sekelompok wartawan yang menunggu. “Kami memutuskan ini karena ini begitu menyenangkan,” canda Obama waktu itu.

Setelah pengambilan sumpah yang hanya berlangsung 25 detik, Roberts tersenyum dan berkata, “Sekali lagi selamat!” Obama pun menjawab, “Terima kasih, pak.” Sementara pengacara Gedung Putih, Greg Craig menegaskan, pengulangan pengambilan sumpah dilakukan karena banyaknya keluhan terhadap Gedung Putih.

Obama sendiri disebutkan bukan yang pertama melakukan pengulangan sumpah presiden. Dua Presiden AS terdahulu juga pernah mengalami insiden serupa. Mereka disumpah ulang karena kesalahan serupa. Keduanya adalah Chester Alan Arthur dan John Calvin Coolidge. Arthur merupakan Presiden ke-21 AS. Dia menjabat pada kurun waktu 1881-1885. Politikus Partai Republik itu dilahirkan pada 5 Oktober 1829 dan wafat pada 18 November 1886.

Sedangkan Coolidge merupakan Presiden ke-30 AS. Dia menjabat pada 1923-1929 si-lam. Coolidge lahir pada 4 Juli 1872 dan meninggal 5 Januari 1933.

Sebenarnya selain kedua presiden itu, ada lagi seorang Presiden AS yang salah mengucapkan sumpahnya saat dilantik.

Bahkan kesalahannya lebih parah dibandingkan kedua presiden tersebut. Namun saat itu tidak dilakukan pengambilan sumpah ulang.

Dia adalah Herbert Hoover, Presiden ke-31 AS yang menjabat mulai 1929-1933 silam. Mengenai insiden yang terjadi pada Obama, Pengacara Gedung Putih Greg Craig menyatakan, pengambilan sumpah Obama pada pelantikan 20 Januari telah berlangsung efektif dan sah. Namun untuk amannya, karena banyaknya keluhan pada Gedung Putih, maka tak ada salahnya pengambilan sumpah itu diulang.

Sejumlah pakar konstitusional menuturkan, pengulangan sumpah tidak mutlak diperlukan namun juga tak ada salahnya dilakukan. Menurut Jeffrey Rosen, pakar hukum konstitusional AS, salah pengucapan sumpah tidak berdampak apa pun.

SUMPAH
Seperti diketahui, dalam insiden ‘salah pengucapan sumpah’ itu, Ketua MA John Roberts, seperti dilansir Washington Post, salah mengucapkan urut-urutan kata yang harus diucapkan Obama. Buntutnya, Obama pun bingung dan terbata-bata.

Di depan jutaan orang yang menyaksikan, secara keseluruhan Obama mengucapkan sumpahnya demikian:
“I, Barack Hussein Obama, do solemnly swear that I will execute the office of President of the United States faithfully, and will to the best of my ability, preserve, protect, and defend the constitution of the United States. “So help me God.”

Padahal sesuai Konstitusi AS, sumpah tersebut harusnya berbunyi: “I do solemnly swear that I will faithfully execute the office of President of the United States, and will to the best of my ability, preserve, protect, and defend the constitution of the United States. “So help me God.”

Kesalahan terjadi ketika Roberts harusnya menyebutkan kalimat: “… that I will faithfully execute the office of President of the United States.”

Namun Roberts salah mengucapkan urutan kata-kata tersebut. Dia malah menyebutkan, “…. that I will execute the office of president of the United States faithfully.” Hal itu membuat Obama bingung. Obama sepertinya menyadari ada yang salah hingga dia mendadak berhenti pada kata “execute.”

Menyadari ada yang keliru, Roberts pun kemudian mengulang kalimat tersebut. Namun lagi-lagi Roberts melakukan kesalahan. Dia memang mengucapkan kata “faithfully” sesuai urutan namun kata “execute” tidak diucapkannya.

Obama pun akhirnya mengulang kalimat awal versi keliru yang disebutkan Roberts: “….the office of president of the United States faithfully.”

Kategori:Amerika

Chavez Ejek Tentara Israel Pengecut

Januari 7, 2009 Tinggalkan komentar

KARAKAS,Kompas
Presiden Venezuela Hugo Chavez, Selasa (6/1) waktu setempat menyebut tentara Israel pengecut karena serangannya di Jalur Gaza.

Ia menegaskan rakyat Israel harus memprotes serangan yang telah menewaskan lebih dari 600 orang itu.

“Betapa pengecutnya tentara Israel. Mereka menyerang penduduk yang lemah, sedang tidur, tidak bersalah dan mereka berdalih bahwa mereka membela rakyat mereka,” kata Chavez kepada wartawan. “Saya mengimbau rakyat Israel bangkit melawan pemerintah.”

Ia mengatakan presiden Shimon Peres dari Israel dan George W Bush dari AS harus diadili di Pengadilan Internasional karena pembantaian” di Jalur Gaza itu.

Dalam kunjungan ke sebuah rumah sakit anak-anak di Karakas, Chavez mengatakan masyarakat internasional harus menghentikan “tindakan gila” di Gaza itu , dan menambahkan bahwa pemerintahnya sedang berusaha untuk mengirim bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina.

Chavez mengatakan walaupun pemerintahnya menghormati rakyat Israel yang tinggal di Venezuela, ia menginginkan bahwa masyarakat Yahudi Venezuela menentang tindakan biadad ini.

“Mereka menuduh (presiden Iran) Mahmoud Ahmadinejad bertanggungjawab atas genosida tetapi tidak ada sepotong buktipun ia menginvasi siapapun. Venezuela tidak menduduki daerah manapun,” kata Chavez.

“Mereka menuduh (pemimpin Kuba) Fidel Castro seorang yang kejam dan seorang pembunuh,” kata Chavez tentang beberapa sekutunya. Ia mengeluhkan tidak ada tuduhan-tuduhan semacam itu dilontarkan terhadap Peres. “Betapa sinisnya dunia,” kata Chavez.

Kategori:Amerika

Dua Kali Obama Telefon Tapi Dikira Cuma Lelucon

Desember 11, 2008 14 komentar

Washington, (ANTARA News) – Seorang anggota Kongres dari Florida, dua kali memutus sambungan telefon dari seseorang yang mengajaknya berdiskusi mengenai kebijakan. Perempuan dari Partai Republik itu mengira dia sedang mendapat panggilan telefon lelucon.

Sebagaimana diberitakan kantor berita DPA, pada hari Rabu Telefon selular anggota Kongres Ileana Ros-Lehtinen berdering. Orang di seberang telefon menyatakan dirinya adalah asisten presiden-terpilih AS, Barack Obama, dan Ros-Lehtinen diminta menunggu untuk disambungkan dengan Obama.

“Lalu,seorang pria bersuara mirip Obama memperkenalkan dirinya dan Ros-Lehtinen memutus sambungan itu setelah berkata ‘maaf tapi saya kira ini adalah lelucon dari salah satu stasiun radio di South Florida yang terkenal dengan lelucon seperti ini,” ungkap pernyataan resmi kantor Ros-Lehtinen.

Tidak lama kemudian, telefon berdering kembali dan kali ini yang berbicara mengaku kepala staf Obama, Rahm Emanuel. “Ileana, saya tak bisa percaya kamu sudah memutus telefon dari presiden-terpilih.”

Ros-Lehtinen masih belum percaya siapa orang di seberang telefon dan dia kembali memutus sambungan.

Sebentar kemudian telefon berdering dan kali ini dari Howard Berman, ketua Komisi Luar Negeri Kongres. Berman memberi tahu bahwa telefon sebelumnya bukan lelucon.

Akhirnya, Obama menelefon kembali dan kali ini telefonnya disambut. Dua orang itu kemudian membahas tentang kebijakan soal Kuba dan Israel, tapi sebelumnya mereka membicarakan keberhasilan orang-orang orang-orang yang berhasil “mengerjai” mereka, baik di Florida maupun di kota asal Obama yaitu Chicago.

“(Acara lelucon) ‘Saturday Night Live’ bisa menyewa anda sebagai jagoan peniru Obama,” canda Ros-Lehtinen kepada sang presiden-terpilih.

Sebelumnya, saat kampanye pemilihan presiden, calon wakil presiden Sarah Palin “dikerjai” pelawak dari suatu radio Kanada yang mengaku Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy.(*)

Presiden Terpilih Pakai Nama Barack Hussein Obama Saat Pelantikan

Desember 11, 2008 9 komentar

Washington (ANTARA News/afp) – Barack Obama menyatakan dalam wawancara dengan sebuah suratkabar AS, ia akan mengikuti tradisi dan disumpah sebagai presiden AS dengan menggunakan nama penuh, termasuk nama tengahnya Hussein.

Dalam kampanye presiden, beberapa lawan politik Obama merujuk pada nama tengahnya dalam upaya menggambarkan Obama sebagai pemeluk Islam secara diam-diam dengan dugaan memiliki hubungan dengan para teroris.

Namun demikian Obama, yang selama hayatnya beragama Kristen, mengemukakan kepada Chicago Tribune bahwa dirinya akan mematuhi tradisi upacara pelantikan.

“Saya kira tradisinya adalah mereka semuanya memakai tiga nama, dan saya akan akan mengikuti hal itu,” kata Obama kepada Trubune, yang memuat wawancara itu dalam laman internet miliknya Selasa larut malam.

“Saya sama sekali tak berusaha membuat pernyataan apapun. Saya hanya akan melakukan apa yang diperbuat orang lain.”

Saingan Obama dari Partai Republik, John McCain, pernah menegur seorang pendukung dalam kampanye karena menyebut Obama dengan nama lengkapnya, dengan menyatakan hal itu sebagai “kurang tepat”.

Ketika menyatakan dukungannya pada Obama pada Oktober lalu, mantan Menteri Luar Negeri Colin Powell mengecam mereka yang menyebarkan desas-desus yang tidak benar dengan menyatakan Obama sebagai Muslim.

Menurut jenderal purnawirawan kulit hitam itu, kabar angin itu mencerminkan prasangka keagamaan. (*)

Obama Galang Demokrasi Berbasis Web

November 27, 2008 1 komentar

Washington – Presiden terpilih Amerika Serikat, Barack Obama memulai langkah membangun demokrasi 2.0, demokrasi interaktif yang melibatkan partisipasi publik via internet. Presiden berdarah Kenya yang dikenal melek teknologi ini membuka forum publik di situsnya untuk meminta saran pada rakyat mengenai kebijakan pemerintahannya.

Situs resmi Obama dalam masa transisi sampai dia dilantik sebagai presiden AS pada 20 Januari 2009, yakni change.gov, mengundang para pengakses untuk memberikan pandangannya mengenai berbagai topik. Sebagai permulaan, topik diskusi adalah soal permasalahan dalam sistem layanan kesehatan di AS.

Jalannya diskusi online ini dimungkinkan dalam fitur baru di situs itu yang bernama ‘Join the Discussion’. Untuk memulai debat, ditampilkan video dua anggota tim Obama dari Health Policy Transition Team, yang membahas tentang prioritas Obama soal masalah kesehatan.

Pengakses pun diminta melakukan diskusi online secara santun karena tidak seperti situs pemerintah lainnya, komentar yang masuk di situs Obama ini tidak disaring. Dan 24 jam setelah peluncuran, lebih dari 2000 komentar sudah menyesaki forum tersebut.

Langkah Obama menerapkan demokrasi via internet ini pun dipuji berbagai pihak. Menurut Micrah Sifry, pendiri blog politik TechPresident, langkah ini adalah permulaan hebat untuk membuat pemerintahan Amerika yang lebih terbuka.

Adapun presiden Barack Obama sendiri dalam sebuah kesempatan wawancara menegaskan bahwa dia memang ingin memastikan posisinya sebagai presiden tidak membuatnya terisolasi dari rakyatnya.

“Salah satu hal paling buruk yang terjadi pada presiden adalah kehilangan kepekaan terhadap apa yang dijalani rakyat sehari-hari,” kata Obama yang dilansir AFP dan dikutip detikINET, Kamis (27/11/2008).

Pembunuhan John Kennedy Hantui Dinas Rahasia yang Lindungi Obama

November 27, 2008 Tinggalkan komentar

Washington (ANTARA News) – Rakyat Amerika menggambarkan Presiden John F. Kennedy (JFK), yang tewas ditembak pada 45 tahun silam, sebagai presiden muda dan tokoh yang mampu membangkitkan semangat.

Presiden terpilih Barack Obama telah sering dibandingkan dengan mendiang JFK, yang ditembak mati di Dallas, Texas, pada 1963, karena cita-citanya yang tinggi dan kharismanya.

Pidato Obama yang memukau, ketinggian intelektualnya, umurnya yang relatif muda dan kurang pengalaman politik, telah dilihat banyak orang sebagai pencerminan langsung dari JFK.

Bahkan keluarga mereka yang mempesona dan kekaguman dari seluruh dunia merupakan batu ujian bagi daya tarik Obama maupun JFK.

Namun sifat Obama dan kemenangannya yang bersejarah sebagai presiden AS pertama keturunan Afrika telah membuat banyak orang merasa khawatir terhadap berbagai potensi ancaman terhadap keselamatan jiwanya.

“Ia menggugah ilham, tokoh bersejarah dan presiden Amerika-Afrika pertama, namun juga ada, karena memiliki potensi memicu kerusuhan sosial, yang menjadikannya pula sebagai target, kata Scott Stuart, analis keamanan dan teror senior untuk Stratfor, sebuah penerbit majalah kajian intelijen geopolitik, seperti dikutip AFP.

Bukan hal baru

Ancaman terhadap Obama bukanlah suatu hal yang baru dalam kehidupan politik Amerika. Empat presiden Amerika dibunuh, yakni Abraham Lincoln pada 1865, James Gartfield pada 1880, William McKinley pada 1900 dan JFK.

Adik Presiden Kennedy, Robert Kennedy, dan pemimpin hak-hak sipil Martin Luther King keduanya ditembak mati pada 1968.

Juga terjadi upaya pembunuhan terhadap Andrew Jackson, Theodore Roosevelt, Franklin Roosevelt, Gerald Ford dan Ronald Reagan.

“Bukan hanya JFK, pembunuhan terjadi pada Bob Kennedy dan Martin Lurther King. Kita memiliki sejarah kekerasan terhadap para pemimpin yang memberikan inspirasi di AS,” tutur James Thurder, profesor pemerintahan di American University.

Thurder mengatakan ia ingat betul saat Kennedy Bersaudara dan King dibunuh, dan mengungkapkan kesamaan antara saat itu dan sekarang.

“Saya ingat betul saat dan kesamaannya, pengecualiannya adalah Obama lebih membangkitkan semangat ketimbang Kennedy dalam hal mempengaruhi orang dan mengajak mereka dari Partai Republik untuk memberikan suara pada Demokrat,” imbuhnya.

“Dalam beberapa hal lebih bersejarah, dalam pengertian Obama adalah warga Amerika keturunan Afrika.”

Obama mendapat perlindungan paling awal dari Dinas Rahasia bagi seorang calon presiden pada Mei 2007, 18 bulan sebelum pemilihan presiden, akibat munculnya berbagai ancaman dan sangat banyak orang yang tertarik pada kegiatan kampanyenya.

Bekas saingan beratnya, Hillary Clinton, sudah mendapat perlindungan Dinas rahasia berkat kedudukannya sebagai mantan Ibu Negara.

Hillary Clinton mendapat kecaman luas pada Mei tahun ini ketika menyatakan pembunuhan Bob Kennedy pada Juni 1968 membuat dirinya mengambil keputusan untuk tetap bertarung dalam pemilihan pendahuluan hingga Juni.

Dia segera menyatakan penyesalannya atas berbagai komentarnya, dengan mengemukakan sebagai pendapat pribadi bahwa dia merasa yakin jiwa Obama dalam bahaya.

Proteksi keamanan Obama

Begitu Obama “mulai muncul sebagai calon utama, ia sebenarnya berhak mendapat perlindungan dengan tingkat yang sama seperti presiden, karena ancaman itu dan pencalonan seorang keturunan kulit hitam tak pernah terjadi sebelumnya,” imbuh Stuart.

“Mereka begitu memperhatikan ancaman itu sehingga ia mendapat perlindungan keamanan yang lebih besar ketimbang para calon lainnya.”

Dua komplotan sudah digagalkan : di Colorado dalam konvensi Partai Demokrat dan baru-baru ini di Tennessee, tempat dua aktivis pendukung supremasi kulit putih ditahan, karena menurut pihak berwenang mereka akan melakukan serangkaian perampokan bersenjata dan pembunuhan 88 orang kulit hitam, dengan serangan bunuhdiri atas Obama sebagai puncaknya.

Tingginya tingkat penerimaan terhadap Obama, yakni sekitar 70 persen sebelum ia berkantor di Gedung Putih, juga menjadi sumber kecemasan.

“Ia betul-betul mendapat simpati rakyat Amerika,” kata Allan Lichtman, profesor sejarah pada American University, mengomentari tingginya harapan rakyat.

“Namun kita semua waspada atas bahaya yang berasal dari itu, khususnya untuk pertama kali seorang Amerika-Afrika menjadi presiden.”