Arsip

Archive for the ‘Sejarah’ Category

Yakinkan Adam Malik Agen CIA, Weiner Sebut Sejumlah Sandi

Desember 2, 2008 Tinggalkan komentar

Komentar

PENULIS buku ‘’Legacy of Ashes, The History of CIA’’ yang menyebutkan di dalamnya Adam Malik agen CIA (Dinas Rahasia Amerika), Tim Weiner, tetap bersikukuh bahwa apa yang diungkapkannya benar. Dia pun memberikan beberapa data pendukung seputar tudingannya bahwa Adam Malik memang terkait CIA. ‘’Seorang agen bisa saja tidak tahu bahwa dia sudah direkrut,’ ungkap Weiner yang dilansir Tempo ketika mewawancarainya lewat surat elektronik.

Wartawan senior The New York Times yang juga penerima penghargaan Pulitzer ini kemudian menyebutkan, sejumlah sandi tentang CIA yang terkait Adam Malik.

Ia menjelaskan, dalam bukunya terdapat kutipan langsung dari dokumen 2 Desember 1965. Isinya mengenai persetujuan Duta Besar Amerika Serikat Marshal Green untuk secara rahasia membayar Rp 50 juta kepada Adam Malik.

Pembayaran itu dimaksudkan untuk membiayai operasi Komite Aksi Pengganyangan Gestapu. “Duta Besar Green menyebut pembayaran ini sebagai ‘operasi tas hitam’,” kata Weiner. Ini, menurut dia, adalah sandi untuk operasi rahasia CIA yang digunakan di lingkungan Departemen Luar Negeri Amerika.
Weiner mengatakan dokumen-dokumen itu telah berbicara sendiri. “Dilihat dari situ saja jelas Amerika menganggap Adam Malik sebagai agen yang bekerja untuk tujuan operasi ini.”

Saat ditanya apakah ada bukti tertulis dari Adam Malik yang mengkonfirmasi permintaan itu, Wiener mengakui tak pernah melihat dokumen semacam itu. “Saya tidak pernah melihat dokumen pemerintah Amerika Serikat yang sudah dideklasifikasi soal itu.”

Namun, dia mengungkapkan ada dokumen lain yang menguatkan Adam Malik sebagai agen. Dokumen itu adalah telegram yang dikirim lebih awal, 4 November 1965. Bunyinya, “Adam Malik dan lainnya, yang kita tahu dari CAS dan laporan lain memiliki kontak dengan para pemimpin Angkatan Darat, mungkin disimpan untuk periode setelah Soekarno”. CAS adalah kode Departemen Luar Negeri untuk CIA. “Semua bukti ini menunjukkan bahwa Malik bekerja sebagai agen untuk Amerika Serikat, lewat CIA, pada 1965-1966.”

Selain dari dokumen, tuduhan Weiner didasarkan pada hasil wawancaranya dengan perwira CIA, Clyde McAvoy, pada 2005. Kepada Weiner, McAvoy mengklaim bertemu dengan Adam Malik pada 1964 dan merekrutnya sebagai agen CIA. “Dia pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut,” kata McAvoy, seperti dikutip Weiner di halaman 330 bukunya. Sebelumnya, baik pemerintah dan kalangan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, serta keluarga Adam Malik membantah tudingan Tim Weiner.(tmp)

Iklan

Janis: Adam Malik yang Manfaatkan CIA

November 27, 2008 Tinggalkan komentar

Jakarta, KOMENTAR
Pernyataan menarik dilontarkan politisi Partai Demokrasi Pembaruan (PDP), Roy BB Janis, terkait kontroversi Adam Malik yang dicap sebagai agen CIA.

Janis yang adalah pengagum Adam Malik ini menilai, bukan CIA yang memanfaatkan Adam Malik sebagai agennya, namun mantan wapres itulah yang mungkin memanfaatkan CIA.

“Kalau beliau (Adam Malik) jadi kolaborator CIA tidak mungkin, tapi kalau beliau memanfaatkan CIA mungkin iya,” ujar Roy dalam Dialog Kenegaraan di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Rabu (26/11). Hadir juga dalam dialog tersebut anak pertama Adam Malik, Otto Malik dan sejarahwan LIPI, Asvi Warman Adam.

Menurut Roy, hal itu dikarenakan idealisme Adam Malik sudah teruji sejak dirinya berusia belasan tahun. Terbukti, dengan masuknya Adam Malik ke Partindo.

“Partindo kan terkenal dengan nasionalis garis keras,” tegas politisi yang juga menulis buku ‘Wapres: Pendamping atau Pesaing’ ini. Sementara itu Asvi Warman Adam mengusulkan sebaiknya buku yang berpotensi menyebar fitnah dan melakukan pembunuhan karakter itu sebaiknya diblok di tiga alinea pada halaman 330. Pertama, alinea yang mengatakan Soekarno akan melakukan kudeta terhadap pemerintahannya sendiri. Kedua, alinea yang menuding Adam Malik sebagai agen CIA. Ketiga, alinea yang mengatakan mantan agen CIA, Clyde McAvoy, yang mengontrol Adam Malik.

Pada bagian lain, Peneliti LIPI Dewi Fortuna Anwar menilai, wajar jika Adam Malik terkait CIA pada era tahun 60-an. “Jangan lupa konteks tahun 60-an itu konteks perang dingin. Waktu itu, Amerika Serikat (AS) akan mendukung siapa pun yang antikomunis. Dan Adam Malik itu antikomunis tulen. Saya kira itu lumrah-lumrah saja,” ujar Dewi Fortuna Anwar.

Kendati demikian, Dewi mengingatkan agar masyarakat tidak serta merta mengatakan bahwa Adam Malik adalah agen CIA. “Tapi kalau seorang tokoh antikomunis Indonesia didukung AS, bukan berarti dia bekerja untuk AS. Dia bekerja untuk Indonesia,” jelasnya. Lalu bagaimana dengan buku Tim Weiner yang menyebutkan bahwa Adam Malik seorang agen? “Saya sama sekali tidak percaya,” tandas Dewi yang juga tergabung dalam The Habibie Center ini.

Senada juga disampaikan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso. “Isu tentang almarhum sebagai agen CIA, saya rasa tidak, karena dia seorang pejuang demi kepentingan negara dan bangsa. Jadi saya tidak percaya itu,” kata Jenderal Djoko Santoso di sela-sela jumpa pers evaluasi TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) di Mabes Angkatan Darat, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (26/11). Seperti diketahui, Tim Weiner dalam bukunya ‘Legacy of Ashes the History of CIA’ menyebutkan Adam Malik sebagai agen CIA. Bukti ini berdasarkan ribuan arsip CIA yang pernah dibuka terkait perang dingin melawan komunisme, termasuk di Indonesia.

Selain Adam Malik, di dalam buku itu Tim Weiner juga menulis sejumlah bantuan kepada ABRI (sekarang TNI), khususnya AD untuk melawan kekuatan komunisme. Dana itu diberikan dengan dalih untuk membeli berbagai peralatan kesehatan dan obat-obatan.

Muladi : Adam Malik Bukan Agen CIA

November 25, 2008 Tinggalkan komentar

Jakarta (tvOne)

Gubernur Lemhanas, Muladi juga berpendapat mantan Wakil Presiden (alm) Adam Malik, bukanlah agen Dinas Rahasia Amerika Serikat (CIA) sebagaimana yang ditulis dalam buku “Membongkar Kegagalan CIA”.

“Menurut saya, dia bukan agen AS,” kata Muladi di Jakarta, hari ini, seusai seminar bertajuk “Pemilu 2009: Konsolidasi Demokrasi dan Transformasi Kepemimpinan Nasional” yang diselenggarakan dalam rangka HUT ke-9 The Habibie Center (THC).

Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan tidak percaya dan tidak mungkin Adam Malik menjadi agen CIA seperti tertulis dalam buku karya Tim Weiner yang diterbitkan The New York Times tersebut.

Muladi yang juga Ketua Dewan Pengurus THC mengatakan, Adam Malik ketika itu memang merupakan salah satu orang yang menentang keras keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menurut dia, bisa saja pejabat AS ketika itu melakukan dialog dengan Adam Malik lalu mengambil kesimpulan sendiri bahwa Adam Malik dianggap sudah bisa dipengaruhi pikirannya.

“Sehingga seolah-olah dianggap sebagai agen informal, padahal tidak begitu. Substansinya kan Adam Malik dianggap berpikiran sama (dengan AS) untuk menghadapi PKI ketika itu,” katanya.

Muladi menambahkan, tuduhan bahwa Adam Malik adalah agen CIA harus dibuktikan.

“Saya yakin itu akan sulit membuktikannya, apalagi Pak Adam Malik sudah meninggal dunia. Anggap saja kasus itu diskursus yang tidak bisa dibuktikan,” katanya.

Ketika ditanya apakah pemerintah perlu meminta klarifikasi resmi kepada pihak AS, Muladi mengatakan hal itu bisa saja dilakukan, namun tidak perlu terlalu agresif.

Mengenai buku “Membongkar Kegagalan CIA” karya Tim Weiner yang diterbitkan The New York Times, Muladi mengatakan pemerintah tidak mungkin melarang beredarnya buku tersebut karena menyangkut kebebasan berekspresi.

“Dilarang pun orang bisa cari di luar negeri atau di internet,” katanya.

Habibie enggan berkomentar

Sementara itu, di tempat yang sama, mantan Presiden BJ Habibie menolak berkomentar mengenai masalah tersebut.

“Saya tidak bisa menanggapi dan tidak akan menanggapi. Masa bodoh wartawan mana, di AS atau Kutub Utara. Saya hanya pikirkan masyarakat sekitar saya,” tegasnya.

Habibie juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin menilai buku itu salah atau tidak.

“Tetapi saya tidak ingin membenarkan kalau kita selalu berorientasi pada komentar orang yang bukan masyarakat Indonesia. Saya ingin mendahulukan komentar masyarakat kita, bukan keterangan orang lain,” katanya.

McAvoy: Adam Malik Agen CIA

November 24, 2008 Tinggalkan komentar

Jakarta, KOMENTAR
Petinggi CIA (Dinas Rahasia AS), Clyde McAvoy dalam wawancaranya dengan wartawan The New York Times, Tim Weiner menyebutkan, bahwa Pahlawan Nasional yang juga mantan Wapres RI, Adam Malik sebagai agen CIA. Hal ini dimuat dalam buku Legacy of Ashes, The History of CIA (Membongkar Kegagalan CIA).

Dalam buku yang ditulis peraih Penghargaan Pulitzer, Tim Lerner tersebut, McAvoy mengaku menemui Adam Malik pada tahun 1964. Tim menuliskan bahwa Adam Malik direkrut dan dikontrol oleh petinggi CIA, McAvoy. Hanya saja pengungkapan ini mengundang keraguan sejumlah kalangan di Indonesia.

Malah Sejarawan Asvi Warman Adam menilai, pernyataan dalam buku itu fitnah. Menurut Asvi pernyataan McAvoy itu wajib diragukan, sebab selain tidak didukung oleh dokumen yang kuat dan saksi, Adam Malik juga telah meninggal. “Jadi ini hanya pernyataan sepihak pada seseorang yang sudah tidak mungkin memberikan konfirmasi atau jawaban,” ujar Asvi, Minggu (23/11). Kemungkinan besar, McAvoy menyatakan hal ini hanya untuk kepentingan mengangkat nama baiknya saja. “Akan terdengar luar biasa kan kalau seorang petinggi negara lain pernah dia jadikan agen. Mungkin dia hanya cari nama saja”.

Asvi juga mengkritik tulisan dalam buku yang mengkaitkan sumbangan CIA sebesar US$ 10 ribu pada Indonesia untuk memerangi komunis dengan keterlibatan Adam Malik dalam CIA. “Amerika Serikat berkepentingan dengan pemberantasan komunis, mereka bukan hanya menyumbang uang tapi juga senjata,” ujarnya.

Sependapat dengan Asvi, pengamat intelijen Wawan Purwanto menilai peryataan McAvoy sangat tidak akurat. Perekrutan agen intelijen, kata Wawan bukan hal yang sembarangan. Tindakan itu akan dilakukan dengan sangat rahasia disertai dengan dokumen rahasia yang pasti ada dalam dokumentasi CIA. “Paling tidak ada surat tugas atau surat keputusan yang jelas tentang kebaradaan agen tersebut,” ujarnya.

Adam Malik secara personal, kata Asvi memang pribadi yang luwes dan mudah bergaul. “Dia mantan wartawan dan juga Duta Besar RI untuk Uni Soviet, jadi kalau pengetahuan yang bersifat umum dia pasti tahu banyak,” ujarnya. Terkait dengan gerakan 30 September PKI, lanjut Asvi, Adam juga memberikan keterangan dalam posisinya selaku pejabat negara atau eksekutif. “Sepertinya tak ada dokumen negara yang di-serahkan ke pihak lain, sebab kalau kerja intelijen berarti dia pasti menyerahkan dokumen rahasia negara dong”.

Sehingga tulisan dalam buku tersebut, kata Asvi harus diluruskan. Keluarga dan pemerintah harus membantah tulisan tersebut, sebab Adam adalah bapak negara yang harus dijaga nama baiknya. “Mungkin pemerintah melalui Departemen Sosial dan Menteri Sekretaris Negara harus membantah, kalau perlu menanyakan kepada penulisnya apa bukti, dokumen atau saksi atas pernyataan yang dibuatnya,” ujar Asvi. Penarikan buku dari peredaran, kata Asvi juga bisa jadi salah satu alternatif untuk menghentikan tuduhan dan fitnah pada Adam Malik ini.

 
Wawan berpandangan lain soal penarikan buku, menurutnya itu tak perlu dilakukan. “Kalau dilakukan akan memperlaris buku, sebab orang jadi bertanya-tanya apa isi buku itu,” ujarnya. Klarifikasi dari keluarga dan pemerintah menjadi alternatif solusi yang paling tepat. Menurutnya isu harus dibantah dengan isu. “Keluarga harus menerbitkan buku putih atau paling tidak konferensi pers untuk membantah tuduhan ini”

Technorati Tags: ,,,,
Kategori:Sejarah

Harta Karun VOC Ditemukan di Subang

November 19, 2008 1 komentar

Subang-Harian Komentar
INI barang kali sensasi di saat krisis global. Sebuah kapal karam ditemukan di perairan Subang, Jawa Barat. Berpeti-peti emas dan uang ada di kapal yang diduga peninggalan zaman kolonial itu. Nilainya harta karunnya triliunan rupiah!

“Itu bisa triliunan nilainya. Ini uang besar,” kata Taryono, salah satu tokoh nelayan setempat yang merupakan bos nelayan yang menemukan kapal harta karun tersebut, seperti dilansir detik.com, Selasa (18/11).

Wacas, anak buah Taryono, menemukan langsung kapal tersebut pada 18 Agustus lalu. Sebagai buktinya, Wacas mengambil 8 uang koin yang diduga berasal dari tembaga. “Uang koin itu sepertinya dari tembaga. Tulisannya macam-macam, tapi nggak terlalu jelas. Salah satunya ada tulisan Indiabatavia dan tahun 1826,” kata Taryono.

Atas penemuan tersebut, Wacas cs, telah mendapat surat pernyataan sebagai penemu pertama. Namun kini, Wacas cs belum bisa melakukan survei lanjutan karena belum mendapat izin dari pemerintah. Kapal harta karun itu pun hingga kini masih berada di dasar laut. Wacas menjelaskan, kedalaman kapal tersebut sekitar 7-18 depa. 1 Depa berjarak 1,5 meter. Keliling kapal tersebut berjarak 18 depa. Wacas dan nelayan lainnya menemukan koin itu di perairan Subang Barat. Dirinya saat itu berniat mencari kerang mutiara. “Sebelum puasa tanggal 18 Agustus pada siang hari,” jelasnya.

ROOSWIJK
Penemuan kapal berisi harta karun di Subang, mengingatkan kembali pada penemuan kapal VOC De Rooswijk. De Rooswijk tenggelam dalam pelayaran menuju Indonesia. De Rooswijk membawa harta karun yang tidak ternilai harganya. Jika benar, penemuan kapal di Subang itu tak kalah nilainya dengan De Rooswijk.

Bangkai kapal De Rooswijk ditemukan penyelam amatir pada 2005. De Rooswijk ditemukan dalam kondisi tertutup lumpur dan pasir di dasar laut di dekat Goodwin Sands.

De Rooswijk berlayar menuju Indonesia untuk kedua kalinya. Namun di perairan yang masuk teritorial Inggris itu kapal De Rooswijk diamuk badai, hingga tenggelam, 9 Januari 1740. De Rooswijk mengangkut uang logam emas, perak batangan bercap VOC, keramik dan peralatan militer.
Senin, 12 Februari 2007, harta karun dari kapal VOC De Rooswijk diserahkan kembali kepada pemerintah Belanda. Dua menteri demisioner Belanda, Menteri Keuangan Gerrit Zalm dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Sains Maria van der Hoeven, menerima harta karun VOC tersebut di Museum Maritim, Vlissingen.

Harta karun yang diserahkan, ya itu tadi, terdiri dari uang logam emas, perak batangan bercap VOC, keramik, dan peralatan militer yang kini usianya memasuki 3 abad. “Ini semua merupakan benda-benda luar biasa. Mereka merupakan bagian dari puzzel sejarah kita,” kata Menteri Van der Hoeven, yang menerima harta VOC tersebut dari pe-nyelam Inggris, Rex Cowan, penyelam profesional yang juga seorang pengacara.

Pengambilan harta karun VOC tersebut, sempat tertunda akibat perbedaan sikap antara Menteri Keuangan Zalm dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Sains van der Hoeven. Van der Hoeven berpendapat bahwa harta karun itu harus dibiarkan terkubur bersama kapal De Rooswijk. Pengangkatan harta karun VOC itu menurut hemat dia melanggar UU tentang cagar budaya. Sebaliknya, Zalm mengkhawatirkan harta karun VOC itu akan keduluan pihak lain dan dikuras habis. Tanpa menunggu persetujuan Van der Hoeven, Zalm menyewa penyelam profesional Rex Cowan dkk.
Sementara itu aturan main terkait pengambilan harta karun di laut seperti kasus De Rooswijk menyebutkan, pihak penemu, penguasa teritorial tempat penemuan, dan negara pemilik kapal VOC masing-masing mendapat 1/3 bagian.

Pemerintah Belanda sudah memastikan bahwa bagian untuknya akan disimpan di berbagai museum, agar bisa dinikmati oleh publik. Namun diskusi hangat merebak karena harta VOC itu sebagian beredar dan sudah terjual melalui internet. Diduga hal itu merupakan tindakan dari pihak penemu yang bermotivasi mendapatkan uang. Mereka memang tidak wajib menjual bagiannya kepada museum. Para ahli di Belanda mendesak agar UU tentang cagar budaya segera diubah untuk mencegah hal seperti itu terjadi dan lebih memberi perlindungan pada benda-benda bersejarah warisan kebudayaan.

Ditemukan Naskah Kuno Letusan Krakatau 1883

September 1, 2008 Tinggalkan komentar

JAKARTA, MINGGU– Jauh sebelum peneliti asing menulis tentang meletusnya Gunung Krakatau (Krakatoa, Carcata) tanggal 26, 27, dan 28 Agustus 1883, seorang pribumi telah menuliskan kesaksiaan yang amat langka dan menarik, tiga bulan pascameletusnya Krakatau, melalui Syair Lampung Karam. Peneliti dan ahli filologi dari Leiden University, Belanda, Suryadi mengatakan hal itu kepada Kompas di Padang, Sumatera Barat, dan melalui surat elektroniknya dari Belanda, Minggu (31/8).

“Kajian-kajian ilmiah dan bibiliografi mengenai Krakatau hampir-hampir luput mencantumkan satu-satunya sumber pribumi tertulis, yang mencatat kesaksian mengenai letusan Krakatau di tahun 1883 itu. Dua tahun penelitian, saya menemukan satu-satunya kesaksian pribumi dalam bentuk tertulis, ” katanya. Sebelum meletus tanggal 26, 27, dan 28 Agustus 1883, gunung Krakatau telah batuk-batuk sejak 20 Mei 1883. Letusan dahsyat Krakatau menimbulkan awan panas setinggi 70 km dan tsunami setinggi 40 meter dan menewaskan sekitar 36.000 orang.

Sebelum meletus tahun 1883, Gunung Krakatau telah pernah meletus sekitar tahun 1680/1. Letusan itu memunculkan tiga pulau yang saling berdekatan; Pulau Sertung, Pulau Rakata Kecil, dan Pulau Rakata. Suryadi menjelaskan, selama ini yang menjadi bacaan tentang letusan Gunung Krakatau adalah laporan penelitian lengkap GJ Symons dkk, The Eruption of Krakatoa and Subsequent Phenomena: Report of the Krakatoa Committee of the Royal Society (London, 1883).

Sedangkan sumber tertulis pribumi terbit di Singapura dalam bentuk cetak batu (litography) tahun 1883/1884. Kolofonnya mencatat 1301 H (November 1883-Oktober 1884). Edisi pertama ini berjudul Syair Negeri Lampung yang Dinaiki oleh Air dan Hujan Abu (42 halaman). ” Tak lama kemudian muncul edisi kedua syair ini dengan judul Inilah Syair Lampung Dinaiki Air Laut (42 halaman). Edisi kedua ini juga diterbitkan di Singapura pada 2 Safar 1302 H (21 November 1884), ” paparnya.

Edisi ketiga berjudul Syair Lampung dan Anyer dan Tanjung Karang Naik Air Laut (49 halaman), yang diterbitkan oleh Haji Said. Edisi ketiga ini juga diterbitkan di Singapura, bertarikh 27 Rabiulawal 1301 H (3 Januari 1886). Dalam beberapa iklan, edisi ketiga ini disebut Syair Negeri Anyer Tenggelam. ” Edisi keempat syair ini, edisi terakhir sejauh yang saya ketahui, berjudul Inilah Syair Lampung Karam Adanya (36 halaman). Edisi keempat ini juga diterbitkan di Singapura, bertarikh 10 Safat 1306 H (16 Oktober 1888),” ungkap Suryadi, yang puluhan hasil penelitiannya telah dimuat di berbagai jurnal internasional.

Menurut Suryadi, khusus teks keempat edisi syair itu ditulis dalam bahasa Melayu dan memakai aksara ArabMelayu (Jawi). Dari perbandingan teks yang ia lakukan, terdapat variasi yang cukup signifikan antara masing-masing edisi. Ini mengindikasikan pengaruh kelisanan yang masih kuat dalam tradisi keberaksaraan yang mulai tumbuh di Nusantara pada paroh kedua abad ke-19. Suryadi yang berhasil mengidentifikasi tempat penyimpanan eksemplar seluruh edisi Syair Lampung Karam yang masih ada di dunia sampai saat ini menyebutkan, Syair Lampung Karam ditulis Muhammad Saleh.

Ia mengaku menulis syair itu di Kampung Bangkahulu (kemudian bernama Bencoolen Street) di Singapura. ” Muhammad Saleh mengaku berada di Tanjung Karang ketika letusan Krakatau terjadi dan menyaksikan akibat bencana alam yang hebat itu dengan mata kepalanya sendiri. Sangat mungkin si penulis syair itu adalah seorang korban letusan Krakatau yang pergi mengungsi ke Singapura, dan membawa kenangan menakutkan tentang bencana alam yang mahadahsyat itu,” katanya.

Bisa direvitalisasi

Suryadi berpendapat, Syair Lampung Karam dapat dikategorikan sebagai syair kewartawanan, karena lebih kuat menonjolkan nuansa jurnalistik. Dalam Syair Lampung Karam yang panjangnya 38 halaman dan 374 bait itu, Muhammad Saleh secara dramatis menggambarkan bencana hebat yang menyusul letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Ia menceritakan kehancuran desa-desa dan kematian massal akibat letusan itu. Daerah-daerah seperti Bumi, Kitambang, Talang, Kupang, Lampasing, Umbulbatu, Benawang, Badak, Limau, Lutung, Gunung Basa, Gunung Sari, Minanga, Tanjung, Kampung Teba, Kampung Menengah, Kuala, Rajabasa, Tanjung Karang, juga Pulau Sebesi, Sebuku, dan Merak luluh lantak dilanda tsunami, lumpur, dan hujan abu dan batu.

Pengarang menceritakan, betapa dalam keadaan yang memilukan dan kacau balau itu orang masih mau saling tolong menolong satu sama lain. Namun, tak sedikit pula yang mengambil kesempatan untuk memperkaya diri sendiri dengan mengambil harta benda dan uang orang lain yang ditimpa musibah. Selain menelusuri edisi-edisi terbitan Syair Lampung Karam yang masih tersisa di dunia sampai sekarang, penelitian Suryadi juga menyajikan transliterasi (alih aksara) teks syair ini dalam aksara latin.

“Saya berharap Syair Lampung Karam dapat dibaca oleh pembaca masa kini yang tidak bisa lagi membaca aksara Arab-Melayu (Jawi). Lebih jauh, saya ingin juga membandingkan pandangan penulis pribumi (satu-satunya itu) dengan penulis asing (Belanda/Eropa) terhadap letusan Gunung Krakatau,” jelas Suryadi.

Peneliti dan dosen Leiden University ini menambahkan, teks syair ini bisa direvitalisasi untuk berbagai kepentingan, misalnya di bidang akademik, budaya, dan pariwisata. Salah satunya adalah kemungkinan untuk mengemaskinikan teks Syair Lampung Karam itu dalam rangka agenda tahunan Festival Krakatau. Juga dapat direvitalisasi dan diperkenalkan untuk memperkaya dimensi kesejarahan dan penggalian khasanah budaya dan sastra daerah Lampung.

sumber: Kompas Online