Arsip

Archive for the ‘Biologi’ Category

November 24, 1859: DARWIN’S ORIGIN OF SPECIES PUBLISHED

Desember 4, 2008 Tinggalkan komentar

On the Origin of Species by Means of Natural Selection, sebuah karya ilmiah yang mengejutkan karya Charles Darwin, diterbitkan di Inggris. Dalam teorinya, Darwin berpendapat bahwa organisme secara bertahap berevolusi melalui proses yang disebutnya sebagai ‘seleksi alam.’ Dalam seleksi alam, organisme-organisme dengan variasi genetik yang cocok dengan lingkungan mereka cenderung menghasilkan lebih banyak keturunan dibandingkan dengan organisme spesies yang sama yang kurang variasi, sehingga mempengaruhi genetik spesies bersangkutan secara keseluruhan.

Darwin, yang dipengaruhi karya naturalis asal Prancis Jean-Baptiste de Lamarck dan pakar ekonomi Inggris Thomas Malthus, memperoleh banyak bukti untuk mendukung teorinya lewat ekspedisi survey selama lima tahun dengan kapal HMS Beagle pada tahun 1830-an. Dengan mengunjungi sejumlah tempat berbeda di Kepulauan Galapagos dan Selandia Baru, Darwin memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang flora, fauna dan geologi di sana. Informasi ini, bersama dengan studinya mengenai variasi dan perkembangbiakan setelah kembali ke Inggris, sangat berharga dalam pengembangan teorinya mengenai evolusi organis.

Ide evolusi organis sebenarnya bukan hal yang baru. Hal sudah lebih dulu dibicarakan oleh beberapa pakar sebelum Charles, termasuk kakeknya, Erasmus Darwin, seorang ilmuwan kenamaan Inggris, dan Lamarck, yang pada awal abad ke-19 menggambar diagram evolusi pertama. Lamarck membuat diagram seperti anak tangga yang berawal dari organisme-organisme sel tunggal menjadi manusia. Meski demikian, Darwinlah yang memberikan penjelasan praktis tentang fenomena evolusi.

Darwin memformulasi teorinya tentang seleksi alam pada tahun 1844, tapi waktu itu masih khawatir membeberkan tesisnya kepada publik karena jelas-jelas bertentangan dengan kisah penciptaan manusia yang ada di Alkitab. Pada tahun 1858, di saat Darwin masih tutup mulut tentang penemuannya, seorang naturalis asal Inggris bernama Alfred Russel mempublikasikan sendiri sebuah tulisan yang berisi ringkasan teori Darwin. Darwin dan Wallace memberikan ceramah bersama di hadapan Linnean Society di London pada Juli 1858, dan Darwin mempersiapkan On the Origin of Species by Means of Natural Selection untuk dipublikasikan secara luas.

Saat diterbitkan pada 24 November 1859, Origin of Species langsung ludes dibeli banyak orang. Banyak ilmuwan yang menyambut teori Darwin yang dianggap telah memecahkan banyak teka-teki tentang ilmu biologi. Namun umat Kristen konservatif mengecam karya tersebut sebagai hasil pemikiran yang sesat. Kontroversi seputar ide-ide Darwin semakin melonjak dengan diterbitkannya The Descent of Man, and Selection in Relation to Sex pada tahun 1871, di mana ia menghadirkan bukti bahwa manusia berevolusi dari kera.

Saat Darwin meninggal dunia pada tahun 1882, teori evolusinya secara umum diterima di kalangan ilmuwan. Sebagai bentuk penghormatan atas karya ilmiahnya, ia dimakamkan di Westminster Abbey berdekatan dengan makam para raja, ratu dan sejumlah tokoh Inggris terkemuka lainnya. Meski dewasa ini perkembangan dalam genetika dan biologi molekuler berjalan pesat, namun gagasan-gagasan Darwin tetap tak terpisahkan dalam bidang tersebut.(*)

Iklan

Terungkap Rahasia di Balik Penyamaran Ulat

Februari 25, 2008 3 komentar

JAKARTA, SENIN – Jika dilihat sekilas, ulat yang biasa makan daun jeruk nipis ini kadang terlihat seperti kotoran burung dengan warna campuran hitam dan putih. Kadangkala ulat berwarna hijau sewarna dengan daun.

Ulat yang sebenarnya larva kupu-kupu Asia berekor cabang (swallowtail) ini memang memiliki teknik penyamaran yang variatif untuk menghindari ancaman predator. Larva muda menyamar seperti kotoran burung dan berubah menjadi hijau menjelang fase akhir sebelum menjadi kepompong.

Penelitian baru menunjukkan bahwa kemampuannya mengubah teknik penyamaran ini ditentukan hormon tertentu yang dihasilkan selama fase larva. Saat ulat mengakhiri fase penyamaran menyerupai kotoran burung, kadar hormon menurun sehingga tubuhnya berubah menjadi berwarna hijau.

“Hormon ini telah diketahui menentukan proses pembentukan kulit, metamorfosis, dan lainnya,” ujar Haruhito Fujiwara dari Universitas Tokyo seperti dilansir Nasional Geographic, Jumat (21/2). Namun, baru kali ini terkuat bahwa hormon tersebut juga mengatur perubahan warna tubuh selama fase larva.

Hormon tersebut juga mengatur tekstur tubuh ulat dan distribusi pigmen yang menghasilkan warna di tubuhnya untuk menyempurnakan penyamarannya. Temuan Fujiwara bersama Ryo Futahashi yang juga dari Universitas Tokyo ini dilaporkan dalma jurnal Science terbaru edisi Jumat (22/2).

sumber: kompas